Latest News

Friday, 31 May 2019

RESAH DAN GELISAH PENDIDIKAN NTT – Melihat Cara Kerja Pendidikan dari Kegiatan Festival Seni


Judul tulisan ini terlintas dalam benak saya ketika memacu 'kuda matic' saya menuju SMA NEGERI 2 Fatuleu, Kabupaten Kupang NTT, tempat dimana saya terlibat sebagai salah satu tim penilai (juri) kegiatan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kabupaten Kupang. Sebenarnya judul ini terganggu dari ulasan menarik nan renyah dari sahabat saya, Gusti Rikarno, Direktur Media Pendidikan Cakrawala NTT, yang selalu intens, bukan hanya memantik tetapi membakar semangat para insan pendidikan NTT, baik dari pemangku kebijakan sampai pada urusan mikro di lingkungan sekolah.

Hebatnya, saya memikirkan topik ini dalam kecepatan tinggi 80 - 100 km/jam, buru-buru, takutnya terlambat sampai tujuan. Syukurnya, tiba tiba terlintas lagu resah dan gelisah; Kisah Kasih di Sekolah, menemani perjalanan saya. Sambil nyanyi-nyanyi, saya terus 'tancap gas'. Tapi, hati saya terus terusik. Saya berpikir, apa urusan saya memikirkan hal pelik ini? Saya siapa? Urusan apa? Eh, tiba tiba di sudut tikungan tajam sebelum hutan Camplong, seorang bocah lugu, berpakaian seragam sekolah, tak bersepatu, berteriak penuh cerah ceria, "selamat pagi pa guru...".

Entah itu kebetulan, ataukah dia tau, ataukah alam pohon besar menjulang tinggi itu membisikkan 'roh' kepadanya bahwa saya adalah seorang guru. Saya sempat bertanya lagi dalam hati, jangan jangan dia belum kerjakan PR-nya sehingga ia terus memikirkan guru (galak) yang memberikan tugas rumah yang mungkin ruwet.

Saya seorang guru. Tapi apa urusannya saya memikirkan ini? Resah dan gelisah memikirkan pendidikan. Bukankah ada pemangku yang lihai menguras, eh... mengurusnya? Sungguh, monolog ini membuat saya menderita. Saya harus butuh teman untuk membicarakan ini. Saya menepi kuda pacu saya, hanya untuk meneguk secangkir kopi di hutan Camplong, tepat di depan area kolam renang yang eksotik. Damai.

Saya benar-benar menemukan teman untuk curhat. Ya, secangkir kopi. Setelah minum kopi, saya yakin bisa monolog dan bisa sepakat pada diri sendiri untuk tidak terlalu mencari 'kambing hitam', apa dan siapa yang membuat resah dan gelisah pendidikan di NTT ini. Mengapa sahabat saya menulis seperti itu. Apakah ia juga ikut resah? Atau hanya gelisah saja?

Berdusta pada Guru

Saya melanjutkan perjalanan. Sungguh senang ketika menyanyikan terus lagu tembang lawas masa SMA, Kisah Kasih di Sekolah. Saya bahagia karena menemukan syair yang aneh, menjadi salah satu penyebab keresahan dunia pendidikan pada umumnya: "Resah dan gelisah, menunggu di sini, di sudut sekolah tempat yang kau janjikan, ingin jumpa denganmu, walau mencuri waktu, berdusta pada guru..."

Entah si Obbie Mesakh dulu sungguh menelaah baik maksud tujuan syair ini. Ataukah ia selalu ikut pelatihan tulis menulis syair lagu yang baik, hingga temukan satu dua keresahan di lingkungan sekolah; selalu mencuri waktu (untuk hal yang tidak berguna) serta berdusta pada guru. Hingga di akhir lagu beliau mengatakan bahwa itu (berdusta pada guru) adalah masa dan kisah kasih paling indah di sekolah. Miris, sungguh aneh, tapi nyata.

