Latest News

Monday, 24 April 2017

“Ayo Kita Bangun NTT”

(Dua Jam Bersama Melki Laka Lena di PDSK)


Emanuel Melkiades Laka Lena berpose bersama anggota KSK pada Minggu, 23 April 2017

Kota Kupang, Cakrawala NTT

Tak dipungkiri bahwa Propinsi NTT adalah propinsi yang berpijak pada khazanah pluralism. Keberagaman yang membingkai jatidiri propinsi yang sering dicap pesimistis Nanti Tuhan Tolong itu, menuntut sebuah gerakan bersama untuk tetap menjaga keharmonisan yang ada. Ini memang tidak mudah jika kita meruntut dinamika demokrasi  yang sedang dibangun di propinsi yang pernah dianugerahi  penghargaan sebagai propinsi yang menjaga kerukunan antar agama ini. Yang terjadi bahwa ego kepentingan pribadi, kelompok, suku/kedaerahan, sektoral masih kuat mencengkram dan melilit secara halus tata tumbuh semua sisi bidang kehidupan yang menjadi “domain” pembangunan daerah.

Berhadapan dengan fenomena yang sadar tidak sadar memantik kedisharmonisan dalam keberagaman yang ada maka perlu dibangun paradigma baru untuk menutup celah ini. Salah satunya seperti yang digagas sekaligus disampaikan Ketua Yayasan Tunas Muda Indonesia, Emanuel Melkiades Laka Lena ketika bertatap muka dengan anggota Komunitas Pondok Diskusi Secangkir Kopi (PDSK) pada hari Minggu, 23 April 2017 kemarin. Dalam diskusi ala KSK yang dipandu Bruder Hans Ebang, aktivis muda yang jika dipercayakan siap berkompetisi memperebutkan kursih NTT 1 ini menegaskan bahwa NTT bisa maju jika masyarakat NTT mampu mendesain keharmonisan khazanah keberagaman di NTT dengan sebuah kekuatan baru yang saling merangkul dan menumbuhkan satu sama lain. Dalam tataran politik misalnya modal politik, modal ekonomi dan  modal sosial yang menjadi kekuatan setiap orang, komunitas dan organisasi kemasyarakatan yang diyakini punya daya ungkit untuk membangun NTT perlu diberdayakan secara maksimal tanpa mendiskreditkan satu sama lain.

Suasana diskusi di pondok secangkir kopi
Untuk itu menurutnya perlu dibangun ruang-ruang atau kesempatan-kesempatan potensial bagi semua anak NTT baik di dalam maupun diaspora bahkan semua orang yang mencintai NTT untuk memberikan kontribusi positifnya dalam memajukan NTT di semua aspek kehidupan. Menurut pria yang juga menjadi anggota Kelompok Inti Forum Politisi Muda Lintas Parpol, tagline, “Ayo Bangun NTT” yang dihembuskan selama ini merupakan sebuah seruan motivatif bagi semua anak NTT supaya mulai bergerak bersama untuk membangun NTT tanpa ada sekat pemisah yang merongrong jatidiri NTT sebagai propinsi pluralism.

“NTT tidak akan maju jika selalu berpikir untuk diri kita sendiri, kelompok, suku, agama dan daerah (pulau) tempat tinggal kita masing-masing. Apalagi berusaha membangun sekat-sekat pemisah atas dasar keberagaman ini. Kita harus melintasi (passing over) tembok pemisah ini dengan cara pandang baru dengan membangun sebuah keprihatinan yang sama oleh dari dan untuk semua demi NTT yang lebih maju, “tegas  Tenaga Ahli Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI ini.

Suasana diskusi di pondok secangkir kopi
Pada tempat yang sama Agustinus Rikarno, Pemimpin Umum Media Pendidikan Cakrawala NTT (MPC NTT) yang juga merupakan anggota inti komunitas PDSK menyambung baik ide cerdas ini. Menurutnya, ada banyak ide dan kerja-kerja kreatif yang bisa dibumikan masyarakat NTT pada umumnya dan anak-anak NTT khususnya untuk memajukan NTT. Salah satunya seperti yang sedang digalakkan MPC NTT dengan sayap kanannya anggota PDSK yaitu peduli dengan masalah-masalah pendidikan di NTT. Salah satu diantaranya adalah memboomingkan kesadaran masyarakat NTT untuk melek literasi. Dan upaya ini telah berproses di semua sekolah binaan MPC NTT di semua kabupaten dengan mengadakan berbagai bimtek menulis. Namun tak dipungkiri bahwa masih banyak keterbatasannya yang dialami dalam pelaksanaannya. Untuk itu diharapkan dukungan semua elemen masyarakat untuk menjemput ide baik dan kerja kreatif ini.

Hal senada juga dikatakan anggota inti Komunitas PDSK yang lain, EL Ro Kapitan dan Rian Seong Sengkang. Menurut mereka untuk peduli pada NTT yang berwajah pluralist ini, anak-anak muda NTT tidak boleh tinggal diam. Ada banyak hal kreatif yang bisa diberdayakan. Termasuk diantaranya bisa menjadi penggerak untuk mengadakan ruang-ruang diskusi yang kaya akan ide dan ilmu.

“Ruang-ruang diskusi harus diberdayakan. Bukan sekadar ruang diskusi eklusif. Ruang-ruang diskusi ini pun harus mengakomodir semua pihak baik masyarakat awam, kaum akademis, politik, birokrat untuk berbagi ide kreatif, kontruktif dan kritis untuk menggiring sebuah ide-ide pembangunan yang lebih besar. Ayo kita bangun NTT, “pungkas El Ro Kapitan pria yang saat ini dimandatkan sebagai Sekretaris Komunitas PDSK.

Suasana diskusi di pondok secangkir kopi
Terkait dengan pemberdayaan kegiatan-kegiatan kreatif harus dimulai dari sekarang juga diamini Rian Seong Sengkang. Namun menurutnya ruang-ruang diskusi yang dibangun bukan hanya mandek pada konsep semata tetapi harus direaliasasikan dengan tindakan yang nyata. Salah satu yang direncanakannya adalah menggelar pertunjukkan musik di SMP Surya Mandala, Kupang.

“Ada banyak ide dari ruang diskusi seperti yang digalakkan Komunitas PDSK telah membuka wawasan saya untuk melakukan sesuatu. Salah satunya adalah merencanakan penggelaran “musik toleransi” di SMP Surya Mandala, Kupang pada bulan Oktober tahun ini. Semoga rencana ini bisa terealisasi. Untuk itu saya minta dukungan semua pihak agar bisa membantu mewujudkan rencana ini, “tutur pria yang sekarang menjadi pengajar di SMAN 4 Kota Kupang.
Diskusi yang berjalan kurang lebih dua jam dari jam 14.30-16.30 dihadiri belasan anggota Komunitas PDSK dan Kepala SMP Surya Mandala, Yoseph Blikololong. (EL)
comments

No comments:

Post a comment