Latest News

Sunday, 3 May 2020

HANYA SEKOLAH, TEMPAT SALING MELENGKAPI – SURAT TERBUKA SEORANG GURU HONORER

Fitron D. Sakan, S.Pd
Guru Honorer SMPN Satap Basmuti
Kabupaten TTS

Ibarat mobil dan bensin yang tak terpisahkan karena keduanya saling membutuhkan. Mobil memang ada namun jika bensin tidak ada tentunya mobil tersebut tidak bisa berjalan. Sebaliknya, bensin tersedia namun mobil tidak ada, juga tak ada gunanya. Guru tanpa siswa belum lengkap, siswa tanpa guru juga belum lengkap, hanya sekolah-lah tempat untuk saling melengkapi. Seperti itulah saya mencoba memaknai pendidikan di Indonesia saat ini, yang tokoh utamanya adalah Guru dan Peserta Didik. Namun apa yang mau dikata, di tengah pandemi covid-19 yang kita rasakan saat ini, rasa-rasanya semua hambar.

Terima kasih, hormat, dan salut kepada Bapak Jokowi dan kepada Bapak Nadiem yang dengan sangat bijak mengambil keputusan-keputusan yang teramat sulit demi kesejahteraan rakyat Indonesia seutuhnya ditengah pandemi ini. Yang saya hormati Bupati Timor Tengah Selatan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabid Bina SMP, Kepala Sekolah Negeri Satu Atap Basmuti, Teman-teman  Guru Satap Basmuti. Yang saya kasihi, Peserta Didik Satap Basmuti, singkatnya seluruh Pendidik dan Pelajar di seluruh Indonesia. Semoga Bapak-Ibu guru sekalian dalam suasana yang sehat walafiat. Untuk itu saya mengajak kita sejenak mengucap syukur kepada Sang Pencipta karena atas rahmat-Nya, kita masih ada sampai saat ini.

Melalui kesempatan ini, di Hari Pendidikan Nasional, saya memberikan apresiasi yang tulus kepada Bapak Bupati dan jajarannya, secara khusus saya berikan apresiasi  kepada Bapak Kepala SMPN Satap Basmuti, yang terus berjuang, mengimbau, bahkan membuat keputusan-keputusan untuk warga SMPN Satap Basmuti dengan membagikan masker gratis kepada seluruh peserta didik dan Bapak/Ibu guru guna mencegah dan memutus rantai penularan covid-19 ini. Karena itu mari kita berharap dan bersandar pada Tuhan kita yang kita sembah dengan yakin bahwa jika Allah di pihak  kita, siapakah yang akan melawan kita? Apapun tantangannya, apa pun persoalannya yakinlah bahwa pasti kita lewati.

Sebagai seorang guru honorer yang penuh dengan kelemahan dan keterbatasan, yang mengabdi di SMPN Satap Basmuti, Kec. Kuanfatu. Saya ingin menyampaikan beberapa hal yang saya alami bahwa semenjak ada imbauan dari pemerintah untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah di rumah, maka lewat tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa semua himbauan sudah kami patuhi.

Hari demi hari terus berlalu, jumlah pasien covid-19 terus meningkat membuat masyarakat semakin takut sampai-sampai sistem imunitas tubuh yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba menurun karena rasa takut dan panik yang berlebihan. Ketakutan inilah mempengaruhi semua aktifitas masyarakat, lebih khusus anak-anak didik kita yang merupakan harapan bangsa yang kita cintai ini.

Keterbatasan jaringan sosial bahkan media sosial yang masih sangat minim dirasakan oleh anak-anak didik di Kabupaten Timor tengah Selata, khususnya di SMPN Satap Basmuti membuat saya dan teman-teman guru sulit mengontrol mereka untuk belajar dari rumah sesuai himbauan pemerintah. Namun, karena kepedulian saya dan teman-teman akan pentingnya pendidikan di Indonesia maka dengan bermodalkan keberanian dan sesuai protokol pemerintah, saya dan teman-teman terus mengontrol dari rumah ke rumah sesuai jadwal yang sudah kami bagi dan sepakati bersama.

Ada suka dan dukanya saat kami mengontrol mereka. Saya sangat sedih ketika mendapati seorang anak didik kelas IX yang menyelesaikan tugas terstrukturnya sambil menjaga adiknya, sementara orang tuanya bercandaria di rumah tetangga. Betapa terganggunya dia saat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh bapak/ibu guru, karena harus menenangkan adiknya yang sedang menangis. Ada pula yang saya temui mereka sedang bermain sepeda, bermain karet dan banyak lagi permainan yang dimainkan sehingga tidak belajar pada jam belajar yang sudah ditentuan oleh sekolah. Pokoknya, banyak sekali kegiatan anak-anak di rumah jika tidak dikontrol oleh guru atau orang tua/walinya sendiri. Saya terkadang berpikir, mungkin masa ini bagi mereka satu kesempatan yang paling indah, untuk mereka bebas dari belajar dan seenaknya berbuat apa saja yang mereka inginkan? Astagaaaaaaa…. seperti apakah pendidikan di negeri ini jika seluruh anak di Indonesia melakukan hal serupa di tengah pandemi covid-19 ini?

