Latest News

Monday, 1 June 2020

MUSIK MERAWAT PANCASILA

Marianus Seong Ndewi, S.Pd., M.M
Guru Seni Budaya SMAN 4 Kupang
Aktif di Komunitas Secangkir Kopi Kupang

Pancasila rumah kita/ rumah untuk kita semua
Nilai dasar Indonesia/ rumah kita selamanya…
Untuk semua puji namaNya/ untuk semua cinta sesama
Untuk semua warna menyatu/ untuk semua bersambung rasa
Untuk semua saling membagi/ pada setiap insan, sama dapat, sama rasa
Oh Indonesiaku… (Franky Sahilatua)

Salam sejahtera. Salam jumpa. Beta Indonesia, Beta Pancasila!

Cerita, kisah, dan kasih tentang Pancasila yang turut ‘dirawat’ di lingkungan pendidikan SMA N 4 Kota Kupang akan saya bagikan dalam tulisan ini. Sekolah Kami yang sudah, sedang, dan akan terus merawat nilai-nilai luhur hasil perjuangan para pahlawan, kusuma kebanggaan bangsa, hanya terus belajar dan berharap agar warisan nilai-nilai tentang Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musawarah, dan tentang Keadilan itu tetap lestari, abadi, sampai kekal.

Intisari sederhana yang ditanamkan di lingkungan sekolah  adalah menjiwai Pancasila sebagai sebuah Ideologi. Artinya, memaknai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai sebuah gagasan, motivasi, keyakinan, dan harapan untuk mendatangkan nilai kebaikan (Adinegoro, 1947: 369). Dr. Alfian berpendapat bahwa ideologi adalah suatu pandangan atau sistem nilai yang menyeluruh dan mendalam tentang bagaimanacara yang sebaiknya, yaitu secara moral dianggap benar dan adil mengatur tingkah laku bersama dalam berbagai segi kehidupan duniawi (Alfian, 1989: 6).

Tentang merawat Pancasila bukanlah perkara yang mudah. Apalagi berhadapan dengan lingkungan pendidikan para remaja era milenial, yang seakan-akan apatis terhadap kandungan nilai Pancasila, generasi yang serba instan, generasi yang suka cuek dan masa bodoh, generasi yang hidup di lingkungan masyarakat yang cenderung anarkhi, menjadi tantangan terbesar. Akankah itu sekaligus peluang bagi kita para pendidik?.

Tantangan, karena memang sudah jamannya penuh tantangan, era ditantang dan menantang. Menjadi peluang, apabila tantangan-tantangan itu mampu diolah menjadi sesuatu pelajaran berharga, yang nantinya sebagai bekal dan akan menghidupi masa depan para peserta didik.

Mata pelajaran Seni Budaya (Musik, Tari, Rupa, Sastra, Drama/teater) turut merawat ‘kesehatan’ nilai-nilai Pancasila di SMA N 4 kupang. Seni berusaha dijadikan sebagai levitasi atau daya hidup; yang oleh Viktor Schauberger (Austria) menegaskan sebagai: 1) daya yang mempercepat dan mengangkat, 2) daya yang menghidupi kehidupan, 3) daya yang menyebabkan pertumbuhan (perkembangan).

Saya tidak akan membagikan tulisan teoritis yang ruwet, tetapi kisah-kasih ini adalah pengalaman nyata yang sudah dan sedang kami jalani di SMA N 4 Kota Kupang, yang harapanya mampu menginspirasi para pendidik di seluruh pelosok tanah air. Mari sama-sama menyelami makna dan kebaikan Pancasila yang mesti terus dirawat; karena sesungguhnya, nilai-nilai Pancasila telah merawat serta mengobati Indonesia sebagai bangsa yang besar, kokoh, dan kuat. Pertanyaan sederhananya adalah: apakah bangsa Indonesia turut merawat dan melestarikan nilai-nilai Pancasila itu dalam kehidupan kesehariannya? Ataukah Pancasila hanya dijadikan pajangan saja di tiap-tiap ruang kelas, kantor, instansi, atau tempat penting lainnya di bangsa ini? Kisah-kasih di bawah ini bisa dijadikan motivasi!

Angklung Toleransi

Tepatnya tahun 2015, ada hajatan Halal Bihalal, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, sekolah kami selalu merayakannya. Walaupun dirayakan dalam acara yang sederhana di tingkat sekolah, namun kami menjalaninya dengan suka cita, sebagai sesama anak bangsa. Seperti biasa, peranan guru Seni pasti selalu dibutuhkan pada tiap hajatan penting di sekolah, baik upacara hari besar nasional, ataupun upacara keagamaan seperti ini.

