![]() |
| Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, saat memberikan arahan melalui sambungan daring. |
Manggarai Barat, CAKRAWALANTT.COM - Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan
Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M., memberikan apresiasi kepada Sekolah
Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Welak, Kabupaten Manggarai Barat, yang sukses
menyelenggarakan kegiatan workshop literasi. Kegiatan yang didukung oleh
Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT ini berlangsung selama tiga hari ini,
yakni Senin-Rabu (10-12/8/2026),
Ambrosius mengatakan, literasi harus dipandang sebagai
aspek prioritas di lingkungan pendidikan. Dewasa ini, ungkapnya, literasi tidak
boleh sekadar menjadi program tambahan, tetapi keharusan yang harus
diwujudnyatakan. Semua warga sekolah, tanpa terkecuali, wajib menjadikan
literasi sebagai budaya yang terus hidup. Maka dari itu, menurutnya, SMA Negeri
1 Welak telah mulai menghidupkan literasi sebagai budaya sekolah.
“Literasi membaca dan menulis itu harus dipandang
sebagai keharusan, bukan hanya keterampilan, apalagi program tambahan,” tegas
Ambrosius melalui sambungan daring, Senin (10/8/2026).
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam
meningkatkan budaya literasi. Ambrosius kembali mengapresiasi SMA Negeri 1
Welak yang telah menggandeng mitra pembangunan pendidikan yang turut memberikan
sentuhan dan inovasi baru, khususnya dalam pengembangan dan peningkatan
literasi.
“Gaya pendampingan literasi yang kekinian wajib
menyentuh kebutuhan. Apalagi, kegiatan membaca dan menulis harus dilakukan dari
apa yang disukai agar perlahan menjadi kegemaran dan kebiasaan,” ungkapnya.
Ambrosius menambahkan, pendekatan adaptif yang
menyentuh pengembangan minat dan bakat peserta didik dan guru mampu memicu
kegembiraan dan kepercayaan diri dalam berkarya. Dalam hal ini, ia mendukung
metode workshop literasi yang dilakukan oleh Yayasan Rumah Literasi Cakrawala
NTT, salah satu mitra pembangunan pendidikan. Menurutnya, inovasi yang
diterapkan oleh Cakrawala NTT mampu menyentuh kebutuhan peserta didik dan guru
melalui asesmen-pemetaan minat dan bakat di bidang menulis.
Memulai dengan Asesmen dan Pemetaan
Minat-Bakat
Sementara itu, Direktur Yayasan Rumah Literasi
Cakrawala NTT, Gusty Rikarno, S.Fil., M.I.Kom., menjelaskan, workshop literasi
yang digelar di SMA Negeri 1 Welak diawali dengan proses asesmen awal serta
pemetaan minat dan bakat. Dari lima puluh peserta didik yang berpartisipasi,
sambung Gusty, mayoritasnya memiliki ketertarikan terhadap jenis tulisan
kreatif, khususnya penulisan perjalanan hidup (autobiografi).
“Dengan asesmen dan pemetaan awal, kami bisa
mengetahui minat dan bakat para peserta. Hasil ini kemudian menjadi basis
pendampingan kami hingga mereka mampu melahirkan karya tulis,” ungkap Gusty.
Menurut Gusty, inovasi yang diterapkan oleh Yayasan
Rumah Literasi Cakrawala NTT tersebut mampu meruntuhkan pandangan banyak orang
bahwa menulis adalah aktivitas yang sulit atau hanya bisa dilakukan oleh orang
atau pihak tertentu. Padahal, dengan strategi dan metode yang tepat,
sambungnya, menulis dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan.
“Kami memulai dari apa yang disukai atau diminati.
Biarkan mereka menuangkan gagasan tanpa takut melakukan kesalahan. Dengan
dukungan dan pendampingan yang interaktif, mereka kemudian mampu melahirkan
karya secara mandiri,” tambah Gusty.
Gusty menuturkan, kegiatan workshop tersebut tidak
hanya berhenti di dalam ruangan atau saat kegiatan usia, tetapi terus
berlanjut. Para peserta, sambungnya, akan dibimbing lebih lanjut, mulai dari
tahap penggalian ide cerita, penyusunan struktur narasi auobiografi, penggunaan
tata bahasa yang komunikatif, hingga proses penyuntingan naskah akhir.
Untuk diketahui, guna mendukung keberlanjutan dampak (outcome), pihak sekolah turut melibatkan
para guru pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia selama workshop berlangsung.
Nantinya, mereka bisa membiaskannya di kelas ketika proses pembelajaran
berlangsung. Kolaborasi strategis antara SMA Negeri 1 Welak, Yayasan Rumah Literasi
Cakrawala NTT, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT ini
diharapkan dapat memantik lahirnya sekolah-sekolah berbasis literasi di
Manggarai Barat maupun seluruh NTT. (red)






0 Comments