Latest News

Thursday, 31 March 2016

PERCERAIAN KITA

Cerpen

Ricko W.
Peminat Sastra tinggal di Ledalero-Maumere


“Sewaktu-waktu kita juga perlu berdiri dan berteriak di hadapan Tuhan atas kemalangan yang kita alami. Kita tidak harus selalu berlutut dan menunduk di hadapan-Nya. Kita perlu menggugat.”
Paul berdiri di hadapan Tuan Pastor yang dari tadi menasihati mereka untuk selalu berdoa dan berpasrah pada kehendak Tuhan.
Tuan pastor itu tercengang. Kata-kata Paul membuat suasana katekese malam itu menjadi tegang. Paul seolah ingin menantang Tuan Pastor berargumentasi. Tetapi tidak.Tuan Pastor tenang dan berusaha memahami kata-kata Paul. “Kenapa bapak katakan demikian, mungkin bapak punya pengalaman yang bisa diceritakan?”
Wajahnya memerah, tiba-tiba saja air mata menetes di pipinya. Dengan suaranya yang terserak-serak ia memulai.
            Apabila Tuhan mencintai saya, kenapa dia harus memisahkan saya dari orang-orang yang saya cintai. Dia mengambil Maria setelah ia melahirkan anak pertama saya. Kemudian saya menikah lagi dan dalam sebuah perjalanan menuju sebuah kota, istri kedua saya yang juga sedang mengandung, mengalami kecelakaan dan pergi untuk selamanya bersama janin di dalam rahimnya.
            Terkutukkah saya sehingga setiap orang yang saya cintai harus pergi? Sekarang semua orang di kampung termasuk keluarga saya sendiri menganggap saya pembawa sial; dan tak ada yang mendekati saya. Lihat malam ini. Mereka menatap saya dengan penuh hina. Ada jijik di mata mereka. Tatapan itu untuk seorang penjahat. Dan saya buka penjahat.
Saya tidak punya siapa-siapa lagi. Bahkan Tuhan sekalipun.
            Suara Paul terserak-serak menenggelamkan kata-kata yang ingin diucapkannya. Kesedihannya yang luar biasa sekarang merambat dalam hati Tuan Pastor dan seluruh umat yang hadir.
Tuan pastor mendekati Paul dan menenangkannya. “Sekarang apa yang kamu mau perbuat, Paul?”
            “Sekarang?”, ia menatap tajam wajah Tuan Pastor.
            “Sekarang.... saya harus berbuat apa. Saya sekarang harus mencintai.”
            Tuan pastor mengerutkan dahinya. Beberapa orang umat yang hadir juga tampak keheranan. Ia mengencangkan ototnya, dikancingkan giginya sehingga makin melebarkan rahangnya. Tatapan matanya tajam ke bawah. Wajahnya yang memerah berubah jadi pucat. Tampak otot-otot tubuhnya menjalar hingga ke jari-jari tangannya yang dikepalkannya. Badannya mulai meriang. Tarikkan napasnya yang tersengal-sengal terdengar dalam hening. Ia sedang dalam amarah, mungkin.
Tuan pastor mencoba memahami. Ia tahu Paul sudah lama bercerai.
Ia sudah lama bercerai dengan Tuhan.
Dia yang dulunya rajin ke gereja setiap hari, kini sudah bertahun-tahun tak menampakkan batang hidungnya di pojok gereja, tempat kesukaannya.
Menurut orang sekampung, sejak kematian istri keduanya itu ia sering menghilang dan lari ke hutan. Berbulan-bulan ia di hutan dan sesekali baru ia masuk kampung hanya untuk sekedar memastikan kalau kerabat-kerabatnya masih menganggapnya sebagai orang waras. Tetapi percuma, dengan penampilannya yang lusuh, berewok tebal, dan rambut yang urak-urakan ditambah emosinya yang tak terkontrol, ia masih dianggap tak waras.
Tuan Pastor tahu tentang semua itu.
            “Tuan Pastor, bisakah saya mencintai?” Suaranya nyaris tak terdengar lagi. Sambil mengangguk senyum Tuan Pastor kembali mendekatinya.
            “Kau dicintai Tuhan dan kau pun berhak untuk mencintai siapa saja di bumi ini.”
Sedetik kemudian.
Paul memelototi Tuan Pastor seperti ingin menghajarnya dengan kepalan tangannya. Umat yang hadir semakin panik, mereka panik kalau-kalau ia benar-benar menyentuh Tuan Pastor mereka.
Tuan Pastor tetap tenang.
            “Saya masih dicintai Tuhan? Ha, saya dicintai. Ini mustahil. Saya dicintai! Hai, dengar saya dicintai.” Paul setengah berteriak, menambah panik semua yang hadir.
            “Kalau begitu buktikan, Tuan Pastor. Buktikan kalau saya benar-banar dicintai.”
Ia meradang. Ia tak percaya dengan cinta.
            “Buktikan. Ayo!”
Tuan pastor masih diam.
Tidak bisa. Ha...Tuan tidak bisa buktikan kalau saya dicintai Tuhan? Tidak bisa? Kalau bisa buktikan, kalau tidak bisa biar saya yang membuktikannya.
            “Kau masih hidup, nak. Itulah bukti kau dicintai. Dan kami di sini juga bukti kalau kau dicintai Tuhan.”
            “Sesederhana itukah mencintai. Begitu mudahnya. Berarti istri saya tidak dicintai Tuhan sehingga mereka harus mati dengan tragis. Apakah Tuhan ingin kami bercerai? Tentu, itu bukan urusan-Nya.”
Tuan pastor berusaha menjelaskan tetapi segera dicegatnya. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu, dan sejurus kemudian menoleh,
            “Saya ingin mencintai Tuhan sama seperti saya mencintai istri saya, supaya kalau Dia juga mati, timbul kepercayaan dalam diri saya. Dia ada dan saya percaya, “katanya sambil menepuk-nepukan kepalan tangannya di dada,”
Melalui pintu, Paul keluar.
Dan sebulan kemudian ia masuk dalam wujud yang lain.
Di hadapan wujud yang lain itu, Tuan Pastor berkotbah: karena cinta kita bercerai dan karena cinta pula kita dipersatukan.

Ledalero, 2014
Sumber: Majalah Cakrawala NTT edisi 45
comments

No comments:

Post a Comment