Latest News

Thursday, 1 September 2016

TINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DENGAN PEMBELAJARAN BERBASIS TIK

Maria Adeci Oni Oki, S.Ag.MM - Guru SMK Katolik  Kefamenanu, Kabupaten TTU

Pelajaran Agama Katolik merupakan pintu dari semua komponen mata pelajaran    yang secara esensial menjadi dasar dan jembatan terbentuknya kepribadian dan iman peserta didik agar menjadi pribadi yang beriman, berilmu dan bermoral. Tantangan yang dihadapi adalah peserta didik kurang berminat dan terlibat aktif dalam mengikuti pelajaran Agama Katolik. Hal ini mengandaikan ada sesuatu yang kurang, tidak menarik baik dari segi pribadi guru, materi, metode, media ataupun langkah yang diterapkan guru. Kondisi umum ini menantang Guru Agama Katolik menemukan solusi yang tepat dan relevan, salah satunya adalah menggunakan media berbasis TIK karena pada dasarnya media adalah alat bantu yang dapat memperjelas infromasi yang hendak disampaikan maupun diterima.   
Secara teori, media berasal dari kata bahasa latin medius yang artinya tengah, perantara atau pengantar. Artinya media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Media dapat berupa buku, alat, metode, teknik, alam yang dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi suasana belajar, membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan perasaaan dan pikiran, serta mengefektifkan komunikasi dan interaksi dalam proses pembelajaran, membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap peserta didik. Hal ini sesuai dengan pendapat Gerlach dan Ely yang dikutip oleh Azhar Arsyad (2011), yang menyebutkan bahwa guru, buku teks, alat dan lingkungan sekolah adalah media yang membantu peserta didik  memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau sikap.
Ada beberapa fakta yang ada berdasarkan pengalaman mengajar di kelas XI MM SMK  Katolik  Kefamenanu sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran seperti laptop dan in fokus. Kondisi sebelumnya dari pihak guru, yakni bahwa guru harus ekstra menyiapkan diri karena harus lebih banyak berbicara, menguras tenaga dan waktu, monoton karena komunikasi satu arah, dari 24  siswa hanya sebagian yang serius dan antusias mendengar penjelasan guru, itupun belum tentu dapat merekam dan memahami dengan baik. Sementara itu, pihak siswa hanya menatap sambil mendengarkan ceramah dari guru, merasa jenuh dan bosan, suasana kurang rileks, mengantuk, tidak tertarik dan berminat, hanya angguk-angguk dan menjawab sudah paham jika ditanya, malu dan takut bertanya ataupun menjawab karena takut salah, kurang paham karena tidak semua penjelasan direkam dengan baik dan lengkap,  lebih memilih diam dan mendengar, terkadang ijin keluar ruangan dengan berbagai alasan, asyik berceritera dengan teman ketimbang mendengar penjelasan guru dan ataupun sibuk dengan hal atau benda lain yang lebih menarik.
Hal ini disebabkan oleh kurangnya keterampilan dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, guru kurang memperhatikan sikap atau respon peserta didik selama proses pembelajaran, media buku cetak kurang memadai, guru tidak menerapkan metode yang relevan, bukan gaptek tetapi belum tersedianya media proyektor di sekolah dan terbatas. Kondisi ini tentu tidak mendukung suasana pelajaran Agama Katolik. Akibatnya warta gembira yang didengar dan diterima terasa biasa-biasa saja, tidak menarik, dan bahkan tidak mengesankan.
********baca selengkapnya di Majalah Cakrawala NTT Edisi 56
atau download PDF File Cakrawala NTT Edisi 56
Klik link ini untuk download: CakrawalaNTT56
Cakrawala NTT-E56
comments

No comments:

Post a Comment