Latest News

Wednesday, 17 June 2020

SUDAHLAH ...


SUDAHLAH ...

Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Di awal Juni 2020 ini, duniaku perlahan berputar menuju ke barat. Tempat sang senja melabuhkan setiap mimpi dan harapan. Angin di bulan ini masih seperti dulu. Bergerak sesukanya dan apa adanya. Namun tidak untuk hatiku. Langkahku seakan berhenti di titik zero. Hampa dan tak berarti. Tiba-tiba air mataku jatuh. Membayangkan semua yang bakal terjadi. Dalam diamku, ada nama Tuhan yang kusebut dan kupanggil setengah merintih. Apakah mimpi-mimpiku harus berakhir di titik ini? Ke manakah bara api yang pernah bernyala dan membakar jantung semesta? Apakah sang Cakrawala harus kehilangan cahaya dan daya pikat untuk merawat optimisme anak negeri, generasi emas punyanya NTT?

Di seputaran pemancar, cabang Tilong-Kabupaten Kupang saya bernyawa. Memeluk erat hati dan asa dari dua sosok perempuan. Istriku Mathilda dan dan putriku Charista. Sebidang tanah berukuran 25 X 50 meter telah menjadi saksi atas seluruh hidup dam mimpi-mimpiku. Ada beberapa jenis bunga, papaya california dan terung ungu yang harus selalu disiram. Sementara itu, di sudut barat belakang rumah sebuah kandang ayam berdiri tidak sempurna. Tiga ekor pejantan di dalamnya setia menjalankan peran ganda sebagai pejantan untuk lima ekor betina lainnya sekaligus bertugas membangunkanku di pagi hari. Saya sudah terbiasa menyisakan sebagian makananku untuk si black, anjing mungil kesayangan putriku Charista. Jika malam telah tiba saat putriku terlelap, saya selalu setiap menghabiskan waktu mendengar alunan instrumen alam sambil membaca buku dari macam jenis judul. Begitulah caraku membunuh bosan dan jenuh yang perlahan menggerogoti hati dan pikiranku.

Apakah seluruh hidupku berakhir di sebidang tanah berkuran 25 x 50 meter ini? Haruskah mimpi-mimpiku berakhir pada tagar, stay at home? Ada cerita dalam humor jika covid 19 ini bukanlah sejenis virus tetapi hanyalah sejenis bakteri. Caranya sederhana. Diakrabi saja. Tidak harus diperangi. Sudahlah. Ada rumor yang beredar kalau virus (bakteri) corona itu memang sengaja diciptakan. Terserahlah. Mungkin karena alasan itu, kita harus bersiap menuju fase new normal (kenormalan baru). Sebuah situasi dan kondisi yang masih harus dikendalikan dan diawasi. Diijinkan untuk keluar rumah dan beraktifitas seperti sebelumnya asal tetap mematuhi arahan dari pemerintah seperti mengunakan masker, cuci tangan, menjaga jarak dan mengantongi hasil rapit test/swab test untuk mereka yang melakukan perjalanan jauh. Pihak Bandar udara dan PELNI tentunya tidak mau ambil resiko. Calon penumpang adalah mereka yang dipastikan sehat secara medis.

Sahabat baikku memberi kabar. Ia memintaku untuk melengkapi berkas seperti profil diri, praktik baik dalam narasi, foto dan video dan beberapa bukti publikasi media terhadap kegiatan yang dijalankan serta praktik baik yang telah dilakukan selama masa pandemi corona. Ditanya, untuk apakah semua berkas dan dokumen itu? “Kamu dinilai pantas menerima “Apresiasi Prestasi Pancasila Tahun 2020” dari Badan Pembina Ideologi Pancasila Republik Indonesia. Jujur, saya ragu. Apakah saya memang pantas untuk menerimanya. Ataukah ada yang lebih layak untuk penghargaan sebesar itu? Lagi pula, secara pribadi saya belum merasa berbuat banyak. Bahwa ada pengakuan dari pihak lain termasuk beberapa media lokal dan nasional tentang seluruh sepak terjangku di bidang literasi, tetapi itu tidak berarti saya pantas menerima apresiasi itu. Untuk memenuhi rasa hormat dan terima kasih pada sahabat baikku, saya meng-iyakan saja tawarannya. Apakah saya harus melengkapi dokumen yang harus dilengkapi, justru di situ soalnya. Saya belum berniat melengkapi dan mengirim dokumen yang diminta itu walaupun bisa dilengkapi.

