Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

OSOL DAN/ATAU OSOP? (Derma Gagasan untuk Pendidikan NTT Berkualitas, Merata, Partispatif, dan Cerdas)

Oleh: Gusty Rikarno, S.Fil., M.I.Kom.

(Direktur Rumah Literasi Cakrawala NTT)


Prolog  

 

Pendidikan Indonesia terus bertransformatif mendorong pembelajaran berkualitas dan mengukur kemampuan murid dengan lebih baik. Untuk mendukung hal tersebut, salah satu kegiatan yang sedang dipersiapkan oleh Kemendikdasmen adalah Tes Kemampuan Akademik (TKA). TKA dibuat berdasarkan landasan kebijakan Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025. Jika merujuk pada hasil TKA jenjang SMA/SMK secara nasional, maka NTT meraih juara satu dari terakhir.

 

Benar! NTT berada di posisi terendah di antara seluruh provinsi dengan rata-rata nilai 33,07. Rincinanya, nilai TKA Bahasa Indonesia sebesar 47,78, Matematika sebesar 31,73, dan Bahasa Inggris sebesar 19,17.

 

Untuk diketahui, TKA merupakan bahan validator mutu. Nilai rapor boleh didongkrak tapi tidak dengan TKA. Hasilnya bisa dilihat sebagai gambaran mutu sebuah daerah, tetapi juga prasyarat Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Selain itu, pertimbangan masuk PTN dengan jalur Mandiri atau masuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sesuai dengan kebijakan masing-masing PTS.

 

Inilah wajah pendidikan kita saat ini. Di tengah situasi ini, sebuah program adaptif digerakkan secara masif oleh Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, yang diberi nama One School One Product (OSOP). Para kepala sekolah adalah pengelola aset daerah. Diharuskan untuk ikut meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tidak heran, bila semua sekolah mulai “bergerak” minimal mendapatkan satu produk unggulan sekolah. Ada yang tanam terung, cabai, membuat minyak VCO, dan sebagainya. Intinya, harus produktif. Di hadapan para kepala sekolah, Gubernur NTT berbicara pelan tapi tegas. 

 

“Ke depan, setiap sekolah harus punya produk unggulan. Yang jago tata boga, produksi makanan; yang jago pertanian, hasilkan produk pertanian; yang jago digital, hasilkan aplikasi dan media. Semua harus berdampak langsung ke masyarakat. NTT Mart ini akan jadi seperti Alfamart atau Indomaret, tapi isinya produk NTT. Keripik, minuman lokal, tenun, kosmetik herbal, dan lainnya. Ini jadi wadah promosi sekaligus alat belajar ekonomi,” ungkap Gubernur NTT.

 

Misi Menghadirkan Pendidikan Berkualitas

 

Banyak yang menilai program OSOP berpotensi menggeserkan orientasi pendidikan. Guru Besar Undana, Feliks Tans, misalnya. Ia mengingatkan sekolah untuk siap menerima dan mendidik setiap muridnya dengan bakat/potensi, minat, dan kebutuhan belajar yang tidak selalu seragam dengan murid yang lain.

 

Karena itu, yang sekolah butuhkan bukan satu produk unggulan, tetapi bagaimana sekolah menjamin bahwa apapun mimpi dan imajinasi masa depan atau cita-cita seorang anak harus sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhan belajar yang akan terlihat atau bahkan setelah dia mengenyam pendidikan di sekolah itu.

 

Dengan demikian, menurutnya, OSOP menyalahi ide freedom to learn dari Carl R. Rogres dan juga ide pendidikan yang membebaskan berdasarkan dialog yang sarat makna antara pendidikan dan anak didiknya dari Paulo Freire. 

 

OSOP yang dikembangkan Gubernur NTT adalah program adopsi dari konsep One Vilage One Product (OVOP). Sedikit informasi, konsep OVOP pertama kali digagas oleh Morihiko Hiramatsu, Gubernur Prefektur Oita, Jepang, pada tahun 1979. Gerakan ini berpijak pada tiga prinsip utama, yakni local yet global (berbasis lokal namun berstandar global), self-reliance and creativity (kemandirian dan kreativitas), serta human resource development (pengembangan sumber daya manusia).

