Latest News

Monday, 6 January 2020

MENGENAL KAHLIL GIBRAN, PENYAIR LEBANON


Created by: rf/mpcntt
Pengantar Redaksi: Hari ini (Tanggal 6 Januari) merupakan hari kelahiran salah satu sastrawan, dan seniman kenamaan Lebanon, Kahlil Gibran. Meski raganya sudah tidak ada lagi lebih dari setengah abad yang lalu namun karya-karyanya masih tetap hidup di kalangan pencinta sastra dan seni. Artikel ini kami turunkan sebagai bentuk penghormatan terhadap sang maestro sekaligus memperkenalkan sosok yang satu ini khususnya kepada kalangan pelajar, mahasiswa dan generasi muda umumnya dengan harapan pengalaman hidup serta karya-karya penulis novel “Sayap-sayap Patah” ini dapat menginspirasi generasi muda untuk berkarya.   

KAHLIL GIBRAN lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari yang terletak di sebuah dataran tinggi di pinggiran salah satu karang terjal Wadi Qadisha (Lembah Suci Keramat). Desa Beshari secara geografis berada di bagian utara Lebanon.    

Nama lengkap Gibran dalam bahasa Arab adalah Gibran Khalil Gibran. Ejaan “Khalil” yang asli diubah menjadi “Kahlil” sesuai lidah orang Inggris berkat anjuran guru bahasa Inggrisnya di sekolah tempat ia belajar di Boston. Karena itu Gibran Khalil Gibran selalu dikenal sebagai Kahlil Gibran.

Gibran termasuk pengikut Gereja Katolik Maronit. Kristen Katolik Maronit adalah Gereja yang bernaung dalam lingkungan Gereja Katolik Roma tetapi tidak menggunakan liturgi berbahasa Latin. Bahasa Liturgi yang digunakan adalah bahasa Aramia dan Siria. Kristen Maronit juga memperbolehkan seseorang yang sudah menikah dan berkeluarga untuk menjadi pendeta. Akan tetapi yang menjadi pendeta sebelum menikah, tidak boleh menikah setelah menjadi pendeta.

Ayahnya, Khalil bin Gibran, adalah seorang gembala yang tidak ingin merubah nasibnya sebagai petani. Ibunya, Kamila, merupakan anak terakhir dari pendeta Estephanos Rahmi. Gibran mempunyai dua orang saudari (adik), masing-masing Mariana (1885) dan Sultana (1887), dan seorang saudara (kakak) tiri bernama Peter. Gibran menerima pendidikan awalnya di rumah dari ibunya yang adalah seorang polygot (Sebutan untuk orang yang mampu menguasai beberapa bahasa asing. Kamila menguasai bahasa Arab, Perancis dan Inggris) yang juga memiliki bakat seni musik.

Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana dia belajar di College de la Sagasse sekolah tinggi Katolik Maronit sejak tahun 1899 sampai 1902.

Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Kesultanan Usmaniyah yang sudah lemah, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.

Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, tetapi ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.

Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York City, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang menyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronit. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.

Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.

Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Pada tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.

Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.

Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.

Sebelum tahun 1912 "Broken Wings" telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.

Pengaruh "Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "Broken Wings" ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.

Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Suriah yang tinggal di Amerika.

Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Prancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan tuberkulosis, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.

Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.

Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis (sekarang Gibran Museum), sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."

Karya-Karya

Gibran termasuk penulis dan penyair yang sangat produktif. Ada begitu banyak karya tulis yang dihasilkannya. Umumnya karya-karya Gibran ditulis dalam dua bahasa; bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Karya-Karya Dalam Bahasa Arab: al-‘Arwah al-Mutamarridah (1906), ‘Ara’ is al Muruj (1908), al-‘Ajnihah al-Mutakassirah (1912), Dam’ah wa Ibtisamah (1914), al Muwakib (1919), al-‘Awasif (1920), al-Badayi’wa Taray (1925)

Karya-Karya Dalam Bahasa Inggris: The Madman/ Si Gila (1918), The Forerunner/ Si Pelopor (1920), The Prophet/ Sang Nabi (1923), Sand and Foam/ Pasir dan Buih (1926), Jesus The Son of Man/ Yesus Anak Manusia (1928), The Earth Gods/ Dewa Bumi (1931), The Wanderer/ Pengembara (1932), The Garden of The Prophet/ Taman Sang Nabi (1933), Prose Poem/ Penyair (1934), Secret of The Hearts/ Rahasia Hati (1947), Tears and Laughter/ Air Mata dan Senyuman (1949), Voice of The Master/ Suara Sang Nabi (1958), A Self-portrait/ Potret Diri (1959), Thoughts and Meditations/ Renungan dan Meditasi (1960), The Vision/ Visi Rohani (1997), Spirit Brides/ Roh Pengantin  (1998)

Selain karya-karya yang disebutkan di atas, ada juga sejumlah tulisan Gibran berupa puisi, prosa dan cerpen yang diterbitkan di berbagai media cetak dan surat kabar.

