Latest News

Thursday, 10 November 2016

RASA PUN TERBAGI

Thadeus Edison Putra *
CERPEN
RASA PUN TERBAGI

Saat kucoba menebar rasa dalam pergulatan semu yang membuatku tak dapat berpikir leluasa untuk menebar riuhnya pesona cinta. Ya cinta, satu ekspresi kata yang kadang tak membuatku tak bergumul terlalu lama dalam situasi ini. Banyak orang mengutarakan bahwa cinta laksana air yang keluar dari pusat padang gurun yang seakan menjadi penyegar dahaga jiwa serta penyejuk batin. Di lain sisi, cinta adalah hembusan kata yang tak bisa dipeka langsung oleh visualisasi namun dapat merangkaikan sejuta sensasi yang dapat disadur dalam sederet rima indah puisi dengan menghadirkan berbagai situasi. Ada suka maupun duka. Begitu juga pertemuan tak selamanya lekang tanpa adanya perpisahan. Ya, itulah mood cinta. Suka atau tidak anda harus berlapang dada menyikapi pergulatan tersebut.

Ketika orang di luar sana berlomba-lomba dalam mengejar panorama cinta. Aku lebih memilih tuk berdiam diri. Lugu tak berdaya. Diam bukan berarti aku tak peka berproses dalam melabuhi gelagat itu. Namun, sesungguhnya diri ini terasa lebih nyaman dengan situasi yang sedang ku jalani sekarang. Menghabiskan malam dengan tumpukan tugas, bercanda bersama teman-teman di pelataran kos, atau sekedar beradu energi pada aktivitas lain yang tentu ingin menyudahi hari serta menghapus arti dari kesunyiaan. Namun, seiring berjalannya waktu, suasana yang ku agungkan tersebut mulai ditelan oleh kebisuan rasa. Batin seakan menjadi kejam ketika menyaksikan teman-temanku bergumul rasa dalam ikatan satu hati dengan pasangan sejatinya masing-masing. Bergandengan tangan, bertukaran kado, sampai bergantian kartu ponsel hingga tak terasa terjerumus dalam kenikmatan duniawi. Lama-lama hal inilah yang menjadi akut ketenangan batinku.

Kadang dalam kesunyian aku sering bergumam, ”Apakah ini kadar motivasi sesungguhnya dari percintaan?”

“Haruskah aku berlabuh ke alam tersebut secepatnya?’’ batinku.

Pejam tak terbantahkan. Hingga akhirnya aku dikagetkan dengan nada pesan masuk di nokia buntutku. ‘’Kak, aku rasa saatnya aku harus pergi”, gurau pesan itu.

Sontak, aku terbangun dari lamunanku. Kuselami kata demi kata. Memastikan bahwa aku tak berada di samudera mimpi. Nyata. Kucoba memencet tombol call. Namun, hasilnya nihil. Rupanya, suara yang kudapati hanyalah pesan di luar jangkuan. Hatiku bersusah payah memerangi semrawutnya batin . Berlari tak tahu arah. Ke manakah aku memulai langkah. Menggapai dia di sana yang kesemuannya terpampang jelas dalam logika sehatku. Aku pun tak karuan. Segera kudapati skywave Suzuki hitamku. Segera kulabuhkan diriku berpetualang ke tempat tinggalku.

Hati pun bertanya-tanya, ”ada apa di balik semua ini?”

Terasa begitu aneh bagiku. Aku pun masih terkenang saat bersamanya. Saat dia memberikan senyum simpulnya kepadaku di tempat fotokopi itu. Beradu pandang dalam suasana kelinglungan batinku. Aku pun terobsesi dalam rasa cinta kala itu. Saat kucoba melayangkan hembusan perasaanku kepadanya di bawah rimbunan pohon gamal di sebelah warung kopi di kampusku.

Sesekali tatapannya tajam memandangi onggokan karang yang saat itu menjadi saksi bisu empat mata kami. Dari raut mukanya menggambarkan bahwa dia sedang dalam kegelisahan. Dia pun membuka kembali kebekuan suasana tersebut.

“Kak. Jujur saja, sebenarnya saya memiliki rasa yang sama terhadap kak. Tapi,untuk saat ini saya minta maaf kak. Bukannya, saya tak menghargai perasaan sukanya kak kepada saya. Tapi, saya tak mau kak menyesali suatu saat nanti saat kita menjalinkan suatu hubungan,” imbuhnya dengan sketsa wajah yang tak dari biasanya.

“Apa yang terjadi padamu?” sambungku.