 

Penting untuk dicatat bahwa Hiramatsu menekankan bahwa tujuan akhir OVOP bukanlah sekadar peningkatan pendapatan ekonomi jangka pendek, melainkan pembangunan kapasitas manusia agar mampu berpikir kreatif dan mandiri dalam mengelola potensi daerahnya.

 

OVOP dan OSOP memiliki konteks yang berbeda, juga dalam hal penerapannya. Mengadopsi OVOP menjadi OSOP tanpa sikap kritis akan mereduksi pendidikan menjadi alat produksi ekonomi. Murid diposisikan sebagai calon produsen dan bukan subjek belajar yang sedang bertumbuh.

 

OSOP membawa logika pasar terlalu dini ke ruang sekolah. Nilai kepala sekolah, guru, dan murid diukur dari produk sehingga keberhasilan belajar direduksi menjadi laku atau tidak laku. Akibatnya, murid belajar berhitung untung-rugi, bukan berpikir kritis. Secara filosofis, OSOP bertentangan dengan hakikat pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia (humanisasi), pembentukan nalar, etika, dan imajinasi, bukan sekadar pencipta barang.

 

Saya menulis, “Pak Gubernur, Pendidikan NTT Mau Dibawa ke mana?”. Pertanyaan ini mendapat konteksnya karena OSOP “keluar” dari dari visi dan misinya Gubernur dan Wakil Gubernur NTT yang terlihat cukup serius berpikir tentang upaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan NTT.

 

Mereka mengusung visi “NTT Sehat, Cerdas, Maju, dan Sejahtrera”. Atau dengan versi lain, NTT bisa maju dan sejahtera kalau masyarakatnya sehat dan cerdas. Visi ini terjabar dalam salah satu misinya, yakni menghadirkan pendidikan berkualitas, merata, partisipatif, dan tepat sasaran (cerdas).

 

Mari kita urai perlahan visi dan misi tersebut sambil melirik implementasinya. Visi NTT cerdas dijabarkan dalam misi menghadirkan pendidkan bermutu. Wah, hebat sekali ini. Tidak hanya sampai di situ. Ternyata berkualitas saja tidak cukup, tetapi juga merata, partisipatif, dan tepat sasar.

 

Saya bangga karena Gubernur NTT mengunjungi sekolah untuk beberapa kegiatan seremonial semisal panen raya tomat, cabe atau hadir ulang tahun sekolah. Saya berpikir, ini langkah awal yang baik. Makin sering ke sekolah, Gubernur NTT makin dekat dengan para kepala sekolah, para guru, dan murid. 

 

Namun, mari kita jujur. Apakah visi misi tersebut sudah berjalan baik? NTT cerdas dengan pendidikan berkualitas, merata, dan tepat sasar seperti tidak ada benang merah dengan hasil Tes TKA. Oh maaf, Gubernur NTT baru dilantik. Jadi, masih harus melihat dulu, tertawa bersama warga sekolah, dan membangun chemistry.

 

Namun, hadirnya program OSOP membuat saya ragu, apakah Gubernur NTT benar-benar serius berpikir untuk meningkatkan kualitas pendidikan NTT? Saya paham, hal itu pasti menguras energi. Pendidikan itu kompleks. Bukan hanya soal sumber daya manusia, tetapi juga tata kelola, sarana dan prasarana, personalia, serta sebagainya. Rumit! Urus sekolah itu, urus manusia. Bukan urus barang dan jasa. 

 

OSOL Dan/Atau OSOP?

 

Menulis ini adalah bagian dari cara saya (kami) mencintai NTT. Sebuah derma gagasan agar pendidkan NTT dibangun di atas fondasi pertimbangan rasional dan profesional. Mengklaim OSOP memiliki manfaat besar dalam dunia pendidikan terutama dalam meningkatkan kualitas SDM yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing itu, menurut saya, merupakan utopia bila tidak dilandasi kemampuan bernalar dan berpikir kritis.

