Latest News

Friday, 31 May 2019

MENGGAPAI MIMPI MEMBANGUN SEKOLAH BERKUALITAS – Sepenggal Kisah dari Monash University, Australia

Fidelis Sawu (Foto: Dok. Pribadi)
Tak pernah kubayangkan akhirnya datang juga. Sepenggal syair lagu ini mungkin cocok untuk menggambarkan pengalaman yang kualami. Masih kuingat, hari selasa, 29 Januari 2019, aku mendapat kabar dari Ibu Medira Ferayanti, S.S., M.A (Kasi Peningkatan Kompetensi LPPKS) bahwa aku boleh mengikuti program pelatihan guru dan tenaga kependidikan ke luar negeri. Sungguh, bagaikan sebuah mimpi. Perasaanku saat itu tak menentu, antara gembira, kaget dan tidak percaya. Aku sempat ragu akan berita ini tapi kucoba untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan; hingga menjawab pertanyaan dalam bahasa inggris. Walau kurang lancar, tapi tetap berusaha sebisaku. Keraguanku mulai sirna ketika mendapat surat dari LPPKS yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk mendapatkan surat ijin dari sekda propinsi Nusa Tenggara Timur. Semua proses administrasi berjalan lancar.

Persiapan pun dilakukan oleh panitia, dengan melaksanakan pre-departure yang dilaksanakan tanggal 27 Februari s.d 2 Maret 2019. Kegiatan tersebut dibuat untuk mempersiapkan para peserta agar menjadi lebih percaya diri dan siap memahami dan mengikuti pelatihan, mampu berkomunikasi secara aktif dalam mengikuti kegiatan pelatihan dan mampu menyesuaikan diri dengan aturan, norma dan budaya setempat. Mimpi itu menjadi kenyataan tatkala pesawat Royal Brunai mendarat dengan mulus di bandara Melbourne pada hari minggu, 3 Maret 2019. Group LPPKS Australia yang berjumlah 9 orang dihantar ke penginapan Apartemen Campus.

Cuaca yang dingin tidak menyurutkan semangat kami untuk mengenal kampus Monash University. Pukul 15.30 dengan berjalan kaki kami menuju ke kampus yang berjarak sekitar 2 km dari tempat penginapan. Angen dan Farah, mahasiswa yang sementara menempuh pendidikan S2, setia dan sabar menghantar kami dan memberikan penjelasan tentang berbagai hal seputar lingkungan kampus. Kampus begitu luas dan lingkungannya tertata sangat baik. Ada patung pendiri kampus yang bernama Monash menambah rasa kagum kami pada lingkungan Monash University. Malampun tiba kami kembali berjalan kaki menuju ke apartemen.

Hari pertama adalah hari yang penuh tanda tanya. Tepat pukul 9.00 am, kami sudah berada di kampus dan pada pukul 10.00 am kegiatan pembukaan dimulai. Associate Professor Graham Parr menyapa kami dengan ramah. Acara berlangsung singkat namun berkesan. Semua peserta diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri dengan gaya yang menarik. Setiap peserta diminta memilih tiga buah permen berwarna. Setiap warna disiapkan satu pertanyaan seputar pekenalan diri, hoby, makanan kesukaan, lagu kesukaan dan orang yang paling berjasa. Sesi kedua, Dr Melanie Brooks dan Ms Nicola, memaparkan materi Introduction to Australian educational leadership context. Pengelolaan kelas begitu bagus. Meja belajarpun didesain menjadi papan tulis. Setiap kelompok diberikan spidol. Hasil diskusi kelopok ditulis di atas meja kelompok dan dipresentasikan. Kedua narasumber secara kolaborasi mendapingi para peserta dalam memahami materi. Angen dan Fara menjadi tralater yang baik, semakin memudahkan kami untuk memahami materi dengan baik. Mimpiku telah menjadi kenyataan. Aku selalu bermimpi untuk menjadikan sekolah yang kupimpin, SMA Swasta setiawan Nangaroro menjadi sekolah yang berkualitas dalam pembelajaran di kelas. Siswa berkualitas berasal dari guru yang berkualitas serta didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Hari pertama diakhiri dengan learning and teaching building and campus tour.

