Latest News

Thursday, 20 July 2017

Mengenal (Mengenang) Gerson Poyk, Perintis Sastra NTT

Gerson Poyk ketika menerima penghargaan sebagai Tokoh Sastra NTT (Ende, 2015) Foto: Robert Fahik/Cakrawala NTT
Gerson Poyk adalah sastrawan kelahiran Rote, NTT, 16 Juni 1931. Mantan guru (di Ternate dan Bima) dan wartawan Sinar Harapan ini dikenal lewat berbagai karyanya yang tidak sedikit mengangkat lokalitas NTT.
Mengacu pada hasil penelusuran Yohanes Sehandi (dituangkan dalam buku Sastra Indonesia Warna Daerah NTT), tahun 1961 merupakan awal Gerson Poyk terjun ke dunia publikasi karya sastra. Hal ini terjadi ketika majalah Sastra Edisi Tahun I, Nomor 6, Oktober 1961, memuat cerpen Gerson Poyk berjudul “Mutiara di Tengah Sawah”. Bahkan di tahun yang sama, cerpen tersebut dianugerahi sebagai cerpen terbaik dan mendapat hadiah dari majalah Sastra. Atas alasan ini, Sehandi kemudian menyebut Gerson Poyk sebagai “Perintis Sastra NTT”, karena dialah orang NTT pertama yang menulis dan  mempublikasikan karya sastra di media massa.
Gerson ternyata tidak hanya menjadi orang NTT pertama yang menulis di media massa, melainkan seorang penulis produktif yang menghasilkan begitu banyak karya tulis baik berupa buku puisi, cerpen, novel, maupun karya jurnalistik. Tidak sedikit dari karya-karya tersebut menghantarkannya untuk meraih sejumlah penghargaan. Dari berbagai literatur yang ada, tercatat karya-karya tersebut yakni: Hari-Hari Pertama (1968), Matias Akankari (1972), Sang Guru (novel, 1972), Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Aleksander Rajagukguk (cerpen, Nusa Indah, Ende, 1974), Nostalgia Nusa Tenggara (cerpen, Nusa Indah, Ende, 1975), Jerat (cerpen, Nusa Indah, Ende, 1978), Cumbuan Sabana (novel, Nusa Indah, Ende, 1979), Petualangan Dino (novel anak-anak, Nusa Indah, Ende, 1979), Giring-Giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Seutas Benang Cinta (1982), Requem untuk Seorang Perempuan (1983), La Tirka Tar (1983), Mutiara di Tengah Sawah (cerpen, 1985), Anak Karang (1985), Puber Kedua di Sebuah Teluk (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri (1988), Hanibal (1988), Poti Wolo (1988), Negeri Lintasan Petir (pemenang sastra asean 1989 dan adinegoro 1986), Sang Sutradara dan Wartawati Burung (2009), Keliling Indonesia, dari Era Bung Karno Sampai SBY (2011), Meredam Dendam, Tarian Ombak, Seruling Tulang, Enu Molas di Lembah Lingko, Putra-Putri Gutemberg, Cintaku yang Tulus Khinatimu yang Mulus, Profesor Blo,on. Karya terakhir Gerson Poyk yang diluncurkn yakni buku kumpulan puisinya berjudul Dari Rote ke Iowa, diluncurkan di Galeri Cipta 2, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 25 Juni 2016. Acara peluncuran buku ini digelar sekaligus untuk merayakan Ulang Tahun Gerson Poyk ke-85. 
Selain itu Gerson masih sempat menulis dua buah buku. Pertama, sebuah buku tentang keberagaman agama di Indonesia. Menurut putri pertamanya, Fanny J. Poyk, buku itu ditulis Gerson Poyk sejak November 2016. Selain buku tersebut, ada juga sebuah novel berjudul Terrorism No, Peace Yes. Novel ini sudah selesai ditulis, dan kepada putrinya, Gerson menitipkan pesan untuk melihat lagi catatan kaki yang ada sebelum dterbitkan.
Gerson Poyk tidak saja luar biasa dari segi kuantitas karya tulis. Kualitas tulisan Gerson Poyk tak perlu diragukan lagi. Gerson Poyk pernah meraih hadiah hiburan dari majalah Sastra pada tahun 1962 dengan cerpen “Mutiara di Tengah Sawah”. Cerpennya “Oleng-Kemoleng” mendapat pujian majalah sastra Horison sebagai cerpen yang dinominasi untuk merih hadian majalah itu pada tahun 1968. Tahun 1972 ia menerima Penghargaan Sastra ASEAN untuk novelnya Sang Guru. Tahun 1985 dan 1986 ia berturut-turut memenangkan hadiah Adinegoro atas laporannya di majalah Sarinah, hadiah tertinggi dalam bidang jurnalistik yang diberikan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Tahun 1989 ia mendapat SEA Write Award (Hadiah Sastra Asean) dari Kerajaan Thailand. Ia juga pernah mendapat penghargaan Lifetime Achievement Award dari Harian Kompas untuk kesetiaannya selama puluhan tahun menulis karya sastra (Kaki Langit 133/Januari 2008, dalam majalah sastra Horison edisi Januari 2008). 
Tahun 2011 Gerson juga menerima Anugerah Kebudayaan dari Presiden SBY karena jasa-jasanya di bidang sastra dan budaya. Kemudian tahun 2012 ia mendapat penghargaan NTT Academia Award untuk kategori Sastra dan Humaniora (Sehandi, 2015). Tahun 2015 Gerson Poyk mendapat penghargaan dari Kantor Bahasa Provinsi NTT sebagai Tokoh Sastra NTT Tahun 2015.
Selain menerima berbagai penghargaan di bidang sastra dan jurnalistik, Gerson juga pernah terlibat dalam beberapa kegiatan bertaraf internasional. Akhir tahun 1982, ia diundang untuk mengikuti Konferensi Pengarang Asia-Afrika di India. Sebelumnya pada tahun 1970 – 1971 Gerson menjadi sastrawan pertama dari Indonesia yang mengikuti International Creative Writing Program yang diselenggarakan The University of Iowa, Amerika Serikat. Dua puluh tahun kemudian ia diundang lagi sebagai Internasional Visitor pada program yang sama. 

Gerson Poyk meninggal dunia pada Jumat, 24 Februari 2017 pukul 11.00 di ruang perawatan Nomor 472 RS Hermina Depok, Jawa Barat setelah dirawat sejak 13 Februari 2016. Sebelum dilarikan ke RS, malam hari ia jatuh di kamar mandi dan didiagnosa mengalami stroke. Ia dimakamkan pada 28 Maret 2017 di TPU Fatukoa, Kupang. (Robert Fahik/dari berbagai sumber)

1 comment:

  1. karya beliau yang pertama saya baca adalkah Matias Akankarit....(ada di buku pelajaran SMP)

    ReplyDelete