Saat ini, saya ingin tenang. Menikmati segala situasi termasuk rasa bosan dan jenuh yang perlahan menggerogoti jiwa. Jika waktunya tiba, saya ingin berlari mengejar waktu yang tersisa. Ada beberapa alur cerita perjuangan yang sudah kurancang. Mungkin saya harus menata lagi seluruh mimpi-mimpiku dan mengejarnya dari sisi yang lain. Benar. Saya harus berani membanting stir dan mencari titik temu demi mimpi-mimpiku itu. Pandemi covid 19 bukanlah alasanku untuk selalu berjalan di tempat. Tidak. Covid 19 mengajakku untuk berlari lebih cepat. Ada kreatifitas dan inovasi yang harus dikristalkan dalam cara yang lebih konkrit dan rasional.
………………………………………………………….
Charista, putriku memberi kabar. Katanya, ada dua butir telur di kandang ayam. Ia memintaku mengambil sebutir untuknya. Di usianya yang beranjak empat tahun, ada banyak hal yang membuatnya kagum dan heran dalam bingung. Ia selalu bertanya dan sesekali memaksaku untuk menjawab sesuai yang dipikirkannya. Tidak terasa. Saya sedang bertindak sebagai ayah, guru dan sahabat untuknya. Ia selalu menjerit jika gerbang pondokku itu berbunyi dan melihatku pergi tanpa memberitahunya. Adakah ia mengerti tentang situasi yang kualami saat ini? Saya pastikan tidak. Bukan karena usianya masih kecil tetapi memang karena situasi ini sulit dimengerti temasuk oleh orang dewasa sepertiku.

Handphon-ku berdering. Saudara sulungku menelpon. Katanya, bapa dan mama dari kampung ingin berbicara penting. Hatiku bergetar. Tidak biasanya mereka berbicara hal-hal penting melalui telphon. Pasti ada informasi atau kejadian penting untuk saya ketahui. Mama langsung menanyakan keadaanku. Katanya, ia bermimpi saya sakit. “Dua malam terakhir, saya sulit tidur memikirkanmu. Saya resah dan gelisah. Syukurlah, kamu baik-baik saja. Sampaikan salam untuk anak Thilde dan cucuku. Kami baru habis panen. Saya menyesal tidak bisa mengirim sedikit beras untuk kalian. Yah … sekiranya saja transportasi lancar, saya pasti saya sudah mengirim beras merah kesukaanmu itu”. Kini, gantian bapa yang berbicara. Di usia 75 tahun ini, ia banyak mengeluh. Bukan tentang situasi pandemi covid 19 ini atau kurangnya hasil panen tahun ini. Ia mengeluh tentang pinggangnya yang selalu nyeri dan membuatnya tidak bekerja maksimal seperti dulu. Begitulah bapa. Selalu mengakhiri pembicaraan dalam nada memohon dan memaksa untuknya mengendong cucu lagi.

Warna senja di awal Juni 2020 ini menjadi beragam dan membuatku kehilangan kata dan nada. Ada bibit bunga matahari yang sudah tumbuh dan harus segera dipindahkan untuk ditanam di sudut halaman sisi kanan pondokku. Thilde istriku bercerita tentang teman gurunya yang resah. Anehnya, bukan tentang honor atau tunjangan sertifikasi yang belum terbayar. Bukan juga tentang sulitnya mencari rumah atau mendapatkan siswa untuk mengikuti ujian di rumah. Mereka resah tentang Lippo Plasa dan Hipermart yang sedikit dikunjungi orang. Ada barang yang didiskon besar-besaran dan ia ingin membelinya. Tetapi sayang, uang tidak cukup. Ada kebutuhan dalam keluarga yang jauh lebih penting. Untuk pertama kalinya di beberapa minggu ini, saya tersenyum lalu tertawa.

Beberapa orang guru juga menelphon dan bercerita lalu memohon. Memintaku untuk menerbitkan jurnal untuknya agar bisa diusul untuk kenaikan pangkat. Ia tertawa dalam ragu saat saya memberikan alamat email dan memintanya untuk segera mengirimkan file tulisannya. Kami tertawa bersama, ketika mengetahui kalau ia memintaku untuk menulis dan menerbitkan jurnal itu untuknya. Di akhir obrolan, bersama kami berharap agar covid 19 ini segera berakhir. Kami ingin seperti sebelumnya. Belajar bersama khususnya dalam hal menulis karya ilmiah.

Sudahlah. Biarlah semuanya mengalir. Hidup adalah seni untuk meramu dan menikmati termasuk beragam situasi dan kenyataan yang sulit dimengerti dan diprediksi. Ada senyum dan tawa yang tidak seharusnya hilang begitu saja. Sebidang tanah berukuran sedang ini, terasa cukup untuk sesaat merebahkan seluruh hidup dan mimpi-mimpiku. Bersabar dan berharap, pandemi covid 19 ini segera berakhir. Selamat memasuki masa kenormalan baru. Tetaplah menjaga hati, pikiran dan sikap, sebab situasi hidup kita belum sepenuhnya normal.

Salam Cakrawala, salam Literasi …


comments

No comments:

Post a comment