Latest News

Tuesday, 27 September 2016

JOHANIS S. OTTEMOESOE, S.E

Totalitas untuk PDAM dan Atletik Kabupaten Kupang

Ottemoesoe bersama para atlet PON Jabar 2016

Prinsip hidup Johanis Silvester Ottemoesoe, S.E., adalah “cepat kerja, kerja cepat.” Dengan prinsip ini, menurutnya, seorang pemimpin tidak akan merasa nyaman hanya duduk di belakang meja pimpinan. Baginya, seorang pemimpin perlu memiliki ide-ide besar untuk kemajuan institusi yang dipimpinnya. Namun, ide saja belumlah cukup. Ide tersebut harus diwujudnyatakan dalam tindakan tanpa menunda-nunda. Prinsip yang sama ia terapkan dalam totalitas pengabdiannya bagi daerah serta masyarakat, tidak hanya dalam kapasitasnya sebagai pimpinan PDAM Tirta Lontar Kabupaten Kupang.

TOTALITAS UNTUK PDAM TIRTA LONTAR

Dalam tugasnya sebagai Direktur Utama PDAM Tirta Lontar Kabupaten Kupang, sebagaimana pernah dilansir media ini, beberapa pencapaian penting patut dicatat. Pertama, selain membawa PDAM Kab. Kupang meraih predikat sebagai salah satu PDAM tersehat di NTT, tercatat dalam periode pertama kepemimpinannya, terjadi peningkatan PAD yang luar biasa. Dari tahun 2012 sebesar 400 juta, tahun 2013 sebesar 400 juta, hingga meningkat di tahun 2014 sebesar 600 juta. Peningkatan juga terjadi dalam hal jumlah pelanggan. PDAM Kabupaten Kupang yang awalnya hanya mencapai sekitar 5.000 pelanggan, tahun 2014 lalu meningkat tajam mecapai 31.957 pelanggan.

Terkit hal tersebut, situs perpamsi.or.id., menyebut salah satu kemajuan yang diukir selama kepemimpinan Ottemoesoe di periode pertama adalah PDAM Tirta Lontar termasuk dalam salah satu PDAM sehat dan masuk dalam program penghapusan utang oleh Menteri Keuangan. Sebelumnya, total utang PDAM sebesar Rp 13,6 miliar, namun berkat kinerja yang baik dan kepatuhan manajemen dalam membayar utang pokok sebesar Rp 4,3 miliar, akhirnya Kementerian Keuangan memberikan penghapusan utang mutlak sebesar Rp 9,3 miliar.

Di masa kepemimpinannya, Ottemoesoe juga pernah membuat terobosan berani yakni program pergantian meteran secara gratis sebanyak 950 buah kepada konsumen setia PDAM Kabupaten Kupang. Hal ini menjadi yang pertama sejak perusahaan ini berdiri. Dirinya juga menerapkan Geographic Information System (GIS), sistem pelayanan yang menggunakan satelit untuk mengontrol teknis dari sumber air, pengolahan, jaringan transmisi, dan distribusi sampai ke pelanggan. Hal ini terasa lebih lengkap dengan diterapkannya sistem pembayaran online melalui Automatic Teller Machine (ATM), dengan membangun kerja samadengan pihak terkait.

TOTALITAS UNTUK ATLETIK KABUPATEN KUPANG

Selain membuktikan totalitasnya sebagai Direktur Utama PDAM Tirta Lontar Kabupaten Kupang, salah satu bidang yang diperhatikannya secara serius adalah pembinaan serta pengembangan olahraga di Kabupaten Kupang. Sejak dipercaya sebagai Ketua Umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Kupang, pria kelahiran Kupang, 12 Juni 1969 ini menunjukkan totalitasnya sebagai seorang pemimpin. Tanpa mengabaikan tugas utamanya sebagai Direktur PDAM Tirta Lontar Kabupaten Kupang, dirinya serius menangani berbagai urusan menyangkut altetik di Kabupaten Kupang.

Menurutnya, apa yang dilakukannya bukan semata-mata untuk kepentingan jabatan atau penghabisan anggaran yang sudah ada. Lebih dari itu, suami dari Dewi Marlina Laliani Bolodadi, S.Psi., ini ingin mengembangkan secara sungguh berbagai potensi olehraga yang dimiliki anak-anak di daerah ini. Jika kemampuan anak-anak daerah ini dikembangkan dengan pola pembinaan yang tepat, bukan mustahil mereka akan menunjukkan prestasi di tingkat provinsi bahkan nasional dan internasional.