Bapak kepala sekolah baru selesai membeli seperangkat Angklung dari Surabaya. Walaupun itu bukan alat musik tradisional Nusa Tenggara Timur, namun bagi kami itu wajib dipelajari. Sepintas saja ide saya muncul untuk mementaskan Angklung pada hajatan Halal Bihalal. Karena sekolah kami terdiri dari anak-anak lintas agama, saya mencoba menyuguhkan sesuatu yang mungkin bisa menginspirasi mereka; Angklung Toleransi.

Saya menyiapkan materi pementasan dengan mengolaborasl sebuah lagu Kristiani: Tuhanlah Gembalaku, menggabungkannya dengan lagu bernuansa Islami; Surgamu (Ungu). Aransemen musik didahului oleh intro pada Angklung, diteruskan dengan lantunan potongan Adzan oleh seorang siswa Muslim. Dilanjutkan bagian pertama dinyanyikan bait pertama oleh anak-anak (paduan suara) Muslim (diiringi Angklung) lagu Tuhanlah Gembalaku: Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku, Ia membaringkan daku, di padang yang berumput hijau. … Setelah bagian ini sebenarnya langsung masuk refrain (reff). Tetapi kami menggantikannya dengan menyanyikan bait pertama lagu SurgaMu, oleh anak-anak Kristen dan Katolik: Segala yang ada dalam hidupku, ku sadari semua milikmu, ku hanya hambaMu yang berlumur dosa. Tunjukkan aku jalan lurusmu, untuk menggapai surgamu, terangiku dalam setiap langkah hidupku. Karena, Ku tahu, hanya Kau Tuhanku… setelah bagian ini sebenarnya langsung refrain Allahu Akbar dst… kami menggantikannya dengan sama-sama (Muslim dan Kristen) menyanyikan refrain lagu Tuhanlah Gembalaku: Ia membimbingku, ke air yang tenang, ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntunku ke jalan yang benar, oleh karena namaNya. Sekalipun aku berjalan, dalam lembah kekelaman. Setelah bagian ini dilanjutkan bagian introlude musik angklung, setelahnya dilanjutkan dengan sama-sama (Muslim dan Kristen) menyanyikan refrain SurgaMu: Allahu Akbar, dst (hingga selesai).

Seketika itu saya merasa kaget karena suasana aula sekolah menjadi gaduh. Saya pikir pasti ada yang tidak beres atau tidak setuju tentang materi pementasan kami. Ternyata ada beberapa bapak dan ibu guru, serta anak-anak sekolah yang menangis karena menyaksikan penggalan momen ini. Mereka menangis tersedu-sedu. Entah apa yang mereka rasakan dan mereka pikirkan. Harapan saya mereka bisa mengambil hikmah atau pesan dibalik sajian musik ini.

Selesai pementasan, beberapa guru menghampiri dan menyalami saya sembari berterima kasih. Mereka merasa tersentuh atas pesan yang tersirat dari sajian musik itu. Saya ikut terharu. Anak-anak pun terharu. Semacam ada kepuasan batin tak terhingga ketika mendengar apresiasi dari para ‘penonton’. Itulah tujuan utamanya. Pesan toleransi dan rekonsiliasi dari sajian musik, mampu memberi levitasi dan semangat hidup bagi para penikmatnya. Siswa-siswi saya, Muslim dan Kristen, mereka juga merasa puas, dan kami mempunyai tekad yang sama untuk melestarikan nilai Toleransi dalam keberagaman, sebagai bagian dari cara merawat pancasila, dan terutama mengambil hikmah dari setiap sajian seni padfa umumnya di sekolah.

Hingga hari ini, jika ada hajatan Halal Bihalal, guru-guru dan anak-anak Kristen dilibatkan dalam kepanitiaan ataupun acara. Demikianpun sebaliknya. Jika ada hajatan Natalan agama Kristen, maka guru san siswa Muslim dilibatkan dalam kepanitiaan dan keseluruhan acara. Semisal mengisi Kasidah, Nasyid, dan lain sebagainya.
           
Paduan Suara, Pa(n)duan Bangsa
           
Salah satu ekstrakurikuler ‘jagoan’ SMA N 4 Kupang adalah Paduan Suara. Bagaimana tidak, tercatat hampir tiap bulan mereka berprestasi dan menyumbangkan piala kejuaraan ke sekolah. Ini trentunya menjadi semacam kekuatan dan amunisi baru untuk terus berinovasi, kreasi, dan progresif. Paduan Suara SMA N 4 Kupang bernama Green Voice. Green yang berarti hijau, segar, bertumbuh, dan berkembang menjadi spirit dasar dari seluruh manajemen dan proses latihan. Ini juga sesuai dengan spirit SMA N 4 Kupang yang pada tahun 2017 mendapat anugerah sekolah Adiwiyata tingkat Nasional. Predikat yang diberikan bagi sekolah-sekolah yang hijau, penuh dengan bunga dan pepohonan rindang. Karena hal ini pula lah, ekstrakurikuler seni lainnya pula menggunakan nama green; semisal Green Dance, Green Band, dan Green Fashion. Spiritnya tentu satu dan sama: ingin terus tumbuh dan berkembang.