Pada hari kedua, Dr. Melanie Books dan Ms Nicola Sum kembali dengan penuh semangat mendapingi kami dengan materi Introductional to Captone project. Capstone Project merupakan tagihan yang akan dipresentasikan pada hari terakhir kegiatan tanggal 15 Maret 2019. Capstone Project dikerjakan secara berpasangan berdua dua. Presentasi dibuat dengan mengikuti struktur: 1) Identification of the problem or challenge 2) Possible approaches to address the problem or challenge 3) Implementation plan 4) Potential limitations and how they will be addressed 5) Timeline 6) Projected outcomes.

Hari ketiga merupakan hari yang special yakni shadowing. Dalam Shadowing, setiap peserta hendaknya mengamati beberapa hal yang akan menjadi bahan diskusi bersama yakni: 1) Fasilitas seperti kebersihan, dekorasi, arsitek, penataan ruangan, 2) Teaching and Learning seperti kurikulum, tempat duduk siswa, manajemen kelas, berpikir kritis, 3) Teachers, 4) Technology: pemanfaatan oleh guru dan siswa, 5) Student Engagement: collaborative learning, independent learning dan classroom noise, 6) Inclusion of indigenous and other culture: flags, art, languages, displays. Peserta dibagi dalam kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 4 orang. Group LPPKS bergabung bersama Group GTK. Saya bersama Ibu Yusnaini, Pak Agus dan  Pak Rudy mendapat tempat shadowing di  Caufield Grammar School. Kami diterima dengan sangat baik oleh pihak lembaga yakni kepala kurikulum Bapak Shane Davey.

Pada shadowing ini kami mengalami secara langsung berbagai kegiatan antara lain pertemuan para guru yang membahas tetang penilaian. Pertemuan menggunakan jam istirahat  yang berlangsung sekitar setengah jam. Suasana pertemuan sangat menarik. Setiap guru diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan dalam suasana yang demokratis. Kami juga mengikuti kegiatan apresiasi seni siswa yang senantiasa dilakukan seminggu sekali. Kegiatan tersebut dihadiri oleh semua siswa SMP/midle school serta kepsek dan staf guru. Bakat dan kemampuan siswa benar benar mendapat perhatian.Hari ini aku mendapat pengalaman menarik yakni saling menghargai pendapat dan memberikan perhatian dan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensinya. Pada shadowing pertama, kami belum melihat kondisi pembelajaran di kelas, dan hal itu dijanjikan nanti akan dilaksanakan pada shadowing yang kedua.

Pada tanggal 8 Maret 2019, kami mengikuti kegiatan school visit di Clayton North Primary school. Kami mendapat sambutan yang hangat dari kepala kurikulum. Pada hari ini, para guru sedang mengikuti kegiatan musyawarah guru yang biasa dilakukan 4 kali dalam satu tahun. Kami mengamati semua ruang belajar siswa, tempat berolahraga, ruang seni, osis, ruang orang tua, dapur,ruang bahasa jepang. Pengalaman baru yang kuperoleh adalah siswa SD kelasnya bergabung yakni 1 dan 2, 3 dan 4, serta 5 dan 6. Ruangan kelas didesai dengan sangat menarik. Ada perpustakaan di setiap kelas dan setiap kelas dipajangkan hasil karya siswa. Ada ruang ketrampilan. Siswa secara bergilir mendapat tugas untuk menjaga kantin sekolah dan memasak didampingi guru. Jiwa kewirausahaan sudah mulai dikembangkan di sekolah.

Kegiatan school visit kedua, pada tanggal 12 Maret 2019 di Point Cook College. Pengalaman baru kudapati di tempat ini. Sejak awal masuk ruang tamu, kami antri untuk mengisi data tamu melalui layar monitor. Sekolah yang sangat lengkap dengan ruangan yang tertata sangat indah dan menarik seperti sebuah hotel berbintang. Terdapat laboratorium IPA yang sangat lengkap, Bengkel sepeda, kebun , lapangan olahraga yang luas dengan sarana olahraga yang lengkap. Aku hanya berdecak kagum. Dari segi fasilitas, tidak jauh berbeda dengan Clayton North Primary School dan Caufield Grammar School. Di tempat ini kami dapat mengamati keseluruhan kegiatan pembelajaran dari TK, SD, dan SMP. Pembelajaran begitu menarik dan para siswa sangat aktif mengikuti pembelajaran. Semua siswa memiliki Ipet sebagai media belajar. Pemanfaatan teknologi benar benar efektif dalam pembelajaran. Hal yang saya pelajari di tempat ini adalah budaya antri, pemanfaatan media teknologi dalam pembelajaran, guru yang profesional, manajemen sekolah yang baik, dan siswa yang kompeten.