Baru-baru ini, dirinya mendampingi empat atlet muda dari Kabupaten Kupang yang tergabung dalam kontingen Provinsi NTT untuk mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat (17 – 29 September 2016). Baginya, mendampingi para atlet muda ini bukan hanya melaksanakan tugas sebagai Ketua Umum PASI Kabupaten Kupang, namun merupakan wujud tanggung jawabnya sebagai putera daerah untuk mendukung pembinaan serta peningkatan prestasi olahraga di NTT khususnya di Kabupaten Kupang.

Tidak hanya mendampingi atlet, ayah Enzo F. B. Ottemoesoe ini juga memberi motivasi bagi para atlet dengan manyediakan bonus jika mereka (atlet) meraih prestasi di ajang tingkat nasional tersebut. Baginya, memberikan bonus bagi atlet bukan saja sebagai motivasi tetapi juga sebagai wujud apresiasi atas kerja keras mereka dalam berlatih, menunjukkan prestasi serta mengharumkan nama daerah.

“Khusus untuk atletik, dalam PON Jabar 2016 ini kita akan tanding di Bogor. Sebagai motivasi, saya katakan kepada anak-anak, pemerintah provinsi sudah menyediakan bonus berupa uang tunai dan rumah jika atlet meraih medali. Namun selain itu, kami di tingkat kabupaten juga menyediakan bonus yakni 15 juta untuk atlet yang meriah emas, 10 juta untuk medali perak, serta 5 juta untuk medali perunggu,” tutur mantan dosen Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Malang ini.

Terkait persiapan empat anak asuhnya yang membawa nama NTT di ajang PON XIX Jabar 2016, mantan Kabag Umum & Keuangan Kabupaten Kupang ini menguraikan, persiapan sudah dilakukan sejak enam bulan lalu. Karena itu mendekati hari-H, lanjutnya, persiapan tetap dilakukan namun hanya berupa latihan ringan.
“Kita turunkan volume latihan. Hanya jaga irama begitu. Khusus atletik, kita akan mulai tanding tanggal 22 September 2016 nanti. Lalu soal target, kita harapkan anak-anak bisa meraih hasil seperti tahun kemarin, yakni minimal 1 emas, 2 perak dan 3 perunggu,” jelasnya.  

Disinggung mengenai pembinaan atlet di NTT, mantan Staf Keuangan PDAM Kabupaten Kupang ini mengungkapkan, NTT punya potensi besar namun belum dikelola secara maksimal. Menurutnya, NTT adalah gudang atletik, baik jarak menengah maupun jauh. Terkait hal ini, jelasnya, Kabupaten Kupang dan Kabupaten TTS merupakan dua daerah yang memiliki banyak atlet potensial. Karena itu, pemerintah provinsi perlu memberi perhatian khusus bagi anak-anak di dua daerah ini, sambil tetap menjajaki berbagai potensi yang dimiliki anak-anak NTT di daerah lainnya. 

Sekalipun demikian, Ottemoesoe menekankan bahwa potensi saja belum cukup. Berbagai sentuhan nyata perlu dilakukan pemerintah dalam upaya membina dan mengarahkan potensi anak-anak daerah ini utuk dapat berkembang dan bisa bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.   

“Anak-anak kita punya potensi cukup besar. Tapi itu perlu didukung penuh misalnya lewat berbagai kompetisi. Kompetisi harus terus ada supaya kita bisa dapat bibit. Kita punya banyak bibit itu tapi tidak kelihatan karena tidak ada kompetisi rutin. Saya menilia, BPLT itu pola pembinaan yang bagus. Tinggal nanti harus didukung dengan misalnya fasilitas stadion dan lain-lain,” tegasnya.

Di akhir perbincangan dengan Cakrawala NTT, Ottemoesoe kembali menekankan pandangannya tentang sosok pemimpin ideal yakni pemimpin yang selalu punya visi dan misi yang lahir dari ide-ide brilian. Namun, tegasnya, ide tersebut harus segera diwujudkan dalam tindakan nyata tanpa menunda-menunda waktu.

“Tentunya sesuai dengan kondisi yang ada dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, tapi prinsipnya pemimpin itu harus terus bergerak. Tidak cukup hanya duduk di belakang meja. Dan saya secara pribadi selalu berjuang utuk mewujudkan itu dalam setiap tugas serta kepercayaan yang diberikan kepada saya. Pemimpin harus memberikan totalitas bagi amanah yang ia terima,” tegasnya. (YL/RF

*Sumber: Majalah Pendidikan Cakrawala NTT Edisi 57
comments

No comments:

Post a comment