Latest News

Monday, 15 May 2017

Kedaulatan Pangan di Pulau Semau : Sebuah Pendidikan Pangan dari Sejarah

Sebuah Catatan Perjalanan
Kupang, Cakrawala NTT - Catatan ini adalah sebuah bentuk laporan dari pengalaman dalam mengikuti perjalanan sekelompok penulis, wartawan dan aktivis  yang mengamati ide-ide dari pergerakan untuk menegakkan kedaulatan pangan di beberapa wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada beberapa tempat yang akan dikunjungi dan salah satunya adalah Pulau Semau, sebuah wilayah yang termasuk dalam Kabupaten Kupang, dengan karakter kepulaunnya yang tersendiri, dan cerita tentang pangannya yang juga khas dan tersendiri.

Perkumpulan PIKUL, dengan kampanye  tentang Kedaulatan Pangan yang fokus pada tiga isu besar yaitu: Air, Pangan, dan Energi mengadakan sebuah kegiatan bertajuk Travel and Writing Visit Pulau Semau (TWV). Kegiatan ini secara khusus mengambil lokasi di Pulau Semau. Un Weo salah seorang kordinator pelaksana kegiatan, menjelaskan pada briefing yang dilakukan pada Sabtu, 8/4/2017 di kantor Perkumpulan PIKUL Jalan Cak Doko No.4 Oebobo-Kupang, bahwa kegiatan ini merupakan aktifitas jalan-jalan atau bepergian serta menulis tentang kedaulatan pangan. PIKUL mengajak anak-anak muda, blogger, dan wartawan untuk dalam rentang waktu satu hari, mengunjungi sebuah lokasi dan menulis tentang pentingnya kampanye pangan lokal atau pangan beragam. Briefing tersebut merupakan awal dari aktifitas TWV, dan para peserta yang hadir antara lain, wartawan dari media lokal, 1000 Guru Kupang, Penulis dan Blogger Kupang, serta dari Komunitas Kupang Batanam sebuah gerakan yang secara khusus  berfokus pada pemanfaatan lahan rumah tangga untuk menanam bahan makanan dengan metode-metode sederhana yang praktis dan ekonomis.

Pada pukul 8.30an dengan menggunakan perahu kecil, rombongan menyebrang dari Tenau Kupang menuju Pulau Semau. Perjalanan cukup singkat, tidak lebih dari 20 menit rombongan sampai di pelabuhan rakyat  Onanbatu. Dari lokasi tersebut, perjalanan diteruskan ke desa Uitiuhana yang memakan waktu hampir satu jam. Di desa ini terdapat Klub Pangan Lokal Dalan Mesa yang telah secara aktif dan penuh semangat membudidayakan pangan lokal dan metode pertanian organik.

Camat Semau Utara Jhonny Ukat (Paling kiri) bersama rombongan.
Kunjungan pertama rombongan adalah menuju sebuah lokasi pertanian di Desa Uitiuhana yang dikelola oleh suatu Kelompok Tani. Nama kelompok tani tersebut adalah “Kebun Eden”. Sebagian besar penduduk di Pulau Semau adalah etnis Helong, seperti pula para pengurus di kelompok tani “ Kebun Eden” ini, Wempy dan Aser. Kedua petani ini mengurus “Kebun Eden” dan juga sebagai penggerak dari  Klub Pangan Lokal “ Dalan Mesa”. Klub pangan lokal ini adalah tempat di mana kedua petani ini belajar banyak hal baru. “ Sejak 2014, kami mengikuti bimbingan dari GMI (Geng Motor Imut) dan PIKUL, dan banyak hal baru yang kami pelajari. Khususnya mengenai bertani dengan menggunakan pupuk organik, dan menanam pangan lokal” Tutur Wempy. Rombongan beristirahat di sebuah rumah kecil yang terletak agak di bagian pinggir dari perkebunan. Dalam waktu istirahat itulah, sebagai tuan rumah, Wempy dan Aser bercerita banyak soal seputar kegiatan mereka. Topik yang paling hangat dibicarakan adalah tentang pengembangan pangan lokal.