Pengalaman Hidup di Lebanon

Sebelum Gibran dilahirkan, sudah banyak orang yang keluar dari Suriah dan Lebanon. Sebagian diri mereka bermukim di Mesir, Amerika dan sebagian lainnya di Eropa. Mereka yang tidak beruntung melarikan diri, diasingkan atau digantung di alun-alun untuk menjadi contoh bagi mereka yang berusaha menentang sultan.

Turki menaklukan Suriah pada tahun 1559, lebih dari 350 tahun sebelum Gibran lahir (1883). Tetapi pegunungan Lebanon terlalu sulit untuk ditaklukkan pasukan Turki. Oleh karena itu Turki menduduki wilayah pantai dan daratan, dan menyerahkan daerah pegunungan beserta penduduknya yang keras kepala ke pemerintahan mereka sendiri di bawah pengawasan seorang utusan yang ditunjuk oleh Turki, dengan memberi peraturan agar mereka membayar pajak ke kas negara.

Pada masa Gibran, Lebanon dan Palestina merupakan bagian dari Syria yang masih berada di bawah kekuasaan Turki Otoman. Pada akhir perang dunia pertama, kekuasaan Turki atas Syria diambil-alih oleh Prancis berdasarkan keputusan Majelis Tinggi Liga Bangsa-Bangsa.

Sedangkan Palestina berada di bawah protektorat Inggris. Mandat Prancis itu bertujuan untuk mempersiapkan kemerdekaan dan kedaulatan Syria dan Lebanon. Buram konstitusi yang dibuat oleh Prancis itu kemudian ditolak oleh Syria karena Prancis memperluas wilayah Lebanon hingga mencakup wilayah Syria. Ternyata perluasan wilayah Lebanon oleh Prancis itu bermuatan politik. Prancis menginginkan sebuah Le Grand Libano (Lebanon Raya) yang nanti menjadi pijakan untuk mempertahankan kekuasaannya di Timur Tengah. Tujuan lain ialah untuk memperluas kekuasaan Kristen Maronit dan mempersempit wilayah kekuasaan Islam.

Di antara beberapa golongan Kristen di wilayah Lebanon, Kristen Maronit-lah yang menjadi mayoritas. Golongan ini mendapat perhatian istimewa dari Prancis dengan jalan memperluas wilayah huninya.

Syria sangat menentang kebijakan politis ini dan tetap memandang Lebanon sebagai bagian dari wilayahnya. Cara pandang Prancis dan Syria berada dalam kancah pertentangan. Pihak Prancis menginginkan Lebanon Raya, sedangkan Syria tetap melihat Lebanon sebagai kedaulatan Grand Syria (Syria Raya). Syria berdasarkan batas-batas yang telah ditentukan oleh kekuasan Ottoman, tetap mengabdikan Lebanon dan Palestina di bawah kedaulatannya. Polemik antara Prancis dan Syria berlanjut hingga dikukuhkannya petisi oleh Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1946. Dalam petisi itu, Syria dan Lebanon sebagai satu kesatuan.

Lebanon secara keagamaan didiami oleh beberapa agama monotheisme. Pembagian penduduknya cenderung didasarkan pada agama yang dianutnya. Pola kependudukan seperti ini menimbulkan konflik-konflik antar agama.

Keadaan pertentangan agama mulai memudar ketika lahir semangat Nasionalisme Syria dan gerakan Pan Arabisme untuk menentang penjajahan Turki Ottoman. Semangat kesatuan berbangsa mengungguli semangat fanatisme agama. Kahlil Gibran adalah sosok penjelmaan zaman kebangkitan nasionalisme Arab tersebut.

Kondisi semangat berbangsa semakin kental dan keadaan berpikir agamais semakin sirna ketika terungkap prinsip-prinsip nasionalisme, “Addien Lillah wal watun Liljamie” (Agama untuk Tuhan, tanah air untuk semua), “Baini wa Bainallah” (Agama itu urusan aku dengan Allah). Maka ketika pemerintah Turki Ottoman mengibarkan panji Islam, jemaah Islam Lebanon serentak berseru, “Anna Arabi global Islam” (Aku anak Arab sebelum Islam).

Dalam dinamika semangat nasionalisme inilah Gibran tumbuh dan berkembang. Keterlibatannya dalam kancah politik terbukti dari beberapa tulisan, pidato-pidatonya dalam berbagai kesempatan dan surat-menyurat dengan rekan-rekannya. Itulah alasan mengapa Gibran diakui sebagai salah satu figur pelopor kebangkitan bangsanya.

Selama masa awal remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Tirani Kerajaan Turki, sifat munafik organisasi gereja, dan peranan kaum wanita Asia Barat yang sekedar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab. Sejak kecil, Gibran meninggalkan tanah airnya namun ingatannya tak pernah lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberikan kebebasan untuk menggabungkan dua pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.

