Latest News

Thursday, 9 February 2017

Dr. Harun: Lima Prioritas untuk STAKN Kupang

Kota Kupang, Cakrawala NTT

Dr. Harun Natonis, M.Si
Memasuki periode kedua kepemimpinannya di Sekolah Tinggi Agama Kristen Negri (STAKN) Kupang, Dr. Harun Natonis, M.Si., bertekad terus membangun kampus yang dinahkodainya tersebut menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas serta berdaya saing. Ditemui Cakrawala NTT di ruang Rektorat STAKN Kupang, Selasa (7/2/2017), mantan Kepala Seksi Pendidikan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT tersebut menguraikan sepak terjangnya ketika dipercayakan sebagai Ketua STAKN sejak tahun 2012.  

“Waktu jadi pimpinan, dipercayakan menteri sebagai Ketua STAKN Kupang, pertama yang saya buat adalah membangun SDM. Karena waktu alih status dari STAK menjadi STAKN, itu dosen saya S1 semua. S2 hanya 4 orang kalau tidak salah. Pas saya periode pertama semua sudah S2. Lalu yang kedua adalah membeli tanah dan bangun gedung kampus karena yang sekarang kita sewa milik Pemda Kabupaten Kupang. Lalu alat pengolah data dan lain-lain. Itu yang isi dalamnya. Sudah lumayan,” kisah Natonis.

Alat transportasi juga menjadapat perhatian tersendiri darinya. Atas perjuangannya, kampus STAKN Kupang kini sudah memiliki 16 buah kendaraan roda dua, dan 8 unit mobil yang sangat membantu aktifitas kampus dari sisi transportasi. Selain itu, dirinya juga melakukan pengembangan perpustakaan. Dari 400-an judul buku, kata Nubatonis, sekarang perpustakaan kampus yang dipimpinnya sudah memiliki di atas 4000-an judul buku dengan jumlah buku lebih dari 10.000 eksemplar.

“Kemudian penambahan tenaga pegawai dan dosen untuk bisa memperkuat pelayanan di kampus. Lalu yang berikut ialah kita berupaya untuk bagaimana memperkenalkan STAKN ini kepada masyarakat. Promosi dst. Sehingga terjadi peningkatan jumlah mahasiswa. Dari tadinya hanya 600-an orang sampai dengan posisi saya masuk periode kedua, itu sudah 3.000-an orang. Lalu dari sisi prodi, tadi hanya 2 prodi waktu saya pimpin. Sekarang sudah jadi 6. Dulu hanya Musik dan Pendidikan Agama Kristen (PAK), sekarang sudah ada PPG, Konseling, kemudian pasca (S2), dan doktoral (S3). Dulu hanya ada S1. Lalu dulu belum ada prodi yang terakreditasi, kita hanya modal ijin penyelenggaraan. Sekarang semuanya sudah terakreditasi dalam waktu yang sangat singkat,” jelasnya.

Selain berbagai terobosan di atas, Natonis menyadari bahwa untuk membangun sebuah lembaga pendidikan agar dapat berdaya saing, salah satu modal penting yakni jaringan kerja sama. Ia mengakui, awalnya STAKN Kupang hanya menjalin kerja sama hanya dengan kampus atau pun lembaga-lembaga di  dalam negeri. Namun sekarang, ungkapnya, STAKN Kupang sudah memiliki kerja sama dengan luar negeri yakni beberapa kampus di Korea dan Amerika.

Untuk kerja sama dalam negeri, STAKN Kupang telah menjain kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Nusa Cendana, Universitas Muhammadiyah Kupang, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, juga beberapa kampus di Bali serta Jakarta. Hingga tahun ini, jelasnya, jumlah kerja sama STAKN Kupang sudah mencapai 27 mitra. Selain menjalin kerja sama dengan pergutuan tinggi, STAKN Kupang juga membangun kerja sama dengan pihak gereja, juga dengan pemerintah. Misalnya terkait guru Agama Kristen, ada program percepatan guru dalam jabatan. Saat ini STAKN Kupang sudah bekerja sama dengan pemda Sumba Timur dan Alor dalam membantu guru agama yang melanjutkan pendidikan S1 khususnya untuk program percepatan.

Memasuki tahun 2017, ungkap Natonis, dirinya masih menganggap SDM sebagai prioritas utama, namun aka nada peningkatan yakni mendorong dosen-dosen S2 untuk bisa melanjutkan studi ke jenjang S3. Prioritas kedua adalah gedung kampus yang ditargetkan rampung pada 2018. Saat ini sudah ada 16 ruang yang sudah digunakan untuk perkuliahan (1 gedung). Namun kampus masih membutuhkan 1 gedung lagi untuk S1 sehingga total nanti 32 ruang kuliah. Kemudian, jelasnya, kampus berencana membangun lagi gedung untuk pascasarjana, perpustakaan dan IT, dan gedung rektorat, serta auditorium untuk ruang konser musik.

“Jadi prioritas pertama itu SDM. Kedua, gedung termasuk pengadaan tanah yang lebih luas dari sekarang. Ketiga, pembelajaran berbasis IT. Itu mimpi kami. Kemudian alih status dari STAKN menjadi Institut. Jadi, empat prioritas itu. Kenapa saya bilang percepatan alih status, karena dari sisi jumlah mahasiswa, kami memenuhi syarat yaitu 3.000 dan kita punya lebih dari 3.000. Kedua, animo masyarakat untuk masukkan anak ke STAKN itu tinggi. Ini program prioritas kami, termasuk pengembangan kerja sama,” jelas Natonis. (rf/adj/yl)
comments

No comments:

Post a comment