 

Dalam konteks pendidikan, inovasi produk, baik barang maupun jasa, harus lahir dari sebuah proses pembelajaran mendalam (deep learning). Pembelajaran mendalam adalah pendekatan yang menekankan pemahaman konsep secara mendalam, keterlibatan aktif, dan pengembangan kompetensi murid melalui pembelajaran bermakna, kontekstual, dan menyenangkan. Berbeda dengan pembelajaran hafalan (surface learning), metode ini bertujuan membangun kemampuan berpikir kritis (HOTS), kolaborasi, kreativitas, dan refleksi mandiri untuk menghadapi tantangan masa depan. 

 

Misi pendidikan Gubernur NTT adalah menghadirkan pendidikan berkualitas dengan membentuk manusia yang utuh (akal, karakter, dan keterampilan), menghasilkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif, serta tidak berhenti pada kelulusan atau produk, tetapi pada kapasitas hidup.

 

Secara ontologis, kualitas pendidikan menentukan “manusia macam apa” yang dihadirkan oleh negara dan daerah ini. Apakah manusia yang berpikir instan dan tidak mau menghargai proses? Ataukah manusia yang berpikir sendiri sehingga mampu membaca peluang kerja yang bermartabat?

 

Sementara itu, secara epistemologis, pendidikan berkualitas menjadikan pengetahuan bukan hafalan, tetapi alat memahami dan mengubah realitas. Maka, kualitas tidak boleh diukur semata dari angka atau sebuah produk, tetapi dari daya pikir dan daya hidup berkelanjutan.

 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, menjelaskan bahwa ide OSOP tidak jauh dari ide membangun pendidikan dan berkualitas di jalan literasi. Kerja cerdas dan terukur dari banyak mitra di jalan sunyi lterasi tidak dinilai sia-sia dengan kehadiran OSOP. Keduanya bisa disinergikan dalam konteks pembelajaran yang utuh dan komprehensif.

 

Tugas kita adalah menjaga agar OSOP harus datang dari kemandirian dan kemerdekaan berpikir penghuni satuan pendidikan yang bernama pendidikan menengah (dikmen). Salah satu program yang terus dihidupkan secara kreatif adalah Genta Belis. Dengan demikan, hasil penerbitan sebagai karya berpikir guru dalam rupa buku, artikel, atau jurnal sederhana adalah bagian dari OSOP. 

 

Dalam konteks ini, Gubernur NTT tidak pernah memaksakan produk tertentu ke sekolah. Semua diputuskan bersama warga sekolah yang tentunya berangkat dari pengenalan potensi masing-masng. Hanya, memang diakui bahwa daya tangkap para kepala sekolah bervariasi sehingga tidak mampu menjelaskan secara baik ke seluruh warga sekolah dan hanya bisa mengatakan bahwa OSOP adalah arahan pemerintah yang harus “diamankan”. Maka, OSOP terlihat dangkal dan keluar dari konsep dasar sebuah pendidikan yang membebaskan. 

 

Mari kita dudukkan konteks, arah pemikiran, dan sasaran yang mau didapat sesuai visi dan misi Gubernur NTT. Kata “dan/atau” yang dipakai secara bersamaan dalam judul tulisan ini merupakan konjungsi (kata hubung) yang digunakan untuk menunjukkan bahwa satu, lebih, atau semua pilihan yang dihubungkan dapat terjadi atau berlaku. Ungkapan ini tidak lazim kecuali dalam ragam bahasa hukum, peraturan perundang-undangan, dan dokumen kontrak untuk memberikan fleksibilitas. 

 

Menurut Hortensia Herima, Kepala SMKN 3 Komodo, OSOP tidak bisa diterapkan untuk semua jurusan di sekolahnya. Maka, dari berapa jurusan yang ada, SMKN 3 Komodo hanya mengusung seni pertunjukan sebagai produk unggulan sekolah. Hal ini dibuat karena Uji Kompetensi Keahlian (UKK) mengisyaratkan harus punya karya masing-masing. Artinya, produk ini berangkat dari sebuah landasan keilmuan yang jelas dan terukur.

 

Para murid, ungkap Hortensia, memahami kenapa mengambil jurusan seni pertunjukan, keterampilan apa yang ada di dalamnya, dan bagaimana peluang jangka panjangnya. Dengan demikian, produk ini lahir dari sebuah kebebasan dan kesadaran. 

