Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

Dinas Pendidikan NTT Gelar Peningkatan Kompetensi Literasi Numerasi bagi Guru se-Kabupaten Belu

Para guru sedang mengikuti sesi pre-test dan asesmen awal.


Belu, CAKRAWALANTT.COM - Dewasa ini, membangun dunia pendidikan yang bermutu adalah tugas kolektif yang harus diwujudkan dengan semangat kolaboratif. Kolaborasi ini menjadi penting mengingat pendidikan merupakan salah satu pilar penyangga sumber daya manusia. Sumber daya manusia berperan penting dalam proses pembangunan sekaligus sebagai subyek yang menggerakkan pembangunan itu sendiri. Maka dari itu, melalui kehadiran pendidikan yang bermutu, pembangunan sumber daya manusia bisa terwujud dengan semangat kolaboratif.

 

Namun, upaya membangun pendidikan yang bermutu tersebut selalu diterpa oleh berbagai tantangan. Misalnya, pencapaian rapor pendidikan yang masih rendah, khususnya pada aspek literasi dan numerasi. Secara umum, literasi merupakan kemampuan untuk membaca situasi, mengolah informasi, menganalisis persoalan, serta menyusun strategi pemecahan masalah. Sayangnya, kemampuan ini masih tergolong rendah dalam dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, menerangkan bahwa pencapaian rapor pendidikan tersebut disebabkan oleh (salah satunya) rendahnya kecakapan literasi, baik di kalangan guru dan peserta didik. Menurutnya, literasi sangat penting dalam dunia pendidikan, sebab dengan kecakapan literasi, guru dan peserta didik bisa memahami dan menganalisis informasi atau bahan bacaan, mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif, menciptakan inovasi, serta berkolaborasi dan membentuk karakter.

 

“Semua itu bisa menunjang peningkatan mutu pendidikan. Maka dari itu, literasi sangat penting,” ungkapnya, Selasa (7/10/2025), saat memberikan arahan bagi para guru melalui sambungan zoom meeting.


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, saat memberikan arahan bagi para guru, Selasa (7/10/2025)

Berangkat dari kondisi tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT melalui Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan menyelenggarakan Kegiatan “Peningkatan Kompetensi Literasi Numerasi Guru di Kabupaten Belu” selama empat hari, yakni Selasa-Jumat (14-17/10/2025), di SMA Negeri 1 Atambua. Kegiatan yang diikuti oleh empat puluh orang guru yang berasal dari berbagai sekolah di Kabupaten Belu tersebut dibuka secara resmi oleh Koordinator Pengawas SMA/SMK dan SLB Kabupaten Belu, Margaritha S. J. Sabuna, Selasa (14/10/2025).

 

Dalam arahan awalnya, Margaritha mengungkapkan bahwa literasi dan numerasi adalah aspek fundamental dalam membangun pendidikan. Menurutnya, literasi harus dipahami secara lebih luas. Literasi, sambungnya, tidak sekadar membaca dan menulis, tetapi lebih dari itu, literasi berkaitan erat dengan kemampuan memahami dan menganalisis persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, dalam konteks pendidikan, terang Margaritha, literasi harus dikuasai dan dibiasakan di setiap mata pelajaran.

 

“Literasi dan numerasi tidak bisa hanya dibebankan pada satu mata pelajaran, tetapi harus dikuasai dan dibiasakan di setiap mata pelajaran,” tegasnya.



Margaritha menambahkan, guna mewujudkan pembelajaran yang literat, guru sebagai pemimpin sekaligus penggerak pembelajaran harus meningkatkan kompetensinya secara berkelanjutan sehingga mampu memberikan pembiasan yang maksimal bagi peserta didik.

 

“Literasi dan numerasi masuk dalam aspek penting, sehingga guru juga harus meningkatkan kapasitas dan kompetensinya,” tegasnya lagi.

 

Senada dengan itu, Ambrosius kembali mengingatkan bahwa guru harus mampu membiasakan dan mengembangkan aspek literasi, tidak sekadar sebagai rutinitas atau pemenuhan tuntutan, tetapi menjadi kultur dalam lingkungan pendidikan. Ia berharap, kultur tersebut bisa menghidupkan Program “Genta Belis (Gerakan NTT Membaca, NTT Menulis)” yang digaungkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.

 

“Semoga literasi bisa hidup menjadi kultur di lingkungan pendidikan,” pungkasnya.



Pantauan media, para guru yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut didampingi secara intens oleh para narasumber dari Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT. Proses pendampingan akan berlangsung secara tatap muka dan online hingga bermuara pada penerbitan buku elektronik ber-ISBN. Untuk diketahui, selain berlangsung di Kabupaten Belu, kegiatan serupa juga diselenggarakan di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kabupaten Manggarai. (MDj/red)      


Post a Comment

0 Comments