Latest News

Saturday, 12 March 2016

SENYUMAN UNTUK IBU

Muthmainnatun Nurkhikmah
(Siswi SMPN 1 Lewa, Sumba Timur)

Kriiiinnggg….!!!
Bel panjang penanda berakhirnya sekolah untuk hari ini berbunyi. Tidak seperti biasanya, aku menyambut bel ini dengan lesu. “Haruskah aku pulang...? ”sungutku dalam hati. Hari ini aku malas pulang ke rumah, aku malas bertemu ibu. Ibu yang belakangan ini sering memarahiku. Ibu yang dulu menjadi tokoh idolaku berubah drastis saat ini. Seperti pagi tadi ketika adikku menumpahkan susu di meja makan. Bayangkan saja  adikku yang menumpahkannya tapi aku yang diomelin. Alasannya sih klasik “kamu tidak menjaga dengan baik adik kamu.” Bahkan alasan wajahku cemberut karena tidak suka mendapat omelin ini, aku kehilangan uang jajan selama seminggu. Lihat, betapa jahatnya ibuku.
Tapi siang itu mau tidak mau aku harus pulang. Jika telat lima menit saja aku sampai di rumah, bisa-bisa uang jajan bulananku hilang. Ihhh… membayangkannya saja sudah mengerikan, apalagi kalau sampai terjadi. Wahhh.. pupus sudah harapanku untuk membeli sepeda baru.

Dalam suasana batin yang kacau aku pun berjalan pulang. Ketika sampai dipertigaan jalan mataku sejenak mengarahkan sebuah tatapan lurus pada temanku Rara yang kebetulan berpapasan. Di tangannya ia membawa seikat bunga melati. Ada apa ya dengan Rara? Untuk apa dengan bunga melati itu? “tanyaku dalam hati. Aku jadi penasaran dan mau bertanya langsung. “Mau ke mana Ra?” sapaku ramah. “Mau jenguk ibuku Ti. Ibuku sakit dan sekarang terbaring di rumah sakit, “jawabnya sembari menghampiriku. “Kok kamu baru pulang?” tanya Rara dengan keheranan karena melihatku yang masih berseragam lengkap. Mendengar pertanyaannya yang penuh keheranan, aku hanya cuma mengangguk pelan sambil tersenyum malu. “Ibu sakit apa Ra? Boleh ya aku nemani kamu menjenguk ibumu? “pintaku penuh pengharapan. Mendengar suaraku Rara hanya tertunduk dan mengangguk pelan. Dari sekilas tatapan aku melihat ada kesedihan mendalam yang dialami Rara. Sepertinya ibunya adalah sosok pribadi yang sangat dicintainya. “Ibu kamu orangnya kayak gimana Ra? “tanya ku mencari tahu. Dengan suara agak serak-serak basah Rara menceritakan siapa ibunya. “Ibuku orang pendiam tetapi lemah lembut dan sangat dikagumi orang-orang yang sudah kenal dengannya. Tidak hanya bijaksana, ibuku juga orangnya yang sangat sabar dan penuh keibuan. Aku sangat sangat sayang padanya. Saat ini aku sangat merindukan kehadirannya.  Aku sangat merindukan suaranya.” Mendengar curhatan Rara aku cuma terdiam sembari membandingkan sosok ibuku.  Pasti asyik punya ibu pendiam, tidak bawel seperti ibuku. Ahh.. aku seakan tidak bersyukur sama sekali. Tapi aku merasa janggal dengan apa yang dikatakan Rara terakhir kali merindukan suara ibunya?
“Jika kamu rindu suara ibumu, kamu kan bisa menyuruh ibumu berbicara”
Rara hanya diam. Mendung dapat kutangkap dari wajah manisnya. Aku jadi merasa bersalah.
“Maafkan aku jika aku berbicara menyinggungmu Rara.”
Rara tersenyum dan menggeleng. Aku terkejut saat Rara menuntunku menuju Tempat Pemakaman Umum. “Kita mau kemana Ra?” tanyaku panik.
“Katanya mau jenguk ibuku ya di sini tempatnya”.
Langkah kami terhenti di sebuah batu nisan bernamakan Raranty Salsabilah binti Ibnu Salim.
“Ini tempat peristirahatan ibuku. Di tempat inilah ku setiap hari datang dengan seikat melati. Di sini tempat aku melepas rindu pada ibuku. Di sini kugenggam lonceng kecil ibuku dan kubunyikan jika aku merindukan suara ibuku,” kata Rara sambil meletakkan bunga melati di dekat nisan ibunya.
“Ibu.. I  miss you,” bisiknya pelan. Aku serasa kaku, tubuhku tak bisa digerakkan. Tapi satu yang kupikirkan pulang ke rumah sekarang dan memeluk ibuku yang bawel. Selagi masih ada kesempatan akan kuberikan senyuman terbaikku untuk ibuku sekarang, besok dan selamanya. Dan aku tak ingin lagi punya ibu yang pendiam.

Hikmah yang dapat dipetik dari cerpen ini:
-       Berikanlah yang terbaik untuk ibumu, selagi kamu masih punya kesempatan
-       Sebesar apapun bencimu pada ibumu, kamu tentu tetap akan merasa takut jika kehilangan ibumu

-  Ibu yang telah Tuhan kirimkan padamu adalah ibu yang terbaik, jangan pernah menyesal mempunyai ibu yang tidak sesuai denganmu. (*)
Sumber: Majalah Cakrawala  NTT edisi 43
comments

No comments:

Post a Comment