Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

TIM DOSEN UNWIRA LAKUKAN PKM DI SMPK SINT VIANNEY SOE




TTS, CAKRAWALANTT.COM – Tridharma perguruan tinggi merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.  Tridharma yang mencakup aspek pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat merupakan suatu keharusan yang tidak boleh diabaikan oleh seorang dosen. Dosen seyogyanya bukan cuma sebagai seorang pendidik, tetapi ilmu yang dimilikinya harus dapat dimanfaatkan untuk bisa melaksanakan penelitian yang sejalan dengan bidang keilmuannya dan hasil tersebut harusnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat melalui program pengabdian pada masyarakat.

Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (Unwira) sebagai universitas yang terus berbenah diri untuk berkembang agar mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional selalu memberikan dorongan kepada para dosen agar dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (PKM). Hal ini yang menjadi dasar adanya suatu kegiatan PKM yang dilaksanakan melalui kegiatan Pemberdayaan guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran IPA SMP melalui Lesson Study Learning Of Comunity (LSLC) pada SMPK Sint Vianney, Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebagai sekolah mitra.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dosen Unwira, yang diketuai oleh Yanti Rosinda Tinenti, M.Pd., dari Program Studi Pendidikan Kimia. Adapun anggota dalam tim ini yakni Anselmus Boy Baunsele, S.Pd., M.Sc., dari Program Studi Pendidikan Kimia, dan Hildegardis Misa, S.Pd., M.Si., dari Program Studi Pendidikan Biologi. Kegiatan ini tergolong dalam Jenis program kemitraan masyarakat (PKM) yang memenangkan Hibah Kompetitif Kemenristekdikti tahun 2019.

Kegitan PKM ini dilaksanakan pada bulan Maret  2019 dan akan berakhir pada bulan September 2019 yang terdiri dari beberapa jenis kegiatan. PKM diawali dengan sosialisasi LSLC dan mekanisme pelaksanaannya yang dibawakan oleh Kepala Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Unwira, Hironimus Tangi, M.Pd. Diungkapkannya, kegiatan awal ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada guru-guru dalam melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi/refleksi proses pembelajaran dalam sistem LSLC.

Kegiatan selanjutnya adalah workshop pengembangan lembar kegiatan peserta didik (LKPD) dan instrumen penilaian aspek keterampilan siswa, workshop pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai standar proses pembelajaran dan instrumen penilaian aspek pengetahuan yang berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat tinggi/high order thingking (HOT) siswa, pendampingan guru dalam mengimplementasikan perangkat pembelajaran dan instrumen penilaian dalam proses pembelajaran di kelas, diskusi untuk menghimpun masukan dari pengamat, pendamping, dan dari guru yang melaksanakan proses pembelajaran sebagai evaluasi/refleksi yang merupakan tahap akhir pada pelaksanaan sistem LSLC .

Menurut Ketua Tim PKM, Yanti Rosinda Tinenti, M.Pd., kegiatan ini didasarkan pada salah satu hasil observasi awal di sekolah mitra yang menemukan bahwa, proses pengembangan perangkat pembelajaran dan pelaksanaannya di kelas masih dilakukan secara individual oleh setiap guru bidang studi IPA, dan belum dilakukan dalam kelompok.  Dengan demikian masalah dalam proses pembelajaran belum teridentifikasi dengan baik, dan solusinya belum didiskusikan dan diselesaikan secara bersama.

Lebih lanjut diungkapkan pula, dengan menerapkan sistem LSLC yang terdiri dari tahap Perencanaan (Lesson Plan), Pelaksanaan Pembelajaran (research lesson), Evaluasi/refleksi (Lesson Discussion) pada kegiatan PKM yang melibatkan 6 orang guru IPA ini telah berhasil memecahkan permasalahan tersebut.  Dimana guru-guru telah dapat mengembangkan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan standar proses, dan instrumen penilaian yang sesuai dengan standar penilaian, serta menerapkannya dalam proses pembelajaran di kelas.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala SMPK Vianney, RD. Johannes A. Tnomel, Pr. Menurutnya, penerapan sistem LSLC ini merupakan salah satu langkah baik dalam mempersiapkan proses akreditasi sekolah, terutama penguatan pada standar proses dan standar penilaian yang semestinya perlu untuk dilakukan secara  terus menerus. (*)

Post a Comment

0 Comments