Latest News

Sunday, 21 June 2020

KETIKA KOTA KUPANG DIPIMPIN SEORANG SENIMAN

Gusty Rikarno
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Tidak terasa, sudah sembilan tahun berada di sini. Di Kota Kupang. Ada jejak yang tertinggal dan ditinggalkan. Awalnya sulit beradaptasi. Bukan Karena hawa panas yang menyelinap di antara karang yang garang. Bukan. Saya tidak terbiasa dengan dentuman musik mikrolet. Ada suara dan syair yang tidak lazim. Lucunya, sopir angkut ini “memaksa” penumpangnya untuk menikmati suasana itu. Menikmati dentuman musik yang keras dan “kasar” bersama keringat yang melelh kelelahan bukanlah  perkara mudah. Namun seiring waktu berjalan, akhirnya saya sadar.  Harus menemukan cara yang mungkin tidak perlu rasional agar betah di sini. Nikmati saja.

Di perbatasan timur kota saya berdiam. Pilihan berada di sini adalah jalan yang saya pastikan sudah tertulis pada garis tangan. Sebuah lahan berukuran sedang, 25 x 50 meter membawaku pada sebuah keyakinan jika hidup itu adalah kepastian di tengah ketidakmungkinan. Hidup ini adalah sebuah perjalanan, kawan. Jika tidak maka kamu bakal berhenti di sini dan menjadi tua dalam kondisi yang belum matang. Di ini kota, ada senyum dalam linangan air mata dan tangisan dalam rasa syukur yang tidak pernah bertepi. saya dan mungkin kamu, adalah syair yang dilukiskan cakrawala sebagai putra fajar, empunya Nusa Tenggara Timur.

……………………

Di beberapa hari terakhir, ada narasi yang belum selesai. Ada pertengkaran dalam satu topik yang tidak biasa. Hanya di kota ini, seorang walikota Jefry Riwu Kore dan anggota DPR,  Ewalde Taek berdebat panas untuk dan atas nama masyarakat kecil. Luar biasa bukan? Hemat saya, ini bukan perdebatan biasa dan “ecek-ecek”. Ini sebuah senandung kepedulian yang dipandang dari berbagai sisi. Walikota peduli dan anggota DPRD juga peduli. Bukan tentang diri mereka. Bukan. Tetapi tentang seorang nama yang bisa mewakili sekian nama masyarakat kecil di kota ini. Saya adalah yang paling setiap mengamati dan menikmati semua kata dan rasa dari perdebatan itu. Eksekutif dan legislatif adalah mitra yang memang terkadang seharusnya demikian. Maaf, saya suka syair lagunya Iwan Fals berjudul “wakil rakyat ”.  “(…) Untukmu yang duduk sambil diskusi, untukmu yang biasa bersafari, Di sana. Di gedung DPR. Di hati dan lidahmu kami berharap, suara kami tolong dengar lalu sampaikan. Jangan ragu jangan takut karang menghadang, bicaralah yang lantang jangan hanya diam (…)”.

Pertanyaan tersisa, terhadap perdebatan ekspresi kepedulian ini, dari manakah kita mengambil jarak untuk melihat. Apakah dari sisi dan posisi Walikota Kupang atau dari sisi dan posisi seorang Ewalde Taek, anggota dewan terhormat itu. Ataukah kita mengambil jarak dan melihat seluruh narasi dan arah “tembak” perdebatan itu. Jika sempat baca, pernah saya menulis tentang mata lalat ataukah mata lebah. Jika kamu adalah bagian dari deretan mata lalat, maka kamu bakal melihat perdebatan ini sebagai bentuk ekspresi sikap infantil (kekanak-kanakan) dan “kepura-puraan” yang dipertotonkan oleh mereka yang mewakili dua lembaga berwibawa itu. Sebaliknya, jika kamu adalah seorang yang dikategorikan mata lebah, maka sebenannya ada yang luar biasa datang dari perdebatan “keras” ini. Minimal Walikota Kupang dan anggota DPRD, Ewalde Taek, memiliki arah dan maksud yang sama yaitu kebaikan bersama dan berjuang sekeras mungkin untuk ikut peduli terhadap persoalan masyarakat kecil. Mereka sebenarnya sedang membangun iklim demokrasi yang rasional dan professional. Mereka telah menjalankan perannya masing-masing.

Dalam sebuah diskusi “online” saya ditanyai oleh seorang kawan yang kebetulan juga berprofesi jurnalis. “Bagaimana komentar (pendapatmu) dengan yang terjadi di gedung DPRD Kota Kupang beberapa hari lalu”. Saya belum sempat menjawab ketika ia berkelekar jika saya bakal pasti membela Walikota Kupang. Ia bahkan berusaha “menuduhku” terlampau dekat dengan para pejabat publik sehingga bisa menumpulkan daya kritis dan cenderung “ikut arus”. Saya akhirnya memilih tersenyum dalam diam. Beberapa teman diskusi memintaku untuk menanggapinya. “Apa yang bisa saya komentari. Toh, cara kami menatap sudah berbeda. Jika kemudian tuduhan itu adalah saya saat ini, mungkin saya komentari”, jawab saya sekenanya. Maksud saya begini. Mari kita tempati segala persoalan pada konteks dan teks yang tepat. Sebagai seorang jurnalis, independensi adalah hal yang mutlak. Kita menulis berita. Apa adanya, bukan ada apanya.