Saya kadang kala berpikir bahwa sebagian orang tua mungkin beranggapan bahwa tugas mendidik anak itu hanyalah guru dan tempatnya cuma ada di sekolah? Ya, memang. Bisa saja mereka beranggapan begitu. Karena latar belakang pendidikan yang sangat minim. Lalu, apa tugas kita sebagai seorang pendidik di tengah pandemi ini? Mungkinkah kita juga beranggapan seperti anak-anak didik kita? Jangan. Marilah kita bergandengan tangan mengontrol mereka, dari rumah ke rumah mengarahkan serta menjelaskan yang tidak atau belum mereka mengerti, menyajiakan ringkasan meteri sebelum meberikan tugas. Sungguh sangat sulit juga tugas dan tanggung jawab kita sebagai guru/pendidik. Hahaha….. siapa suruh jadi guru???

Dengan bercermin pada minggu pertama dan kedua ketika kami mengontrol mereka dan mendapati sebagian besar dari mereka tidak belajar, saya dan teman-teman mencoba meringkas matari, kemudian membuat pertanyaan untuk dijawab, dan meminta tanggapan orang tua terhadap materi serta cara belajar siswa di rumah. Lalu, apa tanggapan mereka?

Sungguh sangat luar biasa tanggapan para orang tua. Ada yang mengatakan bahwa belajar di rumah itu baik namun anak-anak tidak taat pada kami, ketika kami suruh belajar. Ada yang mengatakan belajar di rumah itu tidak pas karena anak-anak terganggu dengan adik-adiknya apalagi saat belajar kemudian ada tamu yang datang. Ada yang mengatakan, kami hanya bisa mengontrol namun untuk memberi pemahaman tentang materi kami tidak mampu. Dan masih banyak tanggapan yang lain lagi yang tidak saya tuangkan dalam tulisan ini.

Setelah saya membaca beberapa tanggapan orang tua, terngiang di telinga ketika mendengar beberapa berita di bulan-bulan yang lalu bahwa guru dipolisikan oleh orang tua siswa karena guru salah mendidik anak. Siapa yang salah? Siapa yang benar? Siswa-kah? Orang tua-kah? atau Guru? Refleksilah!

Menurut saya ada banyak hal positif di tengah pandemi covid-19 ini. Yang pertama, para orang tua akan tahu dan sadar akan pentingnya pendidikan (belajar) di sekolah, ketimbang dirumah, dan yang mengajar adalah guru yang selama ini mereka hina, mencaci maki, bahkan mempolisikan guru. Kedua, mereka pasti membayangkan betapa sulitnya perjuangan seorang guru untuk mengubah cara berpikir anak dari yang tidak tahu menjadi tahu bahkan sampai menjadi bintang kelas. Ketiga, mereka akan sadar bagaimana mendisiplinkan anak untuk belajar di rumah, bukan hanya mendengar ketika sekolah menegakkan disiplin, lalu dibilang guru-guru terlalu egois.

Dengan demikian menurut hemat saya ungkapan “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang telah dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara ini gagap di beberapa bulan terakhir sampai saat ini. Namun, jangan kita lengah dengan keadaan ini. Saya mengajak kita semua yang berprofesi sebagai guru/pendidik untuk terus mengikuti dari belakang  peserta didik, kemudian memberi kekuatan dalam usaha mereka belajar dan menyelesaikan tugas-tugas terstruktur yang sudah kita berikan. Saya juga meminta agar kita terus memantau anak-anak didik kita, secara online bagi yang berada di daerah perkotaan atau berada di tempat yang bisa akses internet yang tentunya tidak sulit, karena jarigan sosial yang sangat mendukung. Juga, secara offline bagi kita yang berada di daerah pedalaman yang tentunya sangat sulit, sekali lagi sangat sulit karena keterbatasan media sosial. Mengarahkan mereka mengikuti program rumah belajar lewat TVRI dan juga Program Guru TTS Mengajar, melalui Radio Siaran Pemerintah Daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sebagai pendidik mari kita bahu-membahu menjunjung tinggi pendidikan di bumi cendana ini. Karena hanya pendidikanlah yang mampu memanusiakan manusia menjadi lebih manusiawi. Pendidikanlah yang  dapat mengubah sebuah bangsa menjadi bangsa yang besar.

Akhir kata, Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020. Semoga pandemi covid-19 bukan halangan untuk kita belajar dan mengajar dari rumah, terus mengontrol peserta didik satu per satu dengan keluar rumah masuk rumah karena mereka adalah generasi penerus bangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kita cintai ini. Salam Pendidikan.

2 comments:

  1. Tetap berjuang Pak Guru. Tuhan slalu Menyertai serta menopang perjuangan Pak Guru.
    Sya sbgai pribadi, bangga akan tulisan Pak Guru. Tuhan Memberkati.

    ReplyDelete
  2. Selamat berjuang pahlawan ku tanpa tanda jasa.Tuhan membeekati kita semua(A L)

    ReplyDelete