Latest News

Tuesday, 5 April 2016

Senyum di Ujung Luka

Cerpen
Maya Sanu
Siswi SMAN 2 Kupang Timur

Cinta hanya sebuah kata yang membuatku tersenyum. Cinta tak mengenal batas waktu, tak mengenal batasan usia. Yang  tua, muda, bahkan anak-anak dan hanya cintalah yang mampu menembus batas ruang dan waktu. “Berani jatuh cinta, berani pula sakit hati”. Bagaimana dengan aku? Aku pikir sama. Sama seperti mereka yang mengenal cinta, apalagi kini aku tumbuh menjadi seorang remaja, walaupun sedikit lugu. Lugu di mataku sendiri. Ya...aku pikir begitu !!  Tak heran apa yang aku lihat dan aku dengar selama ini dengan mudah percaya begitu saja. Sebenarnya aku percaya dengan ketulusanku hingga akhirnya aku lelah mempercayainya.
 Kata-kata janji, bahkan perlakuan yang begitu manis yang sempat aku nikmati sebagai bukti cinta yang pantas aku peroleh dalam ketulusanku pergi begitu saja, tak tahu kemana, hilang arah, tersisa ketulusanku yang dibalut luka. Aku ingin tahu alasan tapi kenapa engkau bungkam seribu bahasa? Benarkah yang engkau katakan tempo itu di serambi sekolah?Maafkan aku Mitha. Aku tak bisa menganggapmu sebagai pacar lagi, aku takkan mengganggu kehidupanmu lagi”. Farel, benarkah itu? Aku pikir itu  hanya sebagai intermeso di tengah otakku berputar dengan mata pelajaran kimia mengelilingi matahari yang menyengat hingga keringan bercucuran pada wajahku. Mungkin benar, sebab jika kau benar-benar sayang mestinya engkau membasuh keringatku dengan sapu tangan di tanganmu. Entahlah! Yang aku butuhkan alasanmu.
Aku tersiksa dengan ketulusanku mencintaimu, menyanyangi,  walaupun aku baru mengenalmu lima bulan, satu minggu, dua hari tapi aku merasa sudah bertahun kita jalani bersama. Kau telah membuatku jatuh cinta hingga aku sulit bangun dan pergi dari cintamu. Mungkin aku salah mencintaimu, atau kau hanya mempermainkan dan memanfaatkanku demi kepentinganmu sendiri. Engkau pergi dan dengan mudah. Engkau mencampakkan aku begitu saja tanpa perasaan. Aku tak tahu dan hanya engkau yang tahu.
Farel kalau mau jujur, aku mencintaimu tanpa alasan dan tanpa pertanyaan. Tapi aku kecewa dengan sikapmu yang acuh tanpa peduli bagaimana dengan perasaan ini yang seakan berada di tengah hutan rimba dan tak tahu jalan pulang dan berpaling dari cintamu. Okelah, jika ini keputusanmu maka tanpa alasan pun aku berlahan melupakanmu walaupun sebenarnya  aku tak mampu.
“Aku terluka”
Haruskah aku selalu dalam genggaman perasaan yang tak menentu? Tidak!! Cinta bukanlah akhir dari segalanya namun awal dari pendewasaan, dimana aku mencari jatih diri yang sebenarnya agar menjadi wanita yang tegar, sabar dan penyanyang bagi yang berhak aku cintai. Masa lalu adalah pelajaran untuk menggapai masa depan yang lebih baik dari hari kemarin. Bukankah demikian? 
Luka telah menyayati hati yang tulus mencintai, kini terobati dengan senyuman yang tulus dengan kehadiran seorang  pria sederhana, perhatian, mencintaiku apa adanya bukan ada apanya . Walaupun baru  dua bulan paling tidak bisa membuatku tersenyum di ujung luka yang tersisa. Aku tersenyum. Aku harus belajar. Esok pagi aku harus ke sekolah lagi, demi cita – cita yang ku gantungkan setinggi langit . Termakasih Tuhan, terimakasih cinta. “Love You God Always and Ever.”(*)

Sumber: Majalah Cakrawala NTT Edisi 46


comments

No comments:

Post a Comment