Latest News

Tuesday, 7 April 2020

YESUS & AUDAN; KISAH MEMUPUK KERINDUAN

Marianus Seong Ndewi, S.Pd., M.M
Guru SMA Negeri 4 Kupang
Aktif di Komunitas Secangkir Kopi

Audan adalah nama seekor burung yang konon katanya selalu bertengger di tepi jurang. Terus di sana. Menanti dan terus menanti. Ia seperti sedang merindu. Atau bahkan diserang rindu. Atau sedang menebar rindu. Kita simpulkan saja,  Audan setia merindu.

"Seperti Audan di tepi jurang, tak ada yang tahu, dan mungkin mereka tak harus tahu. Air mataku berderai di sini..." Inilah kalimat pembuka dan sekaligus penutup, puisi seorang Robert Fahik; Seperti Audan di Tepi Jurang, dalam perjalanannya ke Manggarai Timur, 12 September 2018 silam (Rumah Kedamaian, 2019: 55).

Entah di ranting jenis apa Audan bertengger. Ataukah ia memilih bersembunyi di balik bongkahan batu yang mungkin tak kuat menahan kikisan rintik hujan bercampur derai air matanya. Semua jadi misteri. Untuk apa ia menyendiri? Tak ada yang menemani? Atau ia terus asyik bernyanyi: "Tuhan kirimkan lah aku, kekasih yang baik hati, yang mencintai aku, apa adanya..."

Hanya ia sendirian bernyanyi. Ia bernyanyi untuk dirinya sendiri. Menghibur dirinya sendiri. Sesekali terbang mencari makanan. Ia harus kembali. Untuk menyendiri. Untuk diri sendiri. Menimbun rindu. Untuk apa dan siapa? Hanya Audan dan air matanya yang tau.

Ada yang menarik dan unik, dalam pekan suci, sebelum Tri Hari Suci, pekan dan hari hari yang amat sakral dalam tradisi gereja Katolik, dimana para umat seharusnya mengisi hari harinya dengan puasa dan setelahnya 'disempurnakan' pada puncaknya yakni perayaan Ekaristi di Gereja.

Hari hari ini semuanya terasa hampa. Seperti uapan embun pagi yang beterbangan dari pucuk dedaunan, ingin bertahan tapi ia harus pergi. Begitu pula guncangan perasaan yang benar-benar hebat untuk situasi (dunia) saat ini.

Seminggu yang lalu,  dalam tulisan di blog pribadi, dengan judul "Tuhan Merindukan Manusia – Rindu Yang Berkecamuk", saya mencoba berbela rasa, ingin 'mewakili' perasaan Yesus yang merindukan manusia.

Apanya yang berkecamuk...? Pertanyaan seperti ini bisa diwakili oleh jawaban (perasaan) manusia saat ini, rindu yang menggebu gebu untuk ke gereja, bertemu sanak famili, berkunjung ke handai tolan, berpesta, bertamasya, sekolah, kuliah, dan lain sebagainya. Kira kira begitu juga perasaan Yesus.

Di pekan ini, rindu Yesus memuncak. Mulai saat Minggu Palma, umat 'Yerusalem' tahun ini  tidak turun ke jalan lagi, mengelu-elukan Yesus, bernyanyi, memuji – walau separuhnya juga adalah kaum Farisi dan ahli taurat – tetapi mereka hanya bernyanyi memuji Yesus dari (di) rumahnya masing-masing. Mungkin ada yang lewat jendela, atau di separuh bilah pintunya, bahkan bernyanyi sambil menonton layar televisi dan HP pintar.

Bayangkan bertahun tahun Yesus tidak pernah diperlakukan seperti ini. Bisa saja ia sedih. Rindu. Pilu. Ia berjalan menunggang seekor keledai sendirian. Tak ada lagi yang membentangkan dedaunan di jalanan. Tak ada lagi yang menabur bunga wewangian. Tak ada yang memanggil dan berteriak, "Hosana Putera Daud".