“Masyarakat di sekitar kita (di Semau) masih menganggap pangan lokal yang kita kembangkan sebagai sesuatu yang aneh, padahal ini adalah sebuah bagian dari kebudayaan sendiri”, Tutur Aser.  Semenjak kegiatan pelatihan yang dimulai di tahun 2014 itu, sejumlah empat belas kelompok tani ikut dalam bimbingan. Berbekal dengan ilmu yang didapatkan dari  pelatihan itu mereka mengembangkan pertanian pekarangan yang menanam jenis tanaman seperti lombok, terong, tomat, semangka, dan pepaya. Hasil-hasil pertanian ini kebanyakan dipakai untuk keperluan makan dalam keluarga mereka sehari-hari. Beberapa hasil pertanian ini pun dipakai untuk mendapatkan barang-barang lain yang tidak mampu mereka hasilkan sendiri, atau yang mereka sebut “Barang Kios”. Hasil pertanian dibarter dengan barang-barang Kios. Dari luas pekarangan pertama yang hanya 25 meter kali 30 meter, kini sudah berkembang sampai 1 Ha. Selain bertanam, mereka juga mengembangkan usaha lain yaitu beternak. Hewan yang dipelihara antara lain ; Kambing, Sapi, Babi, Ayam, serta ikan Lele dan ikan Nila. Salah satu bentuk penerapan ilmu yang dipelajari dalam pendampingan adalah penggunaan kotoran dari hewan peliharaan untuk dijadikan pupuk. “ Orang-orang di sekitar bilang, Wempi ini sudah gila pikul-pikul kotoran ayam ,sapi, dan babi”cerita Wempi yang disambut gelak tawa rombongan. Dengan sistem seperti ini petani mendapat hasil ganda, asupan daging dari tubuh hewan peliharaan dan pupuk dari kotoran-kotorannya.

Hasil yang mereka dapatkan dari pertanian dengan sistem organik sungguh luar biasa. Pada tanaman bawang misalnya, dengan menggunakan metode sebelumnya yaitu pemakaian pupuk kimia, hasil panenan yang tersimpan dapat mengalami penyusutan bobot dari 50 % hingga 75 %. Dengan teknik pertanian organik, penyusutan hanya memakan 1% hingga 5 % dari bobot utama. Bawang organik pun lebih berisi dan lebih tahan terhadap cuaca hujan.

Kisah Pangan Lokal Semau

Usai bercerita di pondok, rombongan beresempatan untuk melihat ladang Sorgum yang diolah oleh salah seorang petani yang juga anggota dari kelompok tani “Kebun Eden”. Kehadiran Sorgum di ladang  milik mereka terlihat agak menyolok, karena hanya di tempat ini saja Sorgum ditanam. Di tengah siang yang panas itu, kami masuk ke ladang Sorgum yang telah tumbu tinggi. Sekilas tanaman ini mirip jagung, tidak heran, di NTT ia dikenal juga dengan nama “Jagung Rote”. Bebijian Sorgum tampak penuh dan lebat menggantung. Hal yang menarik adalah warnanya yang merah kehitaman dan berkilat-kilat. Sorgum Merah, adalah jenis yang dibudidayakan di ladang itu dalam bahasa helongnya;  “Ngae Ina”. Beberapa rekan dalam rombongan dengan tak membuang waktu, langsung mengambil gambar dan bertanya ini-itu kepada pengelola kebun. Di pulau Semau sendiri, Sorgum merupakan salah satu pangan lokal yang mulai ditinggalkan. Seperti halnya Wijen, dan Jewawut, pada tahun 2002 masyarakat mulai meninggalkan Sorgum. Alasannya : beras.

Pondok kelompok tani Kebun Eden.
“Kami berharap dalam lima sampai enam tahun ke depan, kami bisa mandiri secara pangan. Telur ayam tak usah lagi datang dari Kupang. Untuk padi, kami akan kembangkan jenis padi khas Semau, yaitu “Padi Aelbuk dua” yang punya masa panen pendek.” Jelas Wempy bersemangat. Kelompok tani ini mengembangkan pupuk organik lokal yang memakai bahan kotoran burung walet dan daun gewang yang dibakar. Untuk burung walet, memang beberapa lokasi di Semau banyak terdapat jenis hewan ini.