Kecemerlangan Gibran sungguh tidak bisa dilepas-pisahkan dari dunia Lebanon. Bahkan semua tulisan awal Gibran berlatar Lebanon. Keindahan tanah mistik ini menjadi pelipur laranya, sumber imajinasinya dan kelak menjadi sumber kerinduannya. Kerinduan kepada tanah air Lebanon dibawanya sampai pada nafas terakhirnya. Dalam memaparkan biografi Gibran, Ghougassian menulis bahwa Gibran tidak dikebumikan di Amerika, namum sesuai kehendaknya ia dibawa ke Lebanon dan dikebumikan di sana.

Demikianlah pengamalan hidup Gibran di Lebanon telah turut menentukan lahir dan berkembangnya pemikiran Gibran. Pengalaman hidup yang dimaksud tidak lain ialah segala sesuatu yang dialaminya bukan saja sebagai rangkaian peristiwa semata namun sebagai pengalaman-pengalaman yang telah turut membangun keutuhan diri Gibran, baik semenjak masa kecilnya maupun ketika ia kembali dari Amerika untuk belajar di Sekolah Al-Hikmah Lebanon.

Gambaran Umum Filsafat Kahlil Gibran

Gibran tidak menulis tentang filsafat, tetapi saat ia mulai menulis karya besarnya, Sang Nabi, yang membahas persoalan kelahiran dan kematian, ia menempatkan dirinya dalam ungkapan bergaya Sokrates, “kenalilah dirimu”. Seorang wanita bertanya kepadanya, “Wahai nabi Allah...beritahu kami semua yang ditunjukan kepadamu di antara kelahiran dan kematian.” Segera Gibran menulis, “Aku tidak menyukai hukum-hukum ciptaan manusia dan aku melarang tradisi bahwa nenek moyang kita meninggalkan kita.” Ia menempatkan dirinya di dalam lingkup ahli agama yang menggambarkan secara khusus salah satu prinsip St. Agustinus, “Manusia tidak boleh ragu kecuali ia hidup, berpikir dan menyadari bahwa ada sesuatu bernama kebenaran.”

Karya-karya besar Gibran seperti The Prophet, The Garden of The Prophet dan The Earth of Good banyak memuat pemikiran-pemikiran filosofis Gibran. Bahasan dalam buku- buku tersebut mengandung makna yang amat dalam- bersifat filosofis tentang Tuhan, alam, kehidupan manusia, eksistensi kesempurnaan manusia dalam spiritual, religiositas dan humanisme.

Pada dasarnya, semua kotbah para nabi berkisar pada satu dimensi mengenai relasi sosial yang otentik. Al-Mustafa dalam Sang Nabi mencabut semua situasi intersubyektif-perkawinan, hukum, anak-anak, persahabatan, hadiah dan lain-lain di mana manusia berhubungan satu sama yang lain. Namun The Prophet juga mengajarkan bagaimana hubungan eksistensial ini dilakukan secara murni.

Intersubyektifitas bukanlah satu-satunya jenis hubungan yang hendak disampaikan Gibran. Pada dasarnya The Prophet dan dua karyanya yang lain, The Garden of The Prophet (1933) dan The Earth Gods (1931) membentuk sebuah trilogi yang diarahkan untuk melaksanakan dimensi eksistensi manusia. Ungkapan-ungkapan filosofis teknis yang sesuai adalah Mitwelt (sinonim Mitdasein, berhubungan dengan pikiran-pikiran/ orang lain), Umwelt (hubungan dengan dunia) dan Gotteswelt (hubungan dengan Tuhan).

The Garden of The Prophet mengkaji hubungan manusia dengan alam (Umwelt). Yang ditekankan adalah hubungan antara “ekologi” dan “environmentalisme”, tidak dengan perspektif keilmuan, melainkan syair. Kosmologi yang dikedepankan Gibran dalam buku itu sangat antropomorfisis. Dia mendeskripsikan emosi manusia dengan konsep yang dipinjam dari alam.

The Earth Gods menekankan hubungan Tuhan dengan manusia (Gotteswelt). Manusia memiliki keinginan untuk lebih dekat dengan Tuhan. Dalam filsafat Gibran, manusia cenderung mendekati Tuhan “dalam”, “melalui” dan “dengan” cinta semata. Essai ini merupakan dialog yang terjadi antara tiga dewa, dua di antaranya menganggap bahwa “manusia adalah makanan untuk para dewa”. Artinya, manusia adalah makanan untuk persembahan kepada para dewa dan mainan untuk memuaskan perilaku mereka. Bagaimanapun, dewa ketiga adalah segala keharuan; ungkapan-ungkapannya merupakan upaya untuk merubah sikap dua dewa lain yang totaliter; dia mengingatkan keduanya bahwa cinta merupakan kebijakan para dewa. Akhirnya untuk mengikat keduanya di sisinya, demi kenyamanan manusia, dia mengingatkan keduanya bahwa manusia mampu melaksanakan kebijakan para dewa; dia memberi mereka panggilan cinta laki-laki untuk perempuan. (rf/red/dari berbagai sumber)


comments

No comments:

Post a Comment