Kosong. Hampa. Jalanan bising berubah jadi lorong kosong yang pedih dan perih. Siapa peduli? Setelah omong kosong konspirasi global, semuanya terpaksa stay at home, work from home, singing from home, pray from home. Sampai kapan?

Yesus sungguh memendam rindu. Akan dipupuk jadi subur. Padahal Ia sudah tak sabar lagi untuk mencuci kaki para rasulnya. Kaki kaki yang penuh dengan debu dosa. Kaki yang suka berjalan ke arah lain. Kaki yang kuat menabur kebaikan. Kaki para utusan. Mesti dicuci. Agar bersih. Agar benar benar 'telanjang'. Suci lahir dan di dalam batin. Singkirkan debu yang masih melekat, meminjam kata-kata Ebiet G. Ade dalam lagunya “Untuk Kita Renungkan”.

Yesus sudah rindu mencuci kaki mereka. Walaupun ada yang akan mengkhianati dengan satu ciuman mesra. Ciuman yang biasanya mendatangkan cinta-kasih-sayang. Ciuman yang biasanya menghangatkan, menggantikan bara api unggun tempat para pendaki mendapat kehangatan.

Kali ini tidak. Ciuman yang berakhir di ujung tombak. Ciuman yang berakhir di palang hina. Ciuman yang pedih setajam ujung paku. Ciuman kebencian. Ciuman kehancuran. Ciuman yang alirkan darah. Ciuman tengkorak di bukit pilu. Bukit jurang, tempat para perindu menimbun rasa, asa, doa, dan harapan akan lahirnya kehidupan baru. Adakah burung audan menyaksikan kisah pilu itu?

Kalau ya, apalagi yang ia rindukan? Apalagi yang ia tangisi? Ketika suara lantang berkumandang: Elloi, Elloi, Lama Sabaktani, akankah itu memecah kesunyian dirinya? Membunuh waktu kesendiriannya? Air mata jadi mata air untuk alirkan kehidupan baru? Bergabung dengan cairan hidup merah pekat yang mengalir dari lambung keselamatan itu?

Sungguh, Audan menjadi bingung, karena kesunyiannya diusik oleh bunyi tabir surga terbuka, akan lahir keselamatan: "Sungguh Ia putra Allah".

Hari Minggu fajar akan datang. Dia yang mati akan bangkit. Kerinduan telah terbayarkan. Cahaya menembus jendela dan bilah pintu. Jendela dan pintu hati manusia yang selalu peduli dengan dirinya dan sesamanya. Manusia yang terus menabur kerinduan dalam doa. Manusia yang selalu setia memberi harapan: Ia benar benar bangkit. Batu penutup kuburan sudah terguling. Kegelapan sirna.

Tetaplah setia memupuk kerinduan. Seperti Yesus selalu rindu manusia. Dia juga membutuhkan kita. Akankah kita merasakan hal yang sama? Intinya tetap setia. Hari hari akan terang. Cahaya akan datang. Jurang rindu selalu jadi tempat ternyaman bagi Audan. Mungkin ia sedang berdoa agar manusia juga kuat menanggung derita. Karena di balik kayu palang hina, ada cahaya. Di balik keteguhan doa, ada harap. Di balik setia berharap, ada selamat.

Mudah-mudahan tidak ada lagi ciuman licik setelah makan bersama. Tidak ada lagi sangkalan maut setelah ayam berkokok tiga kali. Tidak ada lagi kerikil yang mengganjal kaki untuk melangkah memikul salib kehidupan. Tak ada lagi jurang. Tak ada lagi sendiri. Tak ada lagi kehampaan. Air mata berubah jadi mata air. Pilu berubah jadi tawa.

2 comments:

  1. Mantap Bpa uskup. 😀😀
    saya trtarik dgan Ciuman Licik😅 ingin tarik sdkit ke sni.
    👇👇
    Politik Yudas dan ciuman licik. Dan Politik Cuci tangan ala Pilatus
    "Hahahaha

    ReplyDelete