Kenyataan yang telah kualami rasanya bagai sebuah mimpi. Ada jarak yang sangat jauh berbeda antara sekolahku nun jauh di sana, daerah terpencil NTT dengan yang ada di Australia yang telah kami kunjungi. Dari segi fasilitas, sangat jauh berbeda. SMA Swasta Setiawan Nangaroro   belum memiliki laboratorium Fisika, Kimia, Biologi. Pembelajaran IPA hanya teori saja. Ruangan Kelas yang rusak berat dan banyak lagi fasilitas yang serba terbatas. Dari segi tenaga pendidik, haruslah diakui bahwa pola pembelajaran yang terjadi selama ini adalah teacher center. Hal ini disebabkan oleh kemampuan guru masih perlu dikembangkan. Penguasaan teknologi juga sangat terbatas karena alat teknologi belum mencukupi.

Kenyataan tersebut diatas mendorong saya untuk berjuang menggapai mimpi. Ada banyak potensi yang kami miliki yang dapat digunakan untuk mengatasi kekurangan yang ada. Potensi tersebut antara lain: 1) Minat anak untuk sekolah sangat tinggi, 2) Dukungan orang tua dan masyarakat terhadap pendidikan, 3) Dukungan pemerintah melalui berbagai bantuan seperti dana BOS, beasiswa PIP, 4) Sumber daya manusia (kepala sekolah, guru, pegawai, siswa), 5) Dukungan Yayasan.

Semua potensi tersebut akan dikembangkan dengan maksimal dengan berbagai upaya antara lain: 1) Membangun kemitraan dengan berbagai pihak, 2) Mengadakan berbagai kegiatan IHT, Work Shop untuk meningkatkan SDM, 3) Menata lingkungan sekolah secara baik, 4) Meningkatkan efektifitas kepemimpinan dan manajemen kepala sekolah, 5) Mengubah mind set kepala sekolah, guru dan pegawai, 6) Mengubah iklim kerja yang harmonis, 7) Meningkatkan prestasi belajar peserta didik baik akademik maupun non akademik, 8) Meningkatkan budaya kerja untuk mencapai visi sekolah, 9) Meningkatkan disiplin sekolah.

Dari banyak pengalaman menarik yang kualami selama kegiatan di Monash University, kegiatan Shadowing dan School Visit aku ingin mengembangkan sekolah yang berkualitas dengan mengembangan pembelajaran yang berkualitas. Dari tiga sekolah sekolah yang dikunjungi ada beberapa hal menarik khususnya tentang pembelajaran yakni seting kelas yang menarik, kegiatan pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, penggunaan teknologi dalam pembejaran. Untuk mewujudkan impian tersebut tentu terlebih dahulu dikembangkan beberapa hal yaitu: pertama,  Disiplin. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat penting untuk meraih impian. tanpa disilin impian akan sia sia. Kedua, Lingkungan yang bersih. Dengan lingkungan yang bersih, indah, rapih, membuat kita sehat dan betah untuk belajar. Ketiga, pembelajaran yang berkualitas. Guru yang berkualitas harus terus belajar mengembangkan ilmu pengatahuannya. Guru harus juga menguasai teknologi sebagai pintu masuk untuk memperluas wawasan. Sekolah akan menyelenggarakan berbagai In House Training untuk meningkatkan kompetensi guru. Keempat, kepemimpinan kepala sekolah dan manajemen yang efektif. Supervisi akademis untuk mengembangkan kompetensi guru.

Itulah kiatku sebagai pemimpin yang terus bermimpi untuk mewujudkan impian, menjadikan SMA Swasta Setiawan Nangaroro sebagai sekolah yang berkualitas. Peserta didik yang berkualitas berasal dari guru yang berkualitas. Oleh karena itu, kompetensi guru perlu dikembangkan secara maksimal. Mengikuti program  pelatihan pendidik dan tenaga kependidikan ke Australia bagaikan sebuah mimpi, tapi mimpi itu telah menjadi kenyataan. Kiranya mimpikupun untuk menjadikan sekolah berkualitas dengan meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran juga menjadi sebuah kenyataan.

Fidelis Sawu – Kepala SMA Swasta Setiawan Nangaroro, Kab. Nagekeo

comments

No comments:

Post a Comment