Terkait persolan yang terjadi di gedung DPRD kota Kupang itu, hemat saya peristiwa itu patut diapresiasi karena terjadi pada waktu dan tempat yang tepat. Jika kemudian ada narasi tuduhan “pencitraan” dan jawaban “kurang ajar” karena merasa menyerang pribadi, hemat saya itu bagian dari dinamika yang dipnadang pada porsi yang tepat. Jangan terbawa perasaan dan akhirnya melumpuhkan daya kreatif untuk berpikir. Mari kita bentangkan segala persoalan apa adanya di ini kota dan berjuang mengambil jarak terjauh agar mampu melihat persoalan itu secara komprehensif (menyeluruh).

Jika ditanya, apa pendapat pribadimu tentang seluruh sepak terjang pembangunan Walikota Kupang, Jefry Riwu Kore di hampir tiga tahun masa kepemimpjnanya ini. Saya pasti mengendepankan fakta dan data apa adanya. Hemat saya, Walikota Kupang, Jefry Riwu Kore, sudah bekerja. Ada jejak digital dan fakta yang kasat mata terlihat. Misalnya, soal penataan “wajah” Kota Kupang sebagai “smart city” pertama di NTT. Bahwa kemudian, masih ada yang belum tuntas, itu adalah amanah yang harus diselesaikan.

Jujur, saya mengenal beliau walau tidak “dekat”. Kami bertemu dan mendiskusi banyak hal secara profesional. Dengan demikian daya kritis dan independensi saya sebagai jurnalis tetap terjaga. Tidak ada yang paling mewah selain kita menjadi diri sendiri. Salah satu cara merayakannya adalah memberi apresiasi terhadap keberhasilan orang lain. Jika kemudian kamu memang ditakdirkan sebagai pengaamat, jadilah pengamat yang kritis dan professional. Menjadi lawan politik itu adalah pilihan. Bukan takdir. Tugasmu sederhana. Membangun narasi dari bahasa data dan fakta. Itu saja. Lalu? Orang menilaimu. Apakah kamu “bermata lalat” ataukah “bermata lebah”.

………………………………….

Dalam sebuah kesempatan Ngobrol Pintar (Ngopi) pagi hari di halaman gedung utama Bank NTT setahun yang lalu, saya nimbrung dalam diskusi hangat. Hadir saat itu, kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, Kepala Bank Indonesia (BI) parwakilan provinsi NTT, Walikota Kupang dan Direktur Pemasan Dana Bank NTT. Satu yang terlihat jelas adalah cara seorang Jefry Riwu Kore membangun koneksi dalam prinsip kerja sinergisitas dan kolaborasi. Semua pekerjaan dibagi habis. Tidak ada yang dibiarkan bekerja sendiri. Semuanya diarahakan pada satu irama yang sama yang didaratkan pada enam prioritas pembanganan seperti peningkatan kualitas pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, peningkatan perekonomian akses pelayanan perizinan dan penciptaan lapangan kerja, peningkatan kinerja pemerintah yang efektif, efisien, akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan publik dan pengelolah keuangan, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, peningkatan kesejahteraan sosial, budaya, prestasi olahraga dan kepemudaan serta meningkatkan toleransi dan kerukunan suku, agama, ras dan antar golongan.

Perhatikan keenam prioritas pembanguan itu. Apakah ada yang bertolak belakang satu dnegan yang lain? Apakah pembangunan infrastruktur ramah lingkungan berhubungan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. Atau peningkatan perekonomian dengan akses pelayan perizinan dan penciptaan lapangan kerja berhubungan dengan peningkatan kesejahteraa sosial dan transparansi pengelolaan keuangan? Kita pasti sepakat. Tidak ada yang kontroversi di dalamnya. Dalam konteks ini, hanya naluri seorang senimanan yang bisa lakukan ini. Ia mampu membunyikan nada sinergitas dan kolaborasi sehingga mengaghasilkn narasi pembangunan yang nyata dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Kota Kupang dan mungkin juga seharusnya kota lain di NTT, mesti dipimpin oleh seorang seniman. Dia yang tahu dan mengerti sekaligus mau mendengarkan nada-nada minor yang menjadi persoalan masyarakat. Ia hadir dalam visi pembangunan yang mampu diwujudkan dalam elaborasi kerja yang jelas dan terukur.

Kamu tahu? Saya adalah nyawa dari ribuan bahkan jutaan yang ada dan mendiami kota ini. Saya tahu, siapa yang hadir sebagai pemimpin berkarakter politisi tanpa visi dan politisi seniman berjiwa pemimpin. Di ini kota, adakah yang paling berharga selain rasa bangga dan syukur? Segudang ilmu dan pengalaman, bakal menjadi biasa bahkan sia-sia jika kamu tetap “bermata lalat”. Kmau tahu lalat? Dia yang pandai menjilat dan tidak pernah selesai bergumul dengan pikiran negatifnya. Seperti Ewalde Taek, anggota DPRD terhormat diharapkan tetaplah bersuara dan kritis. Jangan mengambil sikap diam apalagi membeo. Hidup ini adalah sebuah pertaruhan antara kepalsuan dan kebenaran. Ingat, mobil yang sekarang kamu kredit itu adalah uang rakyat.

Salam Cakrawala, Salam Literasi …


comments

No comments:

Post a comment