Sidang pembaca pasti paham syair ini. Hati saya juga sedikit lega kala menemukan salah satu keresahan ini. Mencuri waktu untuk berdusta pada guru adalah ajaran sesat yang jauh dari spirit pembelajaran karakter jaman sekarang. Begitulah. Hentikan. Ganti Lagu. Mendingan nyanyi lagu Nina Noi saja.

Fatuleu yang Estetis

Estetis itu indah. Salah satu sifat hakiki dari seni adalah estetis. Seni mesti indah. Membahagiakan jiwa dan raga. Kami memasuki cabang menuju SMA NEGERI 2 FATULEU. Hemat saya kurang lebih 5-7 Km dari bibir jalan utama. 1 Km nya jalanan aspal, selebihnya jalan bebatuan lepas. Sungguh indah, damai dan tenang menikmati jalan berlubang, karena di kiri dan kanannya hamparan tanaman kerajinan petani menghias sejauh mata memandang. Panas. Gersang. Tetapi ada kehidupan di sana. Udaranya super adem. Segar. Ah... seakan memecah monolog keriuhan yang menemani perjalanan saya.

Naik turun lembah adalah kekhasan jalanan di kampung. Sungguh, ini sebenarnya keindahan gambaran seni rupa 3 dimensi yang sangat fenomenal. Seakan menghempaskan segala keresahan dan kegelisahan yang ada di otak. Mungkin karena diguncang kuda pacu yang asik melintasi jalan berlubang. Guncangannya sampai otak. Baik juga.  Bergetar. Hehehe...

Kami diterima dengan senyuman dan tatapan hangat. Karakteristik kekhasan orang orang kampung. Jarang ditemui di kota yang katanya besar. Kalau mau lihat hati yang cerah ceria, cukup dilihat dari tatapan dan senyuman hangat mereka. Senyum lepas. Tidak ada kepura-puraan.

SDM Melimpah, Tinggal Olah

Waktu perlombaannya pun dimulai. Antusiasme dari para peserta lomba sangat tinggi. Vocal Solo putra dan putri sebanyak 48 peserta. Gitar solo sebanyak 8 peserta. Tari kreasi berpasangan sebanyak 14 peserta. Puisi dan monolog 17 peserta.

Sebanyak ini, kami menuntaskannya sejak pukul 10:00 wita sampai 20:00 wita. Kami sungguh menikmati. Ada banyak peserta yang mengeluh. Menggerutu. Mengapa lombanya sampai malam. Padahal mereka harus pulang ke tempat asal yang sangat jauh. Sampai ke Amarasi, Amfoang, dan Kupang Barat. Itu ratusan Km jaraknya.

Tiba tiba otak saya kembali resah memikirkan nasib anak anak ini. Datang jauh jauh, pagi pagi buta, pulangnya tengah malam, bahkan esok dinihari baru masuk rumah. Apa kata orang tua nanti? Gara gara lomba saja mereka masuk rumah pagi dini hari hari berikutnya. Ini tidak beres.

Saya mencoba membaca Petunjuk Teknis (Juknis) pelaksanaan yang dibuat kementerian pendidikan dan kebudayaan, untuk level nasional, kegiatannya berlangsung selama seminggu. Disana ada lombanya, ada wisata edukatif, dan juga hiburan lainnya. Nah, mengapa hari ini hanya sehari saja? Padahal bisa dibuat minimal 3 hari. Biar para peserta lomba bisa bahagia menikmati pesta (festival) seni ini. Tidak buru buru. Menggerutu. Sayang...

Dalam keheningan malam, jauh dari keriuhan duniawi, saya menatap langit Fatuleu yang penuh bintang. Ingin bertanya, ini salah siapa? Belum mulai bertanya, saya disuguhkan kopi hitam, katanya untuk menemani malam yang pekat dan sejuk itu. Hitam. Larut. Pahit. Gelap. Remang remang. Bahagia. Sedih. Resah. Gelisah.

