Latest News

Monday, 7 November 2016

Relawan untuk Sesama - Cerita KITONG SARAI 2016

Sabu, Cakrawala NTT

Setelah mengadakan kegiatan kunjungan inspirasi ke Nuataus, Fatuleu Barat, dan Pulau Semau di tahun 2015, gerakan KITONG (Kunjungan Inspirasi Timor untuk Berbagi) kembali melakukan kunjungan di bulan Oktober 2016, dan kali ini Kabupaten Sabu menjadi tujuannya. Setelah melewati persiapan yang cukup panjang, dengan berbagai kerumitan prosesnya kegiatan ini pun dimulai dengan keberangkatan tim kordinasi lapangan dan relawan menuju pulau Sabu pada Rabu 26/11/2016 menggunakan kapal Ferry lambat. Tim relawan terdiri dari 20 orang relawan dengan berbagai jenjang usia dan juga beragam latar belakang profesi. Para pekerja sukarela ini dijadwalkan untuk mengikuti kegiatan yang berlangsung hingga Sabtu,28/10/2016.

Ragam Profesi dan Cerita

Media Pendidikan Cakrawala NTT berkesemptan untuk hadir sebagai salah satu relawan yang ikut serta dan termasuk dalam program Kelas Inspirasi. Program Kelas Inspirasi adalah salah satu program unggulan dari KITONG di mana para relawan akan bertugas untuk berbagi cerita di dalam kelas di sekolah di tempat mereka ditempatkan. Cerita ini biasanya didasarkan pada pofesi dan pengalaman kerja para relawan. Dari cerita ini diharapakan para pendengar di kelas nanti akan terinspirasi, semakin sadar akan pentingnya pendidikan, dan khazanah cita-cita mereka semakin kaya. 

Selama kegiatan berlangsung para relawan tinggal di kantor Yayasan SHEEP Indonesia, dan komunitas pemuda setempat seperti GAMPAR COMMUNITY, GPS, CIS-TIMOR, dan  AKSARA (Akademi Sabu Rai jua)  menjadi tim tuan rumah yang membantu berjalannya seluruh proses kegiatan. Dalam kegiatan MPC-NTT berkesempatan membagi cerita tentang profesi Jurnalistik dan pentingnya budaya Baca-Tulis di SD GMIT Depe. Bersama beberapa relawan dengan latar belakang profesi yang berbeda, Kelas Inspirasi berjalan dengan baik. Para siswa di sekolah dasar yang dipimpin oleh ibu Jolanda Djami S.Pd, awalnya masih rikuh dengan para relawan yang datang dengan cerita tentang profesi yang kebanyakan baru mereka kenal (Wartawan, Ahli Kimia, Sarjana Tenik Industri) namun seiring bergulirnya waktu anak-anak pun mulai terlihat antusias dan beberapa mulai bertanya.

Para relawan ini tidak hanya datang dari Kupang dan daerah lain di NTT, ada juga yang dari luar propinsi. Ahmad Baihaqi, mahasiswa Sekolah Pascasarjana Program Studi Biologi Universitas Nasional adalah seorang  pemuda relawan dari Jakarta. Pada lokasi penempatan Kelas Inspirasi di SMK Negeri 2 Sabu Barat dan rumah singgah Sabu Cerdas. Abay, sapaan akrabnya,  berbagi mengenai pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari pendidikan.
Abay adalah koordinator divisi kampanye dan pendidikan lingkungan hidup dari komunitas Transformasi Hijau. Sebuah komunitas yang banyak berkampanye tentang pelestarian alam dan makhluk hidup di dalamnya.  Bersama Abay, MPC-NTT berkesempatan untuk melakukan kegiatan observasi satwa liar, yaitu dengan mengamati satwa burung. Mengamati satwa seperti ini adalah sebuah kegiatan yang cukup disukai para siswa yang diasuh Abay dalam kegiatan kunjungan. Dengan berbekal teropong anak-anak ini mengawati satwa burung di sekitar sekolah mereka dan Abay akan menjelaskan kepada mereka jenis dan karakter burung yang diamati. Saat MPC-NTT bersama Abay melakukan pengamatan, seekor spesies burung berhasil kami amati yaitu Cekakak Suci (Todirhamphus sanctus).  “Ini burung yang asalnya dari Australia, jadi kemungkinan dia bermigrasi ke sini (Sabu)” Jelas Abay, tentang satwa yang diamati itu.

Buah-buah Harapan
Basis dari gerakan ini adalah pemuda. Salah satu bagian dari kegiatan ini adalah mengunjungi beberapa objek pariwisata di Sabu, antara lain : Gua Alam Lie Madira di desa Daieko, Bukit Salju (perbukitan kapur),dan Kelleba Maja (perbukitan batu-batu purba). Keaktifan para relawan muda ini dengan dunia Media Sosial diharapkan bisa memancarluaskan pesona dari objek-objek wisata ini. Para penggiat pendidikan di Sabu sendiri tengah bersemangat membangun daerah mereka, seorang relawan yang berasal dari Sabu, Ramlin Bunga, dalam KITONG SARAI ini ia membawa sejumlah lima ratus buku untuk membangun Taman Baca di kediamannya di Mesara. Taman Baca ini diharapkan akan menjadi tempat di mana anak-anak di Mesara akan mendapat akses untuk membaca, dan juga pusat pengembangan kegiatan kebudayaan lainnya seperti pengembangan budaya pembuatan tenun ikat Sabu. Harapan yang lain, selain benih inspirasi yang sudah diberikan akan bertumbuh baik, adalah semakin banyak pemuda berjiwa relawan bersemangat penjelajah yang mau belajar dari sesama, dan tentu saja berbagi untuk sesama. (Armando)

 

comments

No comments:

Post a Comment