Kupang, CAKRAWALANTT.COM - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada
Masyarakat (LPPM) Universitas Katolik Widya Mandira, menyelenggarakan kegiatan
Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) program Akuisisi Pengetahuan Lokal
yang digagas oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Jumat
(20/06/2025). Kegiatan ini menghadirkan Ismail Sulaiman, S.Sos., M.Si., Ahli
Madya Penata Penerbitan Ilmiah BRIN, sebagai narasumber utama, dan diikuti oleh
dosen serta mahasiswa UNWIRA.
Program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN
merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk menghimpun dan mendokumentasikan
berbagai konten pengetahuan lokal dalam bentuk buku dan audiovisual. Tujuan
dari program ini adalah menjadikan pengetahuan lokal sebagai sumber literasi
terbuka yang dapat diakses masyarakat luas melalui kanal publik BRIN.
Adapun kategori karya yang dapat diajukan dalam
program ini mencakup beberapa jenis buku, seperti buku ilmiah, buku ilmiah
populer, buku ajar atau pegangan, buku pedoman atau panduan, serta buku cerita
bergambar atau komik pengetahuan. Sementara untuk kategori audiovisual,
mencakup film dokumenter, film animasi, film fiksi, dan dokumentasi kreatif
inovatif.
Kepala LPPM UNWIRA, Dr. Maximus M. Taek, M.Si.,
dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret
LPPM untuk mendorong Civitas Academica, khususnya dosen dan
mahasiswa, agar lebih aktif berkontribusi dalam kerja-kerja akademik yang
berdampak luas bagi masyarakat.
“Kita harus akui bahwa kita masih sangat kurang
informasi tentang program-program seperti ini, padahal BRIN menyediakan banyak
skema yang sangat relevan dan bisa kita akses,” terangnya.
Dr. Maximus mencontohkan salah satu karya yang
mengangkat isu pelestarian budaya bangsa di wilayah perbatasan yang berhasil
diterima dalam program ini, sebagai inspirasi bagi peserta. Ia menilai ada
banyak potensi kearifan lokal yang dimiliki NTT yang dapat dikaji lebih lanjut.
Berangkat dari hal tersebut, ia mengajak seluruh
peserta untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan baik untuk memperoleh
pemahaman yang mendalam mengenai mekanisme dan peluang program Akuisisi
Pengetahuan Lokal BRIN.
Ia secara khusus mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam
program akuisisi ini, khususnya untuk kategori audiovisual yang dinilai relevan
dengan kehidupan anak muda saat ini.
Sementara itu, Ismail Sulaiman, S.Sos., M.Si.,
menjelaskan bahwa ruang lingkup keilmuan dalam program akuisisi ini tidak
terbatas pada sosial humaniora.
“Yang terpenting bagi BRIN adalah kajian dalam
karya tersebut berpotensi atau memiliki nuansa kearifan lokal,” ungkapnya.
Ismail menjelaskan bahwa seluruh karya yang
masuk akan melalui proses penilaian dengan penekanan pada aspek legalitas,
orisinalitas, dan kualitas karya. Ia juga menekankan bahwa hak kepemilikan atas
karya yang diakusisi tetap berada di tangan penulis atau kreator. (Yosefa Saru/red)





0 Comments