Anggota Paduan Suara angkatan 2019 hampir berjumlah 70 orang. Tentunya terdiri dari kategorial etnis dan agama yang berbeda. Seperti biasa, kami tetap rukun dan damai, tiap keseharian kami. Ada sebuah ‘tradisi unik’ ketika memulai seleksi keanggoitaan Paduan Suara. Saya telah menyiapkan secara khusus ‘tempat’ bagi anak-anak Muslim agar dapat bergabung di Green Voice. Begitu pula ketika seleksi untuk keperluan perlombaan; apapun yang terjadi, keterwakilah anak-anak yang mengenakan hijab harus ada di atas panggung perlombaan. Saya sengaja memberikan ‘warna’ seperti itu diatas panggung, karena keterwakilan dari sekolah negeri lainnya nyaris tidak ada anak-anak berhijab di panggung perlombaan. Warna dapat menguatkan karakter lagu yang diaransemen, apalagi bila berlomba bertemakan kerukunan, persatuan, dan pancasila? Apakah ini masuk dalam kategori ‘penilaian’ dewan juri? Entahlah. Bagi saya, ya! Selalu juara?, Ya!

‘’Tradisi unik lainnya adalah ketika memulai dan mengakhiri proses latihan ataupun pementasan, biasanya selalu bergantian, apabila anak muslim membawakan doa pembuka, maka doa penutup dibawakan anak Kristen. Demikian pun sebaliknya. Mungkin kelihatan sederhana, tapi rasa seperti ini yang mesti dipupuk untuk selalu menghidupi nilai-nilai Pancasila menuju kearah yang semakin sehat dan kuat.

Begtu pula untuk urusan kegiatan lainnya dalam ekstrakurikuler seni. Pertimbangan-pertimbangan seperti ini mesti terus dimunculkan untuk sekedar memupuk rasa pancasilais mereka, tentunya bagi perkembangan karakter berkelanjutan.

Musik Sebagai Levitasi, Pancasila Selalu di Hati

Jika ingin menggunakan teori Victor Schauberger, tentang ‘’bagaimana mungkin sebuah buah apel ataupun air yang berasal dari akar pohon kelapa, naik ke atas, melawan gaya gravitasi (Issac Newton), hidup dan berkembang menghasilkan ‘buah’ yang berguna? Bagaimana mungkin musik mampu memberikan peran sebagai levitasi hidup (levitation force)? Apakah mungkin?

Bahwa kehadiran musik – baik vokal maupun instrumental, tradisisonal maupun nontradisional, sudah menjadi ‘kebutuhan pokok’ bagi manusia. Secara biologis, ruang di otak dan aliran hormonal dan saraf manusia membutuhkan levitasi dari music. Entah itu bunyi-bunyian, suara, ketukan ritme dari alat-alat music ritmis, hentakan kaki, bunyian pekikan khas etnik NTT, semuanya berhubungan dengan ‘tubuh manusia-jiwa dan raganya, pun kehidupan sosio-kurturalnya’.

Mencermati dua contoh kisah-kasih tentang peranan musik dalam aktivitas lingkungak pendidikan SMA N 4 Kupang, kita mesti yakin bahwa aktivitas bermusik atau Seni pada umumnya tentunya memberikan manfaat yang besar bagi penanaman nilai-nilai Pancasila agar terus terpatri di hati. Persoalan utamanya adalah: How to manage?

Tidak bisa hanya retorika atau seminar-seminar besar saja untuk menghidupi nilai-nilai luhur Pancasila ini. Mesti dibutuhkan tindakan, walau kecil saja, dibuat terus menerus, tiap saat, tentu warga bangsa Indonesia akan hidup dalam kebaikan dan kebenaran; sesuai ajaran dan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Pancasila mesti menjadi rumah bersama. Rumah tempat persemaian nilai-nilai. Rumah tempat proses transformasi niali-nilai kepada kehidupan social, agama, politik, dan kebangsaan, menuju Indonesia yang semakin kuat dan sejahtera.

*) Tulisan ini sebagai salah satu persyaratan utama ketika penulis terpilih sebagai salah satu Pendidik Pancasila 2019, pada kegiatan Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila, yang diselenggarakan AGSI bekerjasama dengan BPIP, bersama 500 tenaga pendidik se-Indonesia (34 Provinsi), Surabaya 29 November – 2 Desember 2019.


comments

No comments:

Post a comment