 

Hal yang sama juga disampaikan Frumensius Hemat, Kepala SMAN 6 Kota Komba, Manggarai Timur. Menurutnya, OSOP harus diarahkan ke para guru dan murid mulai dari skala yang lebih kecil dan bernuansa literatif. Satu guru atau satu murid bisa menghasilkan satu produk literasi, seperti puisi, opini, pentingraf, atau tulisan kreatif lainnya. Maknanya sederhana saja, OSOP ala SMAN 6 Kota Komba mencoba memberi spirit kesadaran belajar. Nah, mari kita perlahan masuk ke inti terdalamnya. Bisa diartikan semacam benang merah penghubungnya. One School One Literacy dan/atau One School One Product

 

Derma Pikiran untuk Menghadirkan Pendidkan Berkualitas, Merata, Partisipatif, dan Tepat Sasaran

 

Ketika saya menulis, “Pak Gubernur, Pendidikan NTT Mau Dibawa ke mana?”, banyak yang menyajikan ragam alternatif pikiran berupa sanggahan dan apresiasi. Beberapa bahkan mewanti-wanti kalau tulisan ini bakal menmbulkan “jarak” antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT dengan Rumah Literasi Cakrawala NTT yang selama ini sudah berjalan bersama sebagai mitra.

 

Salah satu pesan yang menarik misalnya, “Pak Gusty, kami berharap untuk konsisten berpikir positif. Kita bangun pendidikan NTT dengan pandangan yang konstruktif”. Saya sangat paham dan begitulah kadar literasi kita. Kalau ada alternatif pikiran, maka langsung divonis sebagai bentuk “penyerangan” atau ekpresi tidak suka.

 

Padahal, saya menulis dengan satu sikap sadar. Pendidikan NTT dibangun dengan kompas nalar yang jelas dan tegas. Bukan ekspresi emosional murahan. Sebagai akhir dari tulisan ini, ada beberapa derma gagasan untuk Gubernur NTT agar tetap berada di jalan misi pendidikan untuk NTT maju dan sejahtera. 

 

Pertama, NTT memliki sekian banyak permasalahan yang harus diselesaikan dan tentunya menguras energi besar. Menulis ini adalah bentuk kepedulian saya dan kami semua dari Rumah Literasi Cakrawala NTT. Tidak bermaksud mengabaikan banyak persoalan di banyak bidang lain, mari fokus mengurus dunia pendidikan NTT. Para guru dan anak-anak NTT memiliki sekian banyak potensi yang tidak akan pernah selesai dipanen bila digarap dengan baik.

 

Jika persoalan kita adalah hasil TKA terendah secara nasional, mari mengambil langkah-langkah konkret dan strategis. Meningkatkan kompetensi guru dan peserta didik jauh lebih konkrit dan nyata ketimbang wacana memperbaiki patung Pancasila yang mangkrak beberapa tahun lalu. Apa artinya simbol Garuda itu, sementara banyak guru dan generasi muda NTT mengalami dehidrasi literasi. Sekali lagi, mari fokus urus pendidikan NTT. Mari jujur, berapa anggaran untuk peningkatan mutu. Jangan sampa jauh lebih rendah dari sekadar membangun hal-hal lain yang tidak relevan. 

 

Kedua, mari kita bergerak dalam napas sinergitas dan kolaborasi. Banyak yang peduli untuk ikut membangun dunia pendidikan NTT. Di daerah ini, ada banyak mitra pembangunan pendidikan yang selalu siap mendermakan pikiran, tenaga, dan bahkan anggaran untuk mutu pendidikan di daerah ini. Jika kemudian saat ini kita kesulitan mendongkrak PAD, maka hemat saya, karena salah satu alasan mendasar, NTT defisit sumber daya manusia berkualitas dan bukan takdir yang harus diterima dengan penuh iman.

 

Saya paham, bisa saja upaya meningkatkan mutu pendidikan tidak berdampak langsung secara politik praktis, tetapi semesta bakal mememluk niat baik Gubernur NTT. Ada sebuah prasasti hidup yang abadi di hati generasi muda. Kami dari Rumah Literasi Cakrawala NTT selalu setia di jalan ini, jalan sunyi literasi NTT. Kami bergerak dalam napas sinergitas, kolaborasi, dan sebongkah hati untuk memberi diri secara utuh untuk NTT tercinta.

