![]() |
| Para guru sedang mengikuti sesi pre-test dan asesmen awal. |
Belu, CAKRAWALANTT.COM - Dewasa ini, membangun dunia pendidikan yang bermutu
adalah tugas kolektif yang harus diwujudkan dengan semangat kolaboratif. Kolaborasi
ini menjadi penting mengingat pendidikan merupakan salah satu pilar penyangga
sumber daya manusia. Sumber daya manusia berperan penting dalam proses
pembangunan sekaligus sebagai subyek yang menggerakkan pembangunan itu sendiri.
Maka dari itu, melalui kehadiran pendidikan yang bermutu, pembangunan sumber
daya manusia bisa terwujud dengan semangat kolaboratif.
Namun, upaya membangun pendidikan yang bermutu
tersebut selalu diterpa oleh berbagai tantangan. Misalnya, pencapaian rapor
pendidikan yang masih rendah, khususnya pada aspek literasi dan numerasi.
Secara umum, literasi merupakan kemampuan untuk membaca situasi, mengolah
informasi, menganalisis persoalan, serta menyusun strategi pemecahan masalah.
Sayangnya, kemampuan ini masih tergolong rendah dalam dunia pendidikan di Nusa
Tenggara Timur (NTT).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT,
Ambrosius Kodo, menerangkan bahwa pencapaian rapor pendidikan tersebut
disebabkan oleh (salah satunya) rendahnya kecakapan literasi, baik di kalangan
guru dan peserta didik. Menurutnya, literasi sangat penting dalam dunia
pendidikan, sebab dengan kecakapan literasi, guru dan peserta didik bisa
memahami dan menganalisis informasi atau bahan bacaan, mengasah kemampuan
berpikir kritis dan kreatif, menciptakan inovasi, serta berkolaborasi dan
membentuk karakter.
“Semua itu bisa menunjang peningkatan mutu pendidikan.
Maka dari itu, literasi sangat penting,” ungkapnya, Selasa (7/10/2025), saat
memberikan arahan bagi para guru melalui sambungan zoom meeting.
![]() |
| Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, saat memberikan arahan bagi para guru, Selasa (7/10/2025) |
Berangkat dari kondisi tersebut, Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Provinsi NTT melalui Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan
menyelenggarakan Kegiatan “Peningkatan Kompetensi Literasi Numerasi Guru di
Kabupaten Belu” selama empat hari, yakni Selasa-Jumat (14-17/10/2025), di SMA
Negeri 1 Atambua. Kegiatan yang diikuti oleh empat puluh orang guru yang
berasal dari berbagai sekolah di Kabupaten Belu tersebut dibuka secara resmi
oleh Koordinator Pengawas SMA/SMK dan SLB Kabupaten Belu, Margaritha S. J.
Sabuna, Selasa (14/10/2025).
Dalam arahan awalnya, Margaritha mengungkapkan bahwa
literasi dan numerasi adalah aspek fundamental dalam membangun pendidikan. Menurutnya,
literasi harus dipahami secara lebih luas. Literasi, sambungnya, tidak sekadar
membaca dan menulis, tetapi lebih dari itu, literasi berkaitan erat dengan
kemampuan memahami dan menganalisis persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Maka
dari itu, dalam konteks pendidikan, terang Margaritha, literasi harus dikuasai
dan dibiasakan di setiap mata pelajaran.
“Literasi dan numerasi tidak bisa hanya dibebankan
pada satu mata pelajaran, tetapi harus dikuasai dan dibiasakan di setiap mata
pelajaran,” tegasnya.
Margaritha menambahkan, guna mewujudkan pembelajaran
yang literat, guru sebagai pemimpin sekaligus penggerak pembelajaran harus
meningkatkan kompetensinya secara berkelanjutan sehingga mampu memberikan
pembiasan yang maksimal bagi peserta didik.
“Literasi dan numerasi masuk dalam aspek penting,
sehingga guru juga harus meningkatkan kapasitas dan kompetensinya,” tegasnya
lagi.
Senada dengan itu, Ambrosius kembali mengingatkan
bahwa guru harus mampu membiasakan dan mengembangkan aspek literasi, tidak
sekadar sebagai rutinitas atau pemenuhan tuntutan, tetapi menjadi kultur dalam
lingkungan pendidikan. Ia berharap, kultur tersebut bisa menghidupkan Program
“Genta Belis (Gerakan NTT Membaca, NTT Menulis)” yang digaungkan oleh Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.
“Semoga literasi bisa hidup menjadi kultur di
lingkungan pendidikan,” pungkasnya.
Pantauan media, para guru yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut didampingi secara intens oleh para narasumber dari Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT. Proses pendampingan akan berlangsung secara tatap muka dan online hingga bermuara pada penerbitan buku elektronik ber-ISBN. Untuk diketahui, selain berlangsung di Kabupaten Belu, kegiatan serupa juga diselenggarakan di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kabupaten Manggarai. (MDj/red)




.jpg)



0 Comments