Latest News

Thursday, 18 June 2020

HARI SASTRA NTT? GONE WITH THE WIND


JB Kleden
Penikmat sastra, Tinggal di Kota Kupang
DI HARI ULANG TAHUN tentu ada macam-macam perilaku untuk mengungkapnya. Bila bapak atau ibu keluarga berulang tahun, tentu semua bumbu di dapur masuk kucuali atau seisi keluarga pergi makan di restoran favorit keluarga plus cipika-cipiki. Lalu sang ibu pergi cerita ke kelompok arisan ibu-ibu satu kampung. Kalau si bungsu ulang tahun pasti semua teman kelasnya diundang. Kalau sang kekasih ulang tahun, nah senja di langit kota itu milik mereka. Jangan tanya lagi kenapa. Kalau sebuah organisasi yang ulang tahun, pasti ada spanduk, umbul-umbul bahkan kegiatan sponsorship.

Kalau peringatan hari Sastra NTT? Nah ini yang bikin bingung. Sampai ada yang bertanya setengah mencibir, ada ya Hari Sastra NTT? Siapa yang tetapkan 16 Juni sebagai hari Sastra NTT. Pro kontra, itu biasa, sama halnya penetapan hari Sastra Indonesia 3 Juli yang bertepatan dengan hari lahir Abdoel Moeis. Artikel ini tidak mendebatkan itu. Perdebatan itu telah selesai dan post-factum. NTT sudah punya Hari Sastra NTT, 16 Juni  sesuai denga hari lahir Gerson Poyk, sastrawan NTT asal Rote itu. Dasar pemilihan telah melalui proses panjang oleh sejumlah sastrawan, bersama utusan Pemerintah Provinsi NTT, dan perwakilan Kantor Bahasa, yang memiliki otoritas untuk pengembangan, pembinaan dan pelindungan terhadap bahasa dan sastra  (Baca, Yohanes Sehandi, https://www.cakrawalantt.com/2020/06/hari-sastra-ntt-16-juni-dan-kinerja.html atau lebih awal pada https://kupang.tribunnews.com)

***
Apakah penting adanya Hari Sastra NTT?  Menurut Yohanes Sehandi, pemerhati sastra yang saya sebut sebagai “Paus Sastra NTT” karena konsistensinya dalam mendokumentasikan dan mempromosikan sastra NTT, Hari Sastra NTT itu penting.  Pertama, sebagai kesempatan untuk menanamkan rasa cinta dan bangga bahwa NTT memiliki kekayaan kultural di bidang sastra dan budaya yang tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia. Kedua, sebagai kesempatan menanamkan kesadaran tentang pentingnya budaya literasi, membaca dan menulis, sebagai ciri peradaban modern dan pasca-modern. Ketiga, sebagai kesempatan untuk memasyarakatkan karya-karya para sastrawan NTT ke berbagai lembaga pendidikan di tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK, dan PT. Keempat, sebagai kesempatan bagi pemerintah daerah di NTT, untuk menjadikan karya sastrawan NTT sebagai sarana diplomasi budaya NTT di tingkat nasional dan internasional. 

Hebat sekali. Lalu? Untuk memberi bobot khusus pada peringatan Hari Sastra NTT,  16 Juli 2020, “Paus Sastra NTT” itu memberikan gambaran umum tentang kinerja sastrawan NTT sampai hari ini. Pertama, penerbitan buku sastra, yang meliputi puisi, cerpen, novel, dan drama, sampai dengan 16 Juni 2020 sebanyak 250 judul buku. Antologi puisi 107 judul, antologi cerpen 59 judul, novel 79 judul, dan antologi drama sebanyak 5 judul. Kedua semaraknya kegiatan komunitas sastra di NTT. Ada beberapa komunitas sastra yang disebutkan seperti Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kupang yang menerbitkan Jurnal Sastra Santarang, Komunitas Sastra Filokalia Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang yang menerbitkan Jurnal Filokalia, Komunitas KAHE di Maumere yang menerbitkan Jurnal Sastra Dala ‘Ela, Komunitas Rumah Sastra Kita (RSK) NTT, yang telah menerbitkan 2 antologi puisi dan 2 antologi cerpen masing-masing di tahun 2018 dan 2019 dengan tema kerukunan. Ketiga keikutsertaan penyair NTT dalam buku babon Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017) yang diterbitkan Penerbit Yayasan Hari Puisi Indonesia, Jakarta.