 

Ketiga, upaya meningkatkan PAD sebaiknya direspon dalam satu kerja yang terukur, jelas, dan elegan. Kalau boleh, bebaskan pikiran para kepala sekolah tentang beban ini agar fokus mengurus sekolah. Para guru dan murid hadir dari konteks kondisi lingkungan dan sumber daya yang berbeda. Para kepala sekolah diajak untuk berpikir dan hindari kata “harus”. Kata ini baik untuk sebuah motivasi tetapi berbahaya dalam hal sikap konsisten.

 

Kali ini, mereka rajin menanam cabai dan melakukan panen raya. Namun, mungkin setelahnya tinggal kenangan. Maaf saja, ada yang semangat menghasilkan produk hanya sekadar menyenangkan Gubernur NTT. Bukan lahir dari kesadaran dan pertimbangan keberlanjutan. 

 

Keempat, perlunya untuk merancang kembali peta jalan pendidikan NTT. Hal ini pernah dibuat beberapa tahun lalu, tetapi “menguap” di tengah jalan, padahal sudah menguras anggaran yang tidak sedikit. Kami adalah pelaku sekaligus korban dari sebuah perencanaan yang tidak matang itu.

 

Pendidikan NTT – dalam jangka pendek, jangka menengah, dan jangak panjang – mau dibawa kemana? Gubernur NTT pasti mengingat program “gong belajar”, “tanam jagung panen sapi”, dan “sekolah jam 5 pagi”. Apa kabarnya kini? Para kepala sekolah, guru, murid, dan bahkan orang tua merasa bingung, resah, dan trauma dengan program yang hangat-hangat ta’i ayam itu.

 

Mari kita jujur pada diri, sejauh mana kita memberi diri untuk masa depan anak-anak NTT. Menurut saya, imajinasi dan masa depan generasi muda jangan dibuat bercanda. Kita segera lakukan rakor dan merancang peta jalan pendidikan (literasi) NTT yang relevan, berkelanjutan, dan tepat sasar.  

 

Epilog

 

Penjelasan filosofis atas misi Gubernur NTT di bidang pendidikan adalah menghadirkan pendidikan yang berkualitas, merata, partisipatif, dan tepat sasaran. Pendidikan adalah hak dasar warga negara, tanggung jawab moral, dan politik negara, alat pemanusiaan manusia. Bukan sekadar layanan administratif. Misi ini berangkat dari pandangan bahwa negara tidak boleh netral terhadap kualitas hidup warganya dan pendidikan adalah instrumen paling fundamental untuk itu.

 

Selain itu, pendidikan berkualitas itu merata. Setiap anak memiliki kesempatan yang adil untuk belajar, tidak ada diskriminasi geografis, ekonomi, atau sosial. Hal ini berakar pada keadilan distributif (Aristoteles) dan keadilan sebagai fairness (John Rawls). Artinya, negara wajib memberi perhatian lebih kepada yang tertinggal, bukan menyamaratakan. Pendidikan merata bukan berarti sama rata, tetapi adil sesuai kebutuhan dan kondisi.

 

Akhirnya, pendidikan adalah praktik sosial, bukan proyek birokrasi. Dalam konteks ini, partisipasi itu menumbuhkan rasa memiliki, memperkuat keberlanjutan kebijakan, serta membangun kepercayaan antara negara dan warga. Ini sejalan dengan gagasan pendidikan demokratis (John Dewey), serta dialog dan kesadaran kritis (Paulo Freire).

 

Menghadirkan pendidikan berkualitas, merata, partisipatif, dan tepat sasaran adalah upaya negara memastikan setiap anak tumbuh sebagai manusia bermartabat dan setiap wilayah memiliki masa depan yang adil. OSOL dan/atau OSOP adalah sebuah pertanyaan. Sengaja dibiarkan menggantung untuk ruang berpikir bagi semua stakeholder pendidikan. Bersama kita bangun pendidkan NTT dalam kompas nalar yang jelas tegas. NTT butuh kita semua. (MDj/red)


Post a Comment

0 Comments