Untung saja materi penampilan adik adik peserta lumayan bagus. Yah 20% para peserta menampilkan dengan sangat baik. Potensinya sudah digali. Bagus. Mungkin mereka tidak suka lagu Kisah Kasih di Sekolah. Berat. Biar sidang pembaca saja. 10% pesertanya ada sumber daya, tinggal dikembangkan. Bisa, tapi harus dibiasakan. Sisipkan sedikit ilmu. Aman. Sedangkan sisanya, sayang, belum bisa berlomba, alias hanya ikut serta saja.  Yang penting ada. Lalu saya mencoba mencari 'kambing hitam'.

Tapi berhasil menemukan dalam beberapa catatan, yakni:
1) Jarang pernah adanya seminar atau workshop seni, semacam memberikan pengertian dan pengarahan supaya sepaham tentang berkesenian yang baik dan benar. Supaya sekolah yang juara, jangan juara terus, dan sebaliknya, sekolah yang tidak juara, hanya ikut serta saja. Biar saja. Yang penting ikut. Juara tidak penting. Memang juara tidak penting, tapi kebenaran setiap ilmu itu ada dalam setiap spirit mencari dan mencapai juara. Asalkan spirit yang baik. Jujur. Adil. Ini tugasnya siapa? Pasti sidang pembaca bisa menjawabnya. Biar kita menemukan 'kambing hitam nya'. Jangan hanya mencari. Tapi wajib menemukannya.
2) Penyebaran guru seni (kesenian) yang sesuai dengan kualifikasi akademik belum merata. Sahabat saya, Pak Umbu, kepala sekolah SMA NEGERI 2 Takari, beliau mengisahkan bahwa yang melatih anak anaknya adalah guru Matematika dan Kimia. Sebenarnya siapa saja bisa. Tetapi untuk urusan ilmu, wajib diberikan pada yang benar benar berkualifikasi. Biar nyambung. Nah, ini juga salah siapa? Silahkan temukan.
3) Sarana prasarana penunjang perlombaan juga masih minim. Tidak perlu dicari ini salahnya siapa!

Keresahan dan kegelisahan diatas ditangkis oleh beberapa keunggulan yang ditemukan dalam proses perlombaan ini. Beberapa yang bisa dibagikan, yakni:
1) Kualitas sumber daya manusia masyarakat NTT sudah mumpuni. Tinggal dibimbing dan diarahkan. Nah, selain pendidikan di sekolah, semacam seminar, workshop, atau pelatihan lainnya adalah jalan keluar mengatasi keresahan dan kegelisahan. Tanpa itu, jangan harap bisa berkompetisi dan berkompeten.
2) The right man on the right place. Siswa dibimbing oleh guru yang benar (sesuai kualifikasi akademik). Tanpa itu, sekali lagi, berharap yang wajar saja.
3) Salah satu senjata adalah kesediaan sarana dan prasarana penunjang wajib ada. Ini semacam senjata ampuh untuk berkompetisi di divisi nasional.

Kisah kasih ini adalah sesungguhnya hanyalah catatan (di) kaki. Mungkin semacam sebuah pesan berantai. Tidak punya kepentingan atau tendensi politik ataupun tendensi lainnya. Sesungguhnya, ini hanya cerita peneman kopi Pait dari Waerana yang berhasil mengembalikan stamina saya setelah diobok-obok dan diulik-ulik oleh luhurnya jalan berlubang di perkampungan Fatuleu.

Terimakasih suguhan pengalamannya. Ini sungguh estetis. Mungkin tulisan ini tanpa kesimpulan. Saran saya, sediakan secangkir kopi hitam, seruput, dan simpulkan sendiri sendiri. Jangan hanya mencari, tapi menemukan jauh lebih penting.

Oh ya, tentang kejuaraan juga kami tidak tahu, itu dari sekolah mana. Karena yang dipegang juri hanyalah nomor undian. Nama peserta dan nama sekolah tidak (boleh) dipegang juri. Ada maksudnya? Ya pasti... Marilah berkesian sampai bahagia. Bahagia dalam kebersamaan. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik!

Marianus Seong Ndewi, S.Pd., M.M – Pegiat Seni. Guru Seni Budaya di SMAN 4 Kupang. Aktif di Komunitas Secangkir Kopi Kupang.


comments

No comments:

Post a Comment