***
Cuma Itu? Pertanyaan ini penting bagi para penggagas yang melahirkan Hari Sastra NTT, kalau mereka tak mau disebut ibu yang kurang ajar karena melahirkan anak lalu membuangnya begitu saja. Pertanyaan ini penting karena banyak sekali pertemuan yang digagas pemerintah atas nama pembangunan dan pengembangan bahas dan sastra, termasuk temu sastrawan di Ende itu, sedikit sekali yang memberikan sesuatu yang berarti, selain output penyerapan anggaran. Kegiatan sudah dilaksanakan dan ini hasil dokumentasinya. Pertanyaan ini penting karena pencatatan yang dilakukan Yohanes Sehandi adalah sebuah karya pribadi dalam sunyi yang dilakukannya sejak dulu, yang membuat saya menyebutnya “Paus Sastra NTT”, bukan karena adanya Hari Sastra NTT.

Pertanyaan ini penting, karena tanpa Hari Sastra NTT pun penerbitkan itu tetap ada. Belum terhitung karya sastra NTT yang bertebaran di media sosial dan media online. Lagi pula, tanpa bermaksud merendahkan usaha yang ada, sebagai sebuah kritik konstruktif, artikel yang ditulis “Paus Sastra NTT” di Media Cakrawala NTT dalam memperingati Hari Sastra NTT 16 Juni 2020, isinya 11 12 dengan yang telah dipublikasikan di media Pos Kupang pada tahun 2016.

Maka pertanyaan cuma itu? bisa kita ubah menjadi apakah di antara para sastrawan yang melahirkan Hari Sastra NTT, hanya “Paus Sastra NTT” itu yang sadar bahwa mereka telah melahirkan seorang anak, dan  karena itu, untuk hari ulang tahunnya ia menulis sebuah litania historis sekadar mempertegas slogan melawan lupa tentang siapa yang berperan dalam melahirkan Hari Sastra NTT?

Jika cuma itu, maka betapa menyedihkan! Ibarat ibu-ibu kurang ajar yang nafsunya besar untuk melahirkan anak, hanya untuk membuangnya di jalanan. Jika cuma itu yang bisa dilakukan, maka tidak ada lagi yang perlu dipercakapkan di sini karena itu cuma onani. Dalam sejarah litania kejantanan para founders memang sering membuat kita sayu. Hari Sastra NTT, Gone With The Wind.

***
Hari Sastra NTT harus menjadi satu kapak es untuk memecahkan laut yang membeku dalam diri kita. Sebab kesusatraan sebagaimana kehidupan, selalu ada bersama kita tanpa rencana. Sastrawan kita, khususnya penyair kita sekarang, dengan adanya media sosial, telah terlanjur memiliki kekenesan digital. Puisi telah menjadi pengucapan pribadi, dengan cinta, benci, kerinduan, kecongkakan serta keyakinan yang tak bisa tidak memunculkan individualitas sang penyair. Tak ada soal dengan itu semua. Ini akibat dari digitalisasi yang musti diterima sebagai kenormalan baru dalam bersastra, bahwa hasrat untuk tampil secara unik dan beraneka ragam tak bisa dicegah.

Pesona hipnotis Rendra membaca puisi yang memukai audiens, gaya eksentrik Sutardji Calzoum Bachri dengan menegak berbotol-botol bir sudah lewat. Generasi milenial senang berpuisi dengan gaya tik-tok-an. Maka kita perlu semacam demokratisasi. Dalam demokratisasi ini jelas yang dituju bukanlah melahirkan buku sastra, melainkan ramainya orang berbahagia dengan partisipasinya dalam penciptaan kreatif. Seniman besar tetap diperlukan. Penerbitan buku sastra penting. Tetapi bila itu semua tak ada, kita tak perlu merasa kehilangan, jika saja kita mampu membangkitkan kegembiraan orang bersastra di Hari Sastra NTT.