“Ini privasi kak. Supaya kak tahu bahwa saya sudah ada hubungan special dengan orang lain,” timpalnya.

Hening. Diam tak ada limitnya. Serasa ribuan kosakata yang telah dipelajari tertelan oleh keganasan sang terik mentari. Sesekali pohon lontar melambaikan dedaunanya ke kiri dan ke kanan yang seakan menyembunyikan peraduan birunya langit. Sungguh, rasa itu sudah mulai tercecer rapi pergi bersama terbangnya abu-abu putih di depan persimpangan jalan itu. Rasa yang membuatku berada dalam keadaan penuh harap untuk menggapainya. Gelora kebersamaan yang mendalangi makna diujung makna suatu pertemuan lambat laun harus kubingkiskan jauh-jauh bersama kaburnya mentari diujung perantauan hari.


Dan tiba-tiba aku pun dikagetkan dengan kerumunan orang di tepi kiri kanan jembatan tua di kota kecil ini. Kata orang di luar sana, kota ini merupakan salah satu kota yang sangat menjunjung tinggi arti dari persaudaraan. Terbukti, status sebagai ”Kota Kasih” masih disandang sampai saat ini. Ironisnya, penyandangan simbolis tersebut seakan terlelap dalam berbagai tindakan asusila yang menghanyutkan nyawa di tempat yang sarat akan nilai kesakralan ini, di jembatan tua ini . Segera kuparkir sepeda motorku dan beralih ke tempat yang sudah dipenuhi oleh bervarian kepala. Botak, bulat, lonjong, keriting, hingga lurus menjadi santapan para jurnalis dalam meliput hebohnya suasana panas saat itu.

Aku pun menghampiri pria separuh baya yang tepat berdiri di sudut beton jembatan tua itu. Perawakannya tinggi. Dari raut wajahnya sudah menjelaskan bahwa dia sudah berumuran 50 tahun ke atas. Di mulutnya tedapat sekumpulan sirih pinang yang terus dimamahnya hingga menyerupai sekumpulan air berwarna merah kental. Sungguh nikmat dia menikamati suasana tersebut.

“Maaf. Apa yang sedang terjadi, Pak?” tanyaku.

“Cerita lama, nak,’’ jawabnya.

Aku pun memahami maksud dari jawaban singkatnya.

Mataku seakan berhenti saat aku mendapati sehelai kertas yang berada di bawah pijakan kaki kananku. Dari tampangnya tentu mengisyarakatkan adanya hubungan dengan apa yang terjadi.

“Tapi untuk apa dia menulis pesan segala kaya adegan di film saja?” protesku.

Segera kuraih barang tersebut dan mulai melihat isinya.

”Apa ???!!!”

Aku pun terperangah sesaat. Rasanya dentuman halilintar menghantam sukma hati. Gendang telinga serasa membengkak ketika sekerumunan orang pun mulai menghampiriku. Serta menanyakan apa yang aku bacakan. Rasanya aku ingin berada di bawah sana bersamanya. Bersama dia yang sempat membuatku gila akan tatapannya di tempat fotokopi saat itu. Menghabiskan kembali waktu bersama di sebelah warkop di kala itu.

Sungguh, hati tak kuasa menerima semuanya berakhir seperti ini. Tapi, takdir berkata lain. Dalam secarik kertas itu dia berkeluh tentang masa depannya yang suram akibat terpaksa menanggung beban menjadi ibu rumah tangga seketika. Dia malu akan semuanya itu sedangkan pahlawan yang berlabuh di hatinya sudah mengarungi bahtera cinta yang lain dengan orang di luar sana.

“Biarkan aku harus mengikhlaskan semuanya terjadi. Mungkin aku tidak datang menyelamatkanmu di saat yang tepat. Tapi, seutuhnya rasa ini harus cepat terbagi di sini karena sesungguhnya kita tak ditakdirkan tuk bersama. Izinkanlah jembatan ini menjadi saksi bisu atas tercecernya rasa kita. Perintahkanlah udara agar menerbangkan rasa-rasa yang terpenjara ini di antara hembusan sepoinya angin malam yang hanya menyisakan serpihan-serpihan cahaya dari kisi-kisi kecil awan yang tak sanggup menahan cahaya rembulan.”

*Mahasiswa semester V UNDANA
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
Prodi Pendidikan Bahasa Inggris

2 comments:

  1. Terima kasih MPC NTT. Media pembaca yang berkualitas. Maju terus MPC khususnya halaman "Here We Are".

    ReplyDelete
  2. telah dimuat dan diterbitkan oleh MPC NTT dalam Majalah Edisi 60 halaman 46

    ReplyDelete