Jhonny Ukat, camat Semau Utara yang berkesempatan untuk menemui rombongan, turut membagi cerita dan pandangan-pandangannya. “ Potensi di Semau mulai terbuka semenjak diadakannya pemekaran pada tahun 2006. Berbagai perkembangan terutama transportasi terus dilakukan. Hingga sekarang ada sedikit kendala misalnya seperti soal bibit untuk bawang merah. Kami beharap pemerintah dapat mempertimbangkan untuk memberikan bantuan bibit kepada tiap kepala keluarga” tuturnya.

Terpinggirkanya Sorgum dan “teman-temannya” di perkuat dengan adanya rasa kurang nyaman bila harus menyajikan pangan lokal kepada pengunjung atau tamu yang datang ke Semau. Hal ini yang diperangi oleh para penggiat pangan lokal ini. Berani tampil di luar kebiasaan, mereka dengan giat dan penuh rasa kebanggaan membudidayakan tanaman ini.

Siang itu, perjalanan dilanjutkan dan kami tiba di rumah seorang pejabat pemerintahan. Samuel Lase, kepala desa Uitiuhtuan, menyambut kami di rumahnya, dan di situ rombongan makan siang dengan lauk Ikan yang segar, hasil dari lautan Semau. Di tempat itu juga rombongan dijadwalkan untuk bertemu dengan seorang penduduk Semau, seorang sepuh, yang darinya akan ada cerita tentang  bencana kelaparan yang mendera pulau tersebut pada tahun 60an dan 70an.

Rawan pangan pernah menimpa pulau Semau, dan Dominggus Sole (66) adalah saksi hidup yang mengalami masa susah itu. Pensiunan guru ini bercerita bahwa penyebab utama rawan pangan adalah masalah kegagalan panen. “ Karena cuaca buruk, hujan yang tak turun maka padi dan jagung gagal panen semua” kisahnya. “Saat itu masyarakat harus, dan mau tak mau mencari sumber makanan yang lain, dan akhirnya mereka harus mengolah tumbuhan-tumbuhan liar. Tumbuhan yang sebenarnya menurut cerita dari nenek moyang dapat dipakai sebagai makanan. Tanaman itu seperti; Botok (Jewawut),Batang Gewang, Putak (Helong: Aken), Kanunak, Buah Lem (bentuknya mirip buah kersen), Mae (yang perlu diolah secara khusus supaya tak menyebabkan gatal saat dikonsumsi), ubi hutan, Engan, dan Tuak”.

Masih dengan kisah rawan pangan yang terngiang-ngiang di kepala kami, kegiatan dilanjutkan dengan berkunjung ke kebun milik kepala desa yang letaknya tak jauh dari situ. Kebun itu cukup luas, dan tedapat beberapa ekor babi yang dipelihara dengan kandang khusus. Kandang ini memliki saluran pembuangan yang bermuara pada saluran pengairan bedeng-bedeng padi, tomat, dan pisang tanah. Warna hijau mendominasi seisi kebun, dan di beberapa sisi kebun terdapat kumpulan Sorgum, dari yang jenisnya Sorgum putih.


Sore menjelang. Sesudah kunjungan ke pantai Liman, salah satu titik wisata yang terkenal di Semau kami kembali ke pelabuhan kecil Onanbatu. Dalam perjalanan pulang menuju Kupang, di atas perahu yang perlahan membelah ombak gelap karena matahari memang sudah lama tenggelam, rombongan diam dalam kepenatan. Kami pulang dengan banyak bawaan. Pepaya dari “Kebun Eden”, dan pohon kecil Kemanggi yang wanginya begitu kuat, dan sesekali daunnya dikunyah untuk memberikan rasa hangat di dalam tubuh. (Armando)
comments

No comments:

Post a Comment