Mengapa ini penting? Karena kalau mau dihitung masyarakat sastra NTT (yang aktif, sastrawan, kritikus, peminat, penikmat) mungkin cuma 10 persen atau tidak sampai dari total penduduk NTT. Ini bukan soal bicara tentang keterpencilan sastra NTT, tetapi tentang bagaimana menghidupkan sastra, agar 90 % masyarakat NTT yang tidak terlibat aktif sastra juga merasakan bahwa dulce et utile dalam sebuah karya sastra seyogyanya adalah juga sejenis harapan yang membantu manusia untuk membedakan hal baik dan buruk, juga mana hal indah dan semrawut di tengah rutinitas kehidupan yang boyak ini.

***
Ignas Kleden saat bincang-bincang sastra dengan mahasiswa STFK Ledalero (15/9/2018)  menyentil tentang perwujudan identitas yang mestinya disumbangkan oleh para sastrawan di NTT dalam kancah sastra Indonesia. Identitas yang memberikan kekhasan pada sebuah karya sastra itu terletak pada medium penyampaian dari sastra itu sendiri yaitu bahasa. Dengan demikian, ketika berbicara mengenai sastra NTT, pandangan mestinya tertuju kepada keberadaan sastra lisan NTT yang menggunakan bahasa-bahasa daerah dari NTT atau karya sastra yang menggunakan bahasa-bahasa daerah dari NTT. Selama ini yang ada dalam perkembangan sastra NTT adalah karya-karya sastrawan NTT yang menggunakan medium bahasa Indonesia untuk mengungkapkan realitas yang ada di NTT. Dengan demikian sesungguhnya sastra NTT itu tidak ada. Yang ada dan berkembang sekarang justru adalah sastra Indonesia yang ada di NTT

Hari Sastra NTT tentu bukan untuk menghadirkan kembali sastrawan besar NTT di masa lampau. Hidup adalah river of no return. Juga bukan menghadirkan sastra Indonesia atau sastra dunia di NTT. Hari Sastra NTT untuk menghidupkan Sastra NTT. Mari memberi bobot pada Hari Sastra NTT dengan mencari tematik dan bentuk baru Sastra NTT demi memperkaya identitas sastra Indonesia. Sumbangan berupa bentuk baru itu dapat dilakukan dengan mencari bentuk pada sastra tradisional yang menggunakan bahasa daerah dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Dari Nusa Tenggara Timur untuk Nusantara.

Mungkin pada titik ini kita perlu membicarakan pembangunan infrastruktur pengembangan sastra di NTT yang ditopang oleh pusat-pusat kemerdekaan akspresi, seperti kampus, kelompok seni, media sosial yang satu sama lain selayaknya bekerjasama. Infrastruktur sastra ini terjalin ke masyarakat terutama ke sekolah melalui literasi, agar anak-anak dalam pembelajaran sastra berbahagia dengan partisipasinya dalam penciptaan kreatif, termasuk menggali khazanah sastra lisan dalam bahasa lokal NTT.

Untuk maksud ini ke depan perlu dipikirkan untuk membentuk wadah para sastrawan NTT atau apapun namanya, dengan jurnal sastra online yang dikelola dengan baik. Para Penyair NTT yang berdomisili di NTT, seperti  Pius Rengka, Amanche Franck Oe Ninu, Kristopel Bili, Marsel Robot, Mezra E. Pellondou, Suster Wilda, Mila Lolong, Yos Gerard Lema; atau pegiat literasi seperti Gusty Rikarno, Maximus Masang Kian, Christian Dicky Senda, dan lain-lain bisa memulai langkah awal itu. Crescit in eundo.

***
DI akhir catatan ini saya teringat Mila Lolong, perempuan hitam manis puteri Lomblen, yang menerbitkan kumpulan puisinya Perihal Pulang. Ia menulis di laman FBnya singkat tetapi bersahaja di batas cakrawala. “Selamat Hari Sastra NTT”. Lalu ia mengutip Hans Hayong “Jika kita tak bisa menulis menulis. Maka, lakukan sesuatu untuk ditulis.” Dan ia pun baca puisi. Baca puisi untuk Hari Sastra NTT. Hanya saya tidak tahu, puisi apa yang ia bacakan. Juga tidak tahu apakah ia membaca puisi dalam bahasa ibunya atau bahasa bapaknya. Acta est fabula, plaudite! Hari Sastra NTT 2020 telah lewat bertepuk tanganlah. (*)
comments

No comments:

Post a comment