Latest News

Saturday, 12 March 2016

IBU

Elisabeth Elensia, Siswi SMAN Bola, Maumere. 

Indahnya bulan purnama tak seindah cinta dan kasih sayang seorang ibu. Ibu sering menghabiskan waktu bersamaku. Mengalami suka dan duka hidup yang muncul silih berganti. Ibu tercinta bagaikan malekat perkasa yang selalu ada setiap waktu.
Saat aku merasa kesepian, ibu hadir bagaikan pelangi dengan sejuta kebahagiaan. Ketika sakit menggerogoti tubuhku, di sana ia ada untuk merawat aku. Kasih dan sayangnya sungguh tak pernah habis walaupun terkadang aku membuatnya terluka. Bahkan ia sempat menjatuhkan air mata karena ulah dan perilakuku. Tapi ibu, tetaplah yang terbaik bagiku. 
Masih teringat dalam benakku pengalaman penuh arti bersama ibu. Waktu itu aku masih kecil. Kami tinggal di mess. Kebanyakan waktu kami lalui tanpa bapak. Bukan karena bapak pergi meninggalkan kami. Tapi karena tempat kerjanya yang cukup jauh sehingga tidak bisa setiap waktu ada bersama kami.
Waktu itu aku sering sakit. Rumah sakit nampaknya seperti rumah kedua bagiku. Pasalnya, hampir setiap bulan ibu mengantarkan aku untuk berobat. Pernah juga seorang suster berkomentar lepas kepada ibu. “Ibu, anak ini tidak di kasi makan ko sehingga datang berobat terus!”. Ibu kelihatannya hampir menangis saat mendengar komentar itu. Tapi tidak. Ibu nampak tegar. Ia berusaha menahan air mata. Ia tidak mau rasa sakit yang merasuki dirinya diketahui orang lain termasuk aku.
Dengan tenang tapi pasti ibu tersenyum kepada suster yang sempat berkomentar. Kemudian dengan suara serak ibu coba memberi penjelasan seadanya. “Anak saya memang kondisinya lemah. Tapi  sungguh dia adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan untuk saya.”
Mendengar jawaban ibu, aku yang saat itu bersama ibu, hampir menangis. Tak pernah kubayangkan betapa besar kasih  seorang ibu. Kondisiku yang terus-menerus sakit tidak pernah mengurangi rasa cintanya terhadap aku. Apa pun kondisi yang aku alami, tetap saja ibu melihat aku sebagai anugerah istimewah dari sang pencipta.
Kasih ibu yang luar biasa terhadap aku tidak hanya nampak jelas saat aku sakit. Tapi nampak juga dalam situasi yang sebaliknya. Ketika aku sedang senang dan gembira, di sana perhatian dan cinta tak pernah luntur.  “Puji Tuhan! Puji Tuhan!”, itulah ungkapan batin yang selalu beregetar dalam jiwa ibuku.
Aku masih ingat peristiwa luar biasa yang aku alami bersama ibu. Waktu itu, aku duduk di kelas tujuh SLTP. Aku sekolah  ditempat ibuku mengajar. Ibuku mengajar mata pelajaran biologi.
Saat itu, aku selalu menjadi kebanggaan bagi ibu. Mulai dari mid semester 1, aku selalu menjadi yang terbaik di kelasku. Bahkan selama kelasVII aku mendapat peringkat satu. Para guru selalu memberikan pujian. “Apakah karena ibuku adalah guru di sekolah itu sehingga pujian bertubi-tubi ditujukan untukku?”. Pertanyaan seperti itu selalu terlintas dalam diriku. Tapi tidak.  Sekali lagi tidak. Aku adalah pribadi istimewa yang selalu menjadi kebanggaan ibuku dan juga sesama.
Aku juga masih ingat betul ketika aku duduk di kelas VIII. Karena keberhasilanku di kelas VII, saat kelas VIII aku diposisikan di kelas inti. Saat itu kelas initinya adalah kelas VIII B. Aku sungguh amat bangga dengan diriku. Namun rasa bangga itu tidak pernah membuat aku sombong atau bahkan menganggap diri paling luar biasa. Sebaliknya aku semakin ditantang untuk rendah hati dan terus mengasah diri.
Saat berada di kelas VIII semester 1, aku bersama dua orang teman dipilih untuk mewakili sekolah dalam lomba CCA biologi. Yang luar biasanya lagi, dalam lomba itu sekolah kami mendapat juara satu. Timku berhasil mengalahkan lawan-lawan tangguh dari sekolah lain. Jujur saja aku sangat bangga dengan keberhasilan yang diperoleh.
Namun bagiku, keberhasilan yang diperoleh adalah keberhasilan bersama. Tidak hanya keberhasilan aku bersama kedua temanku. Tapi juga keberhasiln guru pembimbing yang setia memberikan pendampingan. Lebih dari itu adalah keberhasilan sekolah yang memberikan kesempatan untuk aku dan kedua temanku tampil dalam perlombaan.
Rasa bangga yang aku alami tidak pernah terlupakan. Apalagi selang satu hari sesudah perlombaan itu, aku mendapat hadiah istimewah dari ibuku. Tak kusangka-sangka ibuku memberikan hadiah sebuah handphone. “Trima kasih nak untuk prestasi yang telah engkau tunjukkan. Ibu bangga mempunyai buah hati sepertimu,”demikian kata-kata ibu setelah memberikan hadiah untukku.
Pengalaman demi pengalaman yang telah aku rajut bersama ibu kini tinggal kenangan. Kebersamaan fisik antara aku dan ibu telah menjadi titik finish. Waktu yang sudah memberi kemungkinan untuk memulai kini hadir mengakhiri segalanya.
Tak pernah aku bayangkan, hari itu menjadi hari terakhir dari sebuah kebersamaan antara aku dan ibu. Malekat maut tiba-tiba datang memisahkan kami. Rasanya aku tidak mampu menghadapinya . Aku merasa dunia sepertinya gelap gulita.
Derai tangis dan air mata mengiringi kepergiannya. Rasa kehilangan pelan-pelan meggerogoti tubuhku. “Mampukah aku hidup tanpa kehadiran seorang ibu?”pikirku saat itu. Membayangkan saja rasanya tidak mampu apalagi mengalaminya. Sungguh pedih rasanya.
Aku kemudian membayangkan betapa kerasnya kehidupan ini. Tapi apa daya. Roda waktu tidak bisa diputar ulang. Pengalaman bersama ibu tidak akan pernah kembali lagi. Kerinduaan untuk bersama ibu, tinggallah kerinduan.

Ingin rasanya aku naik ke tangga surga untuk melepaskan rindu. Tapi itu cumalah khayalan. Dunia sudah jadi nyata saat ini. Ibu telah tiada. Hanya satu yang paling pasti, doaku buat ibu. Semoga surga menjadi rumah kediamanya. (*)

 Sumber: Majalah Cakrawala  NTT edisi 43
comments